Satu lagi bangunan purbakala di kabupaten Kebumen terungkap. Sebuah punden batu yang dikenal warga sebagai Punden Masigit berada di dukuh Kedung dalem Desa kretek Kec. Rawakele – Kebumen. Sejak kapan keberadaaan punden tersebut belum diketahui. Masyarakat sekitar hanya mengenal bahwa Punden Masigit pernah menjadi tempat peristirahatan Pangeran Dipanegara ketika memimpin Perang Jawa di daerah ini. Dalam kajian arkeologi, Punden Masigit dimungkinkan berasal dari masa pra Hindu dan Budha. Bangunan ini adalah bangun asli jawa yang memiliki fungsi sebagai tempat kegiatan ritual.

Seperti lazimnya, punden terdiri dari tiga bagian, dimana bagian teratas merupakan tempat paling sakral. Para tokoh dan sesepuh berada di tempat ini ketika ritual. Bagian kedua semi sakral, berada di tengah. Tumpeng dan berbagai piranti acara ritual ditempatkan di tempat ini. Adapun bagian paling bawah disebut Jaban yang berfungsi sebagai Profan. Para warga yang mengikuti upacara ritual duduk berkumpul di sini.

Punden Masigit tersusun dari batuan alami membentuk persegi dengan tiga tingkatan. Jalan masuk menuju dari arah timur. Bangunan ini dikelilingi sungai. Sementara di sebelah barat terdapat bukit yang dinamakan Anggareksa.

Berdasarkan toponim tempat, anggareksa memiliki makna sebagai berikut:
angga bermakna badan, reksa bermakna menjaga. Secara keseluruhan anggareksa bermakna memohon keselamatan hidup. Dikaitkan dengan keberadaan Punden Masigit kemungkinan besar fungsinya sebagai tempat ritual memohon kepada sang pencipta atas keselamatan warga setempat di masa lalu. Dari temuan artefak lain di sekitar lokasi, berupa watu lumpang, diduga kuat daerah tersebut merupakan bekas perkampungan kuno.

Peta Anggareksa, dan Kedung Boender sekarang masuk wilayah Desa Kretek, Rowokele - Kebumen, peta kolonial 1857.
Peta Anggareksa, dan Kedung Boender sekarang masuk wilayah Desa Kretek, Rowokele – Kebumen, peta kolonial 1857.

 

Punden sejenis juga ditemukan di beberapa daerah lain seperti di Baturaden dimana punden menghadap Gunung Slamet dan punden di daerah Pemalang yang menghadap Pegunungan Dieng.

Hingga saat ini Punden Masigit masih berfungsi sebagai tempat upacara adat masyarakat setempat, dimana setiap bulan Rajab diadakan penyembelihan kambing untuk dimasak dan dimakan bersama sama di tempat tersebut setelah doa bersama.

Menurut Sofwan Noerwidi, putra Kebumen yang kini menjadi Peneliti di Balai Arkeologi (BALAR ) DIY menyatakan bahwa situs Punden Masigit seharusnya masuk dalam data potensi purbakala Kebumen.

 

Kebumen – Minggu Pahing, 23 September 2017
Oleh: Ravie Ananda

https://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2017/09/punden-masigit-dukuh-kedung-dalem-kretek-rowokele-kebumen-2.jpghttps://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2017/09/punden-masigit-dukuh-kedung-dalem-kretek-rowokele-kebumen-2-140x140.jpgAnanda. RSejarahcatatan sejarah kebumen,Perang Dipanegara di Kabupaten Kebumen,sejarah,Sisi Gelap Sejarah KebumenSatu lagi bangunan purbakala di kabupaten Kebumen terungkap. Sebuah punden batu yang dikenal warga sebagai Punden Masigit berada di dukuh Kedung dalem Desa kretek Kec. Rawakele - Kebumen. Sejak kapan keberadaaan punden tersebut belum diketahui. Masyarakat sekitar hanya mengenal bahwa Punden Masigit pernah menjadi tempat peristirahatan Pangeran Dipanegara ketika...Kembalinya jati diri Bangsa Indonesia yang berpancasila