Kyai Kramaleksana dalam Sejarah Nama Sebuah Jalan

Meski telah diabadikan sebagai nama sebuah jalan di wilayah Panjer dan Selang, sosok dan sejarah Kyai Kramaleksana masih asing dalam pengetahuan generasi muda Kebumen khususnya. Kramaleksana dan Mbah Banyumudal yang merupakan tokoh besar dari daerah setempat tertutup oleh tokoh Ibrahim Asmoro Kondi yang secara logika historis sangat lemah keberadaannya di wilayah tersebut terlebih sejarahnya baru dimunculkan pada sekitar awal tahun 2000 an dalam rangka geliat politik lokal pada masa itu. Hal ini tentunya sangat disayangkan terlebih ketika pemahaman akan sejarah cikal bakal menjadi satu hal pokok penentu hidupnya kearifan budaya lokal yang sangat mempengaruhi pembentukan karakter generasi sebuah daerah.
Desa Selang berbatasan dengan desa Panjer di sebelah Barat. Di desa yang kini telah menjadi kelurahan ini, jauh sebelum berdirinya kraton Yogyakarta pada tahun 1755 telah memiliki tokoh penting yang ikut andil dalam perjalanan sejarah Raja – raja Jawa khususnya Mataram Islam. Salah satu diantaranya adalah Kramaleksana. Sosok Kramaleksana hidup pada masa Sultan Amangkurat I hingga Hamengku Buwana I (1600 – 1700 an). Pada masa perang Mangkubumi (1746 – 1775) Kramaleksana ikut membantu Pangeran Mangkubumi yang pada masa itu memusatkan pertahannya di tanah Panjer (termasuk di dalamnya adalah wilayah Sruni, Selang, Kalijirek, Kutowinangun dsb) yang kemudian berubah menjadi Kabupaten Kebumen pasca pembumihangusan Pendopo Agung kotaraja Panjer (kini area Pabrik Minyak Nabatiasa/Sarinabati) pada tahun 1832. Menurut beberapa sumber data berupa babad antara lain: Babad Sruni, Babad Giyanti (karya R. Ngabehi yasadipura I /kakek R. Ngabehi Ranggawarsita), Babad Banyumas, maupun silsilah Raja – Raja Jawa (Serat Sarasilah) dapat diketahui sebagai berikut:
Sosok Kramaleksana muncul setelah bertahtanya Amangkurat II menggantikan Amangkurat I. dikisahkan bahwa atas jasanya menghalau Trunajaya beserta pasukannya yang mengejar Amangkurat I hingga di tanah Panjer, maka Kertinegara Sruni (sebelum peristiwa pemberontakan Trunajaya, Kertinegara telah melakukan pemberontakan terhadap Amangkurat I dan kemudian bertaubat) diangkat sebagai Wedana Bupati Brang Kulon dengan gelar Tumenggung Kertinegara oleh Amangkurat II. Dalam acara Tasyakuran atas pemberian anugerah tersebut, Kertinegara menikahkan putrinya yang bernama Rara Inten (anak bungsu Kertinegara dengan istri pertamanya)dengan Ki Kramaleksana anak Ki Kramayuda Sruni. Acara berlangsung tiga hari tiga malam dan sangat meriah. Selang dua bulan dari acara tersebut, Tumenggung Kertinegara bersama Ki Demang Sutawijaya dan Ki Kramaleksana (menantunya) menghadap ke Kraton baru di Kartasura dalam rangka menyerahkan upeti tanah Panjer. Selain itu Kertinegara juga mengabdikan menantunya yakni Kramaleksana. Atas kemurahan Amangkurat II Kramaleksana diterima dan diangkat menjadi Mantri Pamajegan di Klegenkilang (kini berubah nama menjadi Selang) dengan gelar Ngabei Kramaleksana. Setelah beberapa hari di Kartasura, mereka pun kembali ke Sruni. Kemudian Kramaleksana segera berpindah kediaman di Klegenkilang guna menjalankan tugasnya.
Menurut beberapa sumber, Kramaleksana mempunyai istri dua orang. Isteri pertama adalah anak dari Tumenggung Kertinegara Sruni, sedangkan isteri kedua adalah anak dari Raden Tumenggung Wiraguna kartasura. Dari keduanya Kramaleksana memiliki lima belas (15) orang anak yaitu :
- Ngabehi Wiryakrama, mantri Gunung ing Tlagagapitan; (salah satu putrinya dijadikan isteri kelangenan dari Sultan Hamengku Buwana II dan bergelar Bandara Raden Ayu Nilaresmi, kemudian menurunkan Gusti Raden Ayu Pringgadirja).
- Mbok Mas Dipayuda.
- Ngabehi Kramadirja, Mantri Nangkil Ngayogyakarta. Setelah selesai bertugas, ia kemudian kembali ke Selang dan berganti nama menjadi Ki Kramasentika, akan tetapi oleh masyarakat setempat kemudian lebih dikenal sebagai Ki Kramareja.
- Mbak Mas Rara Ketul, kemudian menjadi isteri Kelangenan Hamengku Buwana I dan bergelar Bandara Raden Ayu Handayahasmara, kemudian menurunkan : Bandara Pangeran Harya Hadikusuma, Bandara Raden Ayu Juru, dan Bandara Pangeran Harya Balitar.
- Mbok Mas Kramayuda.
- Ki Secawijaya, setelah menjadi Mantri Nangkil ing Ngyogyakarta menggantikan saudara laki lakinya kemudian bergelar Ngabehi Kramadirja.
- Ki Kramadiwirya.
- Ngabehi Resadirja, menikah dengan cicit/buyut Mangkunegaran Sambernyawa Surakarta.
- Ngabehi Kramataruna.
- Ki Kramatirta.
- Ki Resadiwirya
- MBok Mas Wiryayuda (Setrareja).
- Mbok Mas Resapraja (Kramasentika).
- Ki Honggawijaya, setelah menjadi Mantri bergelar Ngabehi Kramayuda, isterinya dari Surakarta, dan menurunkan salah satunya Ngabehi Jayapranata yang di kemudian hari menjadi Patih Mangkunegaran. Anak perempuan Ngabehi Jayapranata dijadikan isteri kelangenan Pangeran Mangkunagara III dan bergelar Mas Ajeng Handayaresmi, menurunkan dua orang yakni Raden Mas Suryahandaka dan Raden Ajeng Kuning (menikah dengan Pangeran Harya Gandahatmaja anak dari Pangeran Adipati Mangkunagara IV Surakarta).
- Mbok Mas Jawidenta.
Anak – anak Kramaleksana tersebut di atas, mulai dari nomor 1 hingga 5 dilahirkan dari isteri pertamanya (Puteri Tumenggung Kertinegara Sruni), sedangkan anak nomor 6 hingga 15 dilahirkan dari isteri kedua (Puteri Tumenggung Wiraguna Kartasura).
Ada yang mengisahkan bahwa Kramaleksana memiliki tiga orang istri dimana yang ke tiga berasal dari Yogyakarta. Namun pernyataan ini sangat lemah sebab dari data yang ada yakni babad Sruni yang memuat silsilah singkat disebutkan bahwa isteri Kramaleksana hanya dua orang dan dari keduanya menurunkan 15 orang anak. Sedangkan pada silsilah induk milik Kanjeng Raden Harya Adipati Danureja V Yogyakarta yang kemudian bergelar Kanjeng Pangeran Juru, tidak disebutkan jumlah isteri dari Kramaleksana. Hanya disebutkan jumlah anak sebanyak 12 orang sehingga ada selisih kekurangan 3 orang jika dibanding dengan silsilah yang ada di babad Sruni. Adapun kekurangannya adalah :
- Mbok Mas Dipayuda (anak nomor 2).
- Mbok Mas Resapraja/Kramasentika (anak nomor 13).
- Mbok Mas Jawidenta, (anak nomor 15).
Dari data di atas maka dapat diketahui bahwa keturunan Kramaleksana yang kemudian menurunkan darah Kraton Yogyakarta ada dua orang dan darah Mangkunegaran satu orang yakni:
- Anak ke 4 menjadi isteri kelangenan Hamengku Buwana I
- Cucu Kramaleksana (anak dari Wiryakrama) menjadi isteri kelangenan Hamengku Buwana II
- Cicit/Buyut Kramaleksana menjadi isteri kelangenan Kanjeng Gusti Pangeran Harya Mangkunagara III Surakarta.
Selain anaknya, ternyata saudara perempuan Kramaleksana juga menjadi isteri kelangenan Hamengku Buwana I dan bergelar Bandara Raden Ayu Turunsih, yang menurunkan 2 orang anak yakni :
- Bandara Pangeran Harya Mangkukusuma
- Bandara Raden Ayu Tumenggung Danunagara. Adapun Raden Tumenggung Danunagara adalah anak dari Kanjeng Raden Hadipati Danureja I Patih Yogyakarta (Danureja I sebelumnya menjabat sebagai Bupati Banyumas IX dengan gelar Adipati Yudanegara III).
Asal mula anak Kramaleksana diperisteri Hamengku Buwana I
Ketika Pangeran Mangkubumi (RM. Soedjono) berperang di tanah Panjer ia melihat seorang anak perempuan yang menggunakan pinjung/kain berusia sekitar 11 tahun. Anak tersebut sangat suka melihat prajurit yang tengah berperang di sekitar rumahnya tanpa merasa takut. Pangeran Mangkubumi memperhatikan semua gerak dan tingkah anak tersebut dengan keheranan dan kagum. Ia kemudian mengutus seorang abdinya untuk bertanya kepada anak tersebut. Setelah ditanya, anak tersebut pun menjawab bahwa ia bernama Mas Rara Ketul, anak dari Ki Kramaleksana, seraya menunjukkan ayahnya yang tengah berlari ke arah barat menggunakan ikat wulung dan menghunus keris mengejar musuh. Abdi tersebut kemudian melaporkan kepada Pangeran Mangkubumi apa yang dikatakan oleh Rara Ketul. Hal itu membuat senang hati Pangeran Mangkubumi, terlebih setelah mengetahui bahwa ia anak dari Ki Kramaleksana yang telah banyak berjasa selama pasukan Mangkubumi berada di tanah Panjer. Pangeran Mangkubumi pun berpesan kepada Ki Kramaleksana agar kelak ketika dewasa anak tersebut diserahkan kepadanya untuk dijadikan isteri. Dengan rasa bangga dan senang hati Kramaleksana menyanggupi. Setelah Pangeran Mangkubumi memenangkan peperangan dengan perjanjian Giyanti dan menjadi Raja pertama Yogyakarta dengan gelar Hamengku Buwana I, Rara Ketul yang telah beranjak dewasa pun diserahkan kepada Sultan dan kemudian dijadikan Isteri dengan gelar Bandara Raden Ayu Handayahasmara. Nama tersebut didasarkan pada kekaguman Sang Sultan akan keberanian Rara Ketul, meskipun masih anak – anak berani mengikuti ayahnya di medan peperangan. Pada umumnya, laki – laki sekalipun jika ia bukan prajurit pasti akan takut dan meninggalkan rumahnya ketika didekatnya menjadi medan peperangan.
Leluhur dari Kramaleksana dan Bandara Raden Ayu Turunsih.
Alur leluhur Kramaleksana diketahui berasal dari Kyai Aden. Ada perbedaan pendapat mengenai sosok Kyai Aden. Dalam Babad Sruni, Kyai Aden ditulis sebagai anak dari Jaka Lancing (Mbah Lancing). Sedangkan menurut Sarasilah (silsilah Raja – raja Jawa) halaman 40 diketahui bahwa Kyai Aden adalah guru dari Raden Jaka Lancing. Raden Jaka Lancing/Raden Banyak Patra/Harya Surengbala/Panembahan Madiretna adalah anak ke 50 dari Brawijaya V (Raden Alit) yang lahir dari isteri selir dan sengaja diserahkan kepada Kyai Aden Gesikan untuk dididik.
- Kyai Aden Gesikan, berputra;
- Kyai Sutamenggala (Sruni), berputra;
- Kyai Sutapraja (Sruni), berputra;
- Kyai Kramayuda (Sruni), berputra (diantaranya);
- Kyai Kramaleksana dan Bandara Raden Ayu Turunsih.
Leluhur dari Nyai Kramaleksana (isteri pertama)
Dari Babad Sruni diketahui bahwa Nyai Kramaleksana yang merupakan anak dari Tumenggung Kertinegara Sruni memiliki alur Majapahit sebagai berikut:
- Prabu Brawijaya terakhir menurunkan;
- Raden Jaka Pekik/Harya Jaranpanolih Sumenep (Saudara Jaka Lancing), berputra;
- Harya Leka (Sumenep), berputra;
- Jambaleka (Sumenep), berputra;
- Ki Mas Manca/Harya Mancanagara (Patih Pajang), berputra;
- Ki Mas Tumenggung Pramonca (Sruni), berputra;
- Raden Tumenggung Kertinegara I (Sruni), berputra;
- Kertileksana, Kertisentika, Rara Rinten (dari isteri pertama), dan Rara Ranti (dari isteri kedua). Rara Rinten kemudian dinikahkan dengan Kramaleksana dan menurunkan Bandara Raden Ayu Handayasmara.
Beberapa Versi Makam Kramaleksana
Ada tiga pendapat mengenai letak makam Kramaleksana yakni; 1. di Banyumudal di jalan Kyai Kramaleksana (Perbatasan Selang dan Panjer; kini makam tersebut diganti nama menjadi makam Ibrahim Asmoro Kondi), 2. Di Pemakaman Sijago Selang, 3. Di Desa Kaliwarak (utara Masjid Kaliwarak). Dari ketiga pendapat tersebut makam Banyumudal (terletak di Jalan Kyai Kramaleksana) yang kini dinamakan Ibrahim Asmoro Kondi adalah makam yang paling dikenal warga sebagai makam Kramaleksana.
Meski Kramaleksana semakin hilang dalam ingatan dan pengetahuan masyarakat Selang dan Panjer yang kini lebih familier dengan tokoh Ibrahim Asmoro Kondi, namanya tetap terpatri dan lestari menjadi sebuah nama jalan kecil di wilayah Panjer dan Selang yang kini lebih dikenal dengan nama “Kecepit” tepat di samping pintu rel kereta api.
Persaudaraan Mas Manca dengan Jaka Tingkir (Hadiwijaya)
Dalam Babad Tanah Jawa disebutkan mengenai persaudaraan antara Mas Manca yang kemudian menjadi Patih Pajang dengan Jaka Tingkir (Hadiwijaya) sebagai Raja Pajang sebagai berikut:
Jaka Leka adalah seorang pertapa yang berdiam di dukuh Cal Pitu di kaki gunung Lawu (mungkin ini yang disebut dengan Jambaleka di dalam silsilah babad Sruni; perbedaannya jika di babad Sruni dikatakan dari Sumenep, dalam Babad Tanah Jawa disebutkan dari kaki Gunung Lawu. Dimungkinkan juga ia berasal dari Sumenep dan menjadi pertapa di kaki gunung Lawu). Ia masih keturunan dari Majapahit. Anak laki – lakinya yang bernama Mas Manca pergi dari padukuhannya dan berniat bertapa di pesisir laut selatan. Dalam perjalanannya ia berhenti di daerah Banyu Biru dan kemudian dijadikan anak oleh Ki Buyut Banyu Biru. Mas Manca sangat disayang dan diberi kebebasan segala tingkah lakunya serta diajari segala ilmu kesaktian. Ia juga diperintahkan untuk bertapa agar memperoleh derajat. Ki Buyut tahu bahwa Mas Manca akan menjadi pendamping raja. Ia berkata kepada Mas Manca bahwa Rajanya akan datang jika ia telah tinggal di Banyu Biru selama 3 bulan. Kelak kerajaannya berada di Pajang. Tepat 3 bulan keberadaan Mas Manca di Banyu Biru, datanglah Jaka Tingkir yang sengaja mencari tempat tersebut mengikuti wangsit dari suara gaib saat ia tidur di makam ayahnya di Pengging selama empat hari. Di Banyu Biru Jaka Tingkir diangkat anak pula oleh Ki Buyut Banyu Biru. Selain diajari segala ilmu yang dimiliki oleh Ki Buyut, Jaka Tingkir juga diberi amanah agar di mana pun ia berada harus selalu bersama – sama saudara seperguruannya tersebut yakni Mas Manca, Ki Wuragil (adik Ki Buyut), dan Ki Wila (keponakan Ki Buyut). Sejak saat itu mereka selalu bersama – sama dan ketika Jaka Tingkir menjadi Raja Pajang, Mas Manca dijadikan Patihnya. Sementara Ki Wuragil dan Ki Wila dijadikan Bupati.
Dari data tersebut dimungkinkan keberadaan Tumenggung Pramonca di Sruni (ayah dari Tumenggung Kertinegara Sruni) sebagai anak dari Mas Manca/Patih Pajang dikarenakan tugas kerajaan mengingat pada waktu itu Kerajaan/Negara Panjer dengan gelar pimpinan Kuwu (Yang Mulia/yang ditinggikan) telah berubah menjadi Kadipaten Panjer yang dipimpin oleh seorang adipati dan secara resmi menjadi wilayah di bawah kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah.
Kebumen, Sabtu Wage 11 Oktober 2013
Oleh: Ananda. R
*diedit 26 Oktober 2013
https://kebumen2013.com/kyai-kramaleksana-dalam-sejarah-nama-sebuah-jalan/https://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2013/10/jalan-kramaleksana-kebumen.jpghttps://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2013/10/jalan-kramaleksana-kebumen-140x140.jpgSejarahAsal Usul berbagai tempat di Kebumen,Asal Usul Nama Jalan di Kebumen,Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya,Catatan Sejarah Kebumen,Panjer Kebumen,Saksi Sejarah,Tempat-tempat Bersejarah di KebumenMeski telah diabadikan sebagai nama sebuah jalan di wilayah Panjer dan Selang, sosok dan sejarah Kyai Kramaleksana masih asing dalam pengetahuan generasi muda Kebumen khususnya. Kramaleksana dan Mbah Banyumudal yang merupakan tokoh besar dari daerah setempat tertutup oleh tokoh Ibrahim Asmoro Kondi yang secara logika historis sangat lemah keberadaannya...Ananda. RAnanda. R[email protected]Author"Fakta dan data sejarah akan datang seiring pudarnya sejarah itu sendiri, karena pada hakikatnya sejarah adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa dipungkiri sebagai pohon semesta yang kokoh berakar. Alam memiliki mekanisme ajaib dalam memunculkan kebenaran seperti juga masa depan yang menunjukkan jalannya sendiri" - Ravie AnandaYayasan Wahyu Pancasila
matur nuwun sanget mas ravi posting nya sungguh menyegarkan saya selaku warga Selang ternyata di Selang ada tokoh kaliber spt Kyai Kramaleksana…
sami sami mas. sudah seharusnya waga selang tahu tokoh besar dari daerahnya.kecil saya dulu juga sering bermain di selang. ibu saya dulu selama belasan tahun mengajar di SD selang III.
mas ravie..ini sesuai dg cerita dr ibu saya bahwa swargi buyut saya punya mbah yg bernama Caleksana..yg menurut info yg saya terima masih keturunan Eyang Kramaleksana..tp klo saya lihat silsilah keturunan Kramaleksana tidak ada nama Caleksana di dalamnya …ini yang membuat kami penasaran tentang asal-usul mbah buyut saya…smoga ada jalan ke sana agar kami tahu siapa sebenarnya mbah buyut saya…
caleksana itu daerahnya di mana mas.pelan pelan semoga ketemu alurnya
….matur nuwun mas ravi atas perhatiannya…ini menunggu pulkam ke selang dulu mau gali informasi dr byung dan kuwa saya…nuwun
Aslkm…perkenalkan sy mendapat info dari saudara2 kami bahwa kami ini adalah salah satu keturunan dari kramaleksana..ayah kami bernama R.hidayat Adiwarsono nik 712,putra dari R.Tarso Nik 291,embah kami ini putra dari eyang R.kerto wijoyo Nik 122,putra dari R.Ngt.huda wijaya Nik 057,beliau putra dari R.kyai huda Drama,beliu juga putra dari R.Demang Hudadiwirya Nik 019,putra dari R.Demang Kertamenggala Nik 01,itulah yg saya ketahui bener tidaknya sekiranya…kami sekiranya minta diluruskan kebenerannya..sy bertempat tinggal di palembang..,makasih.
Siapa nama ibu mas ravie? saya alumni sdn 3 selang sekaligus salah satu keturunan eyang kramaleksana
Assalamualaikum, mohon tambahan informasi silsilah: eyang putri sy Raden Mas Ayu Siti Partiah binti Demang Anggadipo di kebumen, konon masih bernasab dari Pangeran Diponegoro
Assalamu’alaikum wr. wb.
Wah alhamdulillah ada sebercak cahaya dan setitik sejarah yang mungkin saya belum mengetahuinya nih Mas Ravi. Saya ingin bercerita sedikit boleh kan Mas?
Dahulu semasa saya kecil, Mbah saya yang bernama R. Ahmad Sumardi (dahulu dikenal sebagai lurah Kalirejo / Kali Warak kalau tidak salah beberapa periode dh).
Beliau pernah bercerita kepada saya tentang Silsilah Mbah Kung saya itu adalah Cucu-cucu-cucu dari Eyang Kramaleksana,
Karena waktu itu saya masih berumur 9 tahun dan tidak terlalu menghiraukan akan Silsilah itu.
Tapi ada 1 hal yang membuat saya bangga dengan Mbah Kung, dahulu karena saking tidak ingin kehilangan ujung pangkal silsilah itu maka kalau tidak salah dengar waktu itu bahwa Eyang Kramaleksana dikebumikan didekat gunung dan alhamdulillah Jasad dari Eyang Krama Leksana dan Eyang Jaya Leksana berhasil dipindahkan oleh Mbah Kung saya dan dijadikan dalam 1 area Pemakaman dekat areal Masjid di Kalirejo (kalau tidak salah dekat2 masjid itu terdapat pesantren).
Nah bagi semua wargi Kebumen terutama wargi2 caket kali Desa Kalirejo Kebumen bisa melihat peristirahatan terakhir dari Eyang Krama Leksana dan Eyang Jaya Leksana di Desa Kalirejo.
Hanya yang sedang saya cari informasi tentang Eyang Jaya Leksana, mungkin Mas Ravi bisa membantunya? Malah kalau bisa kita bisa bersilahturahmi nih mas. Inbox ya mas kalau bisa kita bersua sesama keturunan dari Eyang Krama Leksana.
Wassalamu’alaikum wr. wb,
Ghufy
🙂
Assalaamu ‘alaikum. Saudaraku, P Ghufi, perkenalkan nama saya Eko Marwanto, Setu Kab. Bekasi. Menurut sejarah lisan keluarga besar, kerabat dan penelusuran bathin dari seseorang yang masih keturunan Sunan Kalijogo dan Sunan Gunung Jati di Jakarta, secara Patrilineal, saya masih keturunan Pangeran Kajoran yang ada di Mataram (Kebumen, Klaten, dan sekitarnya) via jalur ayah saya (Sardiwan/Diwud), Purwokerto bin Kastadja/Sakam, Sela Kambang Purbalingga bin Sarwan/Tarwan, Purbalingga, Banjarnegera dan Sumatera Jawa Tengah bin Ki Mujib Abdush Shomad Jawa bin Ki Kromo Jawa bin …. (masih terus menelusuri hingga ke Kanjeng Nabi S’AW.
Mohon diberikan info seputar silsilah nasab ke atas dan ke bawah agar dapat sempurna, hal ini penting untuk mendapatkan tali darah, dan keridloa-Nya. Aaamiin
Eko Marwanto bin Sardiwan (Sakam), Purwokerto
Pemegang Amanah Silsilah Nasab Keluarga Besar Besari, Jawa
Bisakah saya mendapat buku silsilah keturunan Kramaleksana Kebumen
Coba panjenengan menghubungi bapak Drs Subagyo, alamat jl. Daendels Desa Pandanlor, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen. Saudara kita keturunan Eyang Kramaleksana di Malaysia (Trakh R. Nuryadikrama) pernah minta copynya. Terimakasih. Sekalian ditanyakan apa ada hubungannya dengan Lurah Karang Glonggong.
Apakah ada hubungannya dgn Hardjo Soedarmo lurah karang glonggong?
Terimakasih info yang bagus, akan tetapi ada yang mengganjal mengenai leluhur Raden Kramaleksana ke Brawijaya V hanya terpaut 6 generasi, padahal HB-I (yg hampir segenerasi dg Raden Kramaleksana) ke Brawijaya V melalui 12 generasi, keliatannya ada 6 generasi yg hilang. Mohon koreksi. Terimakasih.
Assalaamu ‘alaikum. Apakah ini, P Endang Suhendar Gupiko, ya atau bukan?
Maaf mas ravi..tulisan jnengan hanya atas dasar asumsi2 yg kurang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya..menurut habib lutfi makam syaikh ibrahim asmorokondi banyumudal adalah shohih adanya.karena penyebar agama islam di jawa sebelum wallisongo banyak yg berasal dari maghrib maroko afrika utara(timur tengah)..samarkand asia tengah.La syaikh ibrahim asmarakandi sndiri brasal dr asia tenngah..bnnyak sekali maghribi n samarkandi lain yg menyebarkan islam di jawa sblum kdatangan wali songo generasi ke tiga yg masyhur itu..muhammad gufron n endang suhendar aja sdah bisa mematahkan perkiraan2 jenengan..Maaf klo tk berkenan..
Assalamualaikum, saya terpanggil untuk terlibat sama..ingin berkongsi…saya baru tahu yang salasilah saya ada kaitan dengan salasilah Raden Kramaleksana. Walaupun keluarga di Kebumen telah menyediakan susurgalur salasilah bermula Raden Demang Singowidjoyo…..cuma update/kemaskini 1984. yang menariknya saya mendapat tau ada hubungan dengan salasilah Raden Kramaleksana…NIK 022..Demang Singowidjoyo adalah cucu kepada NIK 003 mbokmas dipojudo
mungkin ada yang boleh dikongsikan.
Keturunan Kramaleksana juga mempunyai rangkaian yang besar di Malaysia dan Singapura.
Assalamu’alaikum wr. Wb
Saya fuad dari pangandaran mohon info Putra atau putri mbah singowijoyo menurut cerita simbah saya katanya masih keturunan mbah singowijoyo
Matur nuwun
ingin tahu silsilah raden dipowiryo desa tambakrejo
saya trah kramaleksana dari keluarga Tirtodijaya anak dari Suwignyo mohon dimasukkan dalam grop
Saya trah kramaleksana dari keluarga wangsa wedana nama mbah wangsa sentika dari anak Sudjakmo /Sudjak
Saya trah dari kramaleksana dr anak wangsa wedana dan mbah wangsa sentika…mohon dmasukkan ke dalam.group.tks
Izin Bu, saya Syafruddin (saat ini sedang S2 di Jogja). Saya tgl 26 des 2024 lalu berkunjung ke desa Krakal, kebumen menemui keluarga pak Darso yg masih keluarga dari kakek saya Mbah Juhri (yg merantau ke Medan tahun 1950 an). Kami sdah ziarah jg ke makam Mbah Wangsa yg berada diatas rumah TDK jauh dr rumah pak Darso.
Kami sangat penasaran dgn silsilah dari Mbah Wangsa Wedana keatas. Adakah nomor Bu ismi yg bisa kami hubungi. Ini no wa saya (085463741713) Syafruddin bin Mistori bin Ahmad Juhri bin Santani bin Cawijaya bin Wangsa Wedana
Izin Bu, saya Syafruddin (saat ini sedang S2 di Jogja). Saya tgl 26 des 2024 lalu berkunjung ke desa Krakal, kebumen menemui keluarga pak Darso yg masih keluarga dari kakek saya Mbah Juhri (yg merantau ke Medan tahun 1950 an). Kami sdah ziarah jg ke makam Mbah Wangsa yg berada diatas rumah TDK jauh dr rumah pak Darso.
Kami sangat penasaran dgn silsilah dari Mbah Wangsa Wedana keatas. Adakah nomor Bu ismi yg bisa kami hubungi. Ini no wa saya (085363741712) Syafruddin bin Mistori bin Ahmad Juhri bin Santani bin Cawijaya bin Wangsa Wedana
Sarasilah di tambakrejo apakah bung tahu mohon info nya
Salam kenal.
saya keturunan kramaleksana dr trah Hardjotaruno lurah glonggong kec klirong.
Mas ravie mohon info ttg mbah lurah kramawidjaya tambakrejo dan ayahnya kramaredjo atau info kakak mbah lurah kramawidjaya…tks.
Mau tanya , makam ngabehi kramataruna dimana ya ?
sugeng sehat sedoyo, mau tanya di makam sijago ada rumah kecil yg di dalamnya ada nama kertomenggolo siapakah dia mohon pencerahannya
Assalamu’alaikum poro sedulur khususnya Mas Ravie Ananda.
Saya sedang menulusuri jejak leluhur saya, nama saya Parluji Panji (Sartimin), lahir thn 1961, ayah saya bernama Panji (nama kecilnya Sartimin), domisili di Kota Jambi.
Ayah saya lahir di Ds Tresnorejo Petanahan Kebumen thn 1915, merantau ke Sumatera +/- thn 1935, bekerja di perusahaan minyak belanda dan Pertamina, pensiun thn 1971, ketika merantau memakai nama PANJI dan wafat di Jambi thn 1975.
Kakek saya bernama SUTA SENTANA bin Sutawijardja (perkiraan lahir 1875), berdasarkan data silsilah keluarga yg saya miliki beristri 5 orang, masing2 isteri memikiki 1 orang anak, 4 perempuan dan 1 orang laki2, yaitu ayah saya (Sartimin) dari isteri ke 4.
Kakek buyut saya Sutawijardja bin SUTA LEKSANA perkiraan lahir tahun 1835, adalah anak ke 5 dari 6 orang bersaudara, yg tertua bernama Sutadimedja yg terkecil bernama Dipataruna.
Kakek cicit saya SUTA LEKSANA perkiraan lahir tahun 1795, berdasarkan data silsilah kekuarga saya yg dibuat tahhn 1969 ( 51 thn yll) adalah seorang Demang di PAGUTAN saat ini desa SIDOMULYO kec. ADIMULYO kab. KEBUMEN.
Dalam kesempatan ini, saya mohon kpd mas Ravie Ananda atau siapa saja yg bisa membantu memberikan penjelasan tentang leluhur saya, sehubungan kemiripan nama2 tokoh yg saya baca pd tulisan2 mas Ravie Ananda, yaitu :
1. Antara Krama Leksana dan Jaya Leksana dengan Suta Lekasana (kakek cicit saya).
2, Antara Marta Sentana (pemuda pejuang dari desa Sugihwaras Adimulyo) dengan SUTA SENTANA (kakek saya/ ayah dari ayah saya).
Data silsilah keluarga saya dapat saya kirim bila diperlukan.
Demikian kiranya semua maklum, maturnuwun atas perhatian dan simpatinya.
hp/ wa saya 082182213992.
Sedikit mnjawab pertanyaan dr mas Nur kholis tentang mbah Kertamenggala yg dimakamkan di si Jago Selang.
Dari sumber yg pernah saya dengar, ini ada sedikit yang terlewatkan dr pemaparan sejarah eyang Kramaleksana diatas.
Dr info sejarah yg saya dengar, sebelum menikah dengan Roro Inten putri Kertinegara, eyang Kramaleksana sdh punya istri, yaitu putri dr kyai Jumirin banyumas.
Kyai Jumirin adl guru dr eyang Kramaleksana. Kyai Jumirin punya anak perempuan, kmudian dijodohkan dg eyang kramaleksana. Berputra eyang Kertamenggala yg maqomnya di siJago Selang itu. Jadi eyang Kertamenggala adl putra pertama eyang Kramaleksana.
Saya termasuk silsilah eyang kertamenggala, yg arsip silsilahnya hingga kini masih terjaga.
Nah ini juga yang jadi pertanyaan saya tentang sosok R.Demang.Kertamenggala :
1. Dalam silsilah keluarga kami, beliau ditulis sebagai putra dari R.Ngb.Kertalaksana dari R.Rara Rinten.
2.Dalam sebuah penelitian /skripsi ttg Desa Slang,disebutkan menjadi menantu R.Ngb.Kramalaksana.
3.Dalam daftar nama putera/i R.Ngb.Kramalaksana yg ditulis pada beberapa catatan sejarah, nama R.Dm.Kertamengala tidak tercantum demikian juga ttg nama istri beliau siapa gerangan namanya?
4.Dari postingan silsilah layar kekancingan salah satu keturunan Sultan Amangkurat Agung, tercantum nama R.Dm.Kertamenggala pada grade ke 5 sebagai putra dari R.Dm.Kertowijoyo,Gasikan..
5.Dari postingan di atas,R.Ngb.Kertamenggolo disebutkan sebagai putra R.Ngb.Kramalaksana dari istri pertam yang puyrinya Kiai Jumirin…
Sehingga hal itu sebaiknya perlu diluruskan, mana yang benar ..
Mohon maaf dan terima-kasih.
Saya orang selang asli saya mbah (eyang) namanya rasiah bin dulmanan bin kerta wikrama dulu silsilah kramaleksana ada di rumahnya lurah selang namanya pak jahit, infonya eyanng uyut saya kerta wikrama masih ada hubungan darah atau keturunan ki kramaleksana sampai skrang masih ada paguyuban ki krama leksana kabar terakhir peguyubannya ada di jatim, tapi saya sudah 9 tahun di jatim subaya malng dan sekitarnya belum menemukan semoga lewat sini saya bisa menemukan tali silahturahmi keturunan ki kramaleksana ….
Assalamualaikum
Saya lg mencari silailah leluhur aaya yang kehilangan obor dari data di atas ada kesamaan nama yaitu Kramasentika sementara dari versi keluarga kami eyang kramasentika makam nya ada di gunung pogog Bumirejo Kebumen. Dari data diatas apa ada hubungan nya atau hanya ada kemiripan nama .
Terimakasih..semoga ada yg bisa membantu untuk menjelaskan lg .
Eyang Mispar Kromosuparto bin Eyang Kromosentiko
Salam
Wawan Irawan
Izin Mas, saya Syafruddin (saat ini sedang S2 di Jogja). Saya tgl 26 des 2024 lalu berkunjung ke desa Krakal, kebumen menemui keluarga pak Darso yg masih keluarga dari kakek saya Mbah Juhri (yg merantau ke Medan tahun 1950 an). Kami sdah ziarah jg ke makam Mbah Wangsa Wedana yg berada diatas rumah TDK jauh dr rumah pak Darso.
Kami sangat penasaran dgn silsilah dari Mbah Wangsa Wedana keatas. Adakah sumber lain yg bisa kami hubungi. Ini no wa saya (085363741712) Syafruddin bin Mistori bin Ahmad Juhri bin Santani bin Cawijaya bin Wangsa Wedana