Tidak banyak masyarakat “Panjer” yang kini berubah nama menjadi Kabupaten Kebumen mengenal kisah kepahlawanan “Banaspati Djajamenggala” (lebih dikenal dengan nama Mbah Jamenggala). Tokoh lokal ini adalah salah satu panglima pada masa Perang Dipanegara (1825 – 1830) di wilayah Bagelen Barat selain:

  • Sandrageni (lebih dikenal dengan nama Brajageni; makam di wilayah Sadang – Karangsambung),
  • Banyak Wedi (lebih dikenal dengan nama Banyak Wide; makam di Pekuncen Gombong),
  • Kertadrana (Adipati Sigaluh; makam di bukit “Sipakoh” Binangun – Karanggayam),
  • Ki Hajar Welaran (makam di Gunung Paras Karangsambung),
  • Gamawijaya (makam di pasar Bocor),
  • Iman Adi (makam di Pesucen), dan
  • Kelapakeling (lebih dikenal dengan nama Kolopaking).

 

Menurut Folklore masyarakat Kebumen dalam “Dongeng Karangsambung; 1982” yang kemudian disadur menjadi “Sejarah Dinasti KRAT Kolopaking; 1997” pasca tertangkapnya Pangeran Dipanegara dalam perundingan di Magelang, Prajurit Panjer masih melakukan perlawanan hingga terbunuhnya pemimpin Panjer “Kelapakeling/ Kalapaking” dalam sebuah pertempuran dan pengepungan di Kotaraja tersebut (kini menjadi kompleks Stasiun Kebumen, Makodim 0709/Kebumen, Suiker Fabrieken, Zending Panjoeroeng Hospital dan NV. Oliefabrieken Insulinde Keboemen – Mexolie – Nabatiyasa – Sarinabati). Para Panglima yang selamat kemudian meneruskan perlawanan dengan membuat markas pemerintahan darurat Panjer di Baniara – Karangsambung (kini dikenal dengan kompleks makam Panjer).

Jamenggala dan Gamawijaya sering melakukan perang gerilya dan sabotase di kotaraja Panjer yang saat itu telah dikuasai Belanda. Dikisahkan bahwa rute perang gerilya dari utara ke selatan menyusuri sungai Lukula dan masuk Kotaraja Panjer melalui belakang masjid (kini menjadi Masjid Darussalam Kelurahan Kebumen; dibangun oleh Sunan Geseng dan Singapatra pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma). Gamawijaya terbunuh oleh Kolektur Mangunprawira di Bocor. Sedangkan Jamenggala terbunuh di pohon Beringin (kini berada di tengah alun – alun Kebumen).

 

Dalam catatan perang kolonial “De Java Oorlog” Jamenggala disebut sebagai “Brandals” yang memimpin pertempuran – pertempuran sengit melawan pasukan Belanda dari Legiun Mangkunegaran (pasukan elit Pangeran Sambernyawa/Mangkunegara yang dijuluki Legiun Napoleon dari Jawa; banyak komandannya berkebangsaan Prancis) di wilayah Panjer saat itu. Jamenggala sangat sulit dikalahkan bahkan seringkali pasukan Belanda mengalami kekalahan dan kehilangan banyak prajurit maupun persenjataan.

 

Kematian Jamenggala di Pohon Beringin ternyata tidak hanya dikenal dalam cerita masyarakat Kebumen saja. Bahkan dalam “Fastes de Militaires” sebuah buku rangkuman berbahasa Prancis yang berisi catatan perang Jawa ditulis secara jelas akhir kematian Jayamenggala dalam pertempuran yang sangat luar biasa. Jayamenggala dikepung oleh pasukan Legiun Mangkunegara pimpinan Suryadenta. Ia berada di atas pohon beringin yang sangat rimbun, bertempur bagai elang, dibrondong dihujani peluru api dan batu meriam hingga tubuhnya hancur tercabik – cabik tak berbentuk.

 

Catatan peristiwa ini sangat penting bagi pelurusan sejarah sosok Jamenggala khususnya di Kebumen karena cerita dan babad – babad lokal yang ada menuliskan bahwa Banaspati Jayamenggala dihukum gantung di pohon beringin alun – alun Kebumen. Bahkan ada pula yang menuliskan sosok Jamenggala sebagai tukang “Ngadusi Jaran” (memandikan Kuda) milik Tumenggung Arungbinang yang pada suatu saat menemukan “Slungsuman Ula” (sisa kulit ular) kemudian menyebabkan ia hilang tak terlihat “Hanyiluman”. Lebih tragis lagi banyak masyarakat Kebumen yang mengenal sosok Jamenggala sebagai Jin penguasa alun – alun Kebumen, sehingga ketika kebetulan ada fenomena orang kerasukan/kesurupan di sekitaran kota Kebumen, latah masyarakat menyalahkan sosok Jamenggala dengan kalimat “ Ketempelan Mbah Jamenggala”.

 

Hanya satu penghargaan yang itu pun sangat belum sepadan dengan kepahlawanan Jamenggala untuk bumi pertiwi ini. Sebuah nama “Gang Jamenggala” yang kini berubah menjadi “ Jalan Jamenggala Buntu”

 

Mbah Jamenggala
Maafkan kami yang selama ini menganggapmu sebagai Jin penunggu Wringin alun – alun
Juga sebagai tukang ngadusi Jaran
Pun juga penunggu Kali Krasak
 
Mbah Jamenggala
Maafkan kami yang selama ini merendahkanmu
Membuat cerita ironi tentangmu
Mengebumikan Kegagahanmu
Elang Jawa dari Panjer
Hancur tercabik
Brondongan hujan Api dan Batu
Sang Napoleon Jawa
 
Mbah Jamenggala
Namamu selalu terpatri
Meski hanya sebuah tiang
Menghias lorong buntu
Belasan langkah kecil dalam “Gang Jamenggala”

 

Ravie Ananda
Selasa legi, 7 Maret 2017

**Nyatakake Dawuh Sasmitamu, Selasa legi, 26 September 2006.

https://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2017/03/jamenggala-sang-heroik-panjer.jpghttps://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2017/03/jamenggala-sang-heroik-panjer-140x140.jpgAnanda. RSejarahcatatan sejarah kebumen,Jamenggala,Perang Dipanegara di Kabupaten Kebumen,Sisi Gelap Sejarah Kebumen,Tokoh Asli Panjer KebumenTidak banyak masyarakat “Panjer” yang kini berubah nama menjadi Kabupaten Kebumen mengenal kisah kepahlawanan “Banaspati Djajamenggala” (lebih dikenal dengan nama Mbah Jamenggala). Tokoh lokal ini adalah salah satu panglima pada masa Perang Dipanegara (1825 – 1830) di wilayah Bagelen Barat selain: Sandrageni (lebih dikenal dengan nama Brajageni; makam di...Kembalinya jati diri Bangsa Indonesia yang berpancasila