Mengenang Peristiwa CANONADE Candi Karanganyar Kebumen, Minggu Wage 19 Oktober 1947

May 20th, 2013 | By | Category: Sejarah
Tugu Monumen Canonade Candi setelah dipugar, Desa Candi - Karanganyar - Kebumen

Tugu Monumen Canonade Candi setelah dipugar, Desa Candi – Karanganyar – Kebumen

Desa Candi terletak di sebelah Timur kota Karanganyar. Setelah Belanda melaksanakan Agresi Militer I dimana mereka melakukan penyerbuan hingga ke kota Gombong maka pasar Karanganyar yang semula berada di jalan raya Gombong – Kebumen ditutup dan dipindahkan ke desa Candi karena pertimbangan keamanan umum terutama untuk menghindari keganasan Belanda. Hal itu mengingat keberadaan Markas COP Karanganyar terletak di jalan Perlawanan sebelah Timur Alun-alun. Selain keberadaan pasar sementara, di desa Candi juga terdapat kantor dan gudang Logistik COP Karanganyar yang pada saat itu dipimpin oleh Letnan I Moeryoeni (terakhir menjabat sebagai Wakil Komandan Pusat Altileri di Cimahi) dan dapur – dapur umum yang didirikan secara sukarela oleh warga untuk para pejuang. Kantor Logistik COP sendiri ketika itu telah 3 kali terkena tembakan canon/meriam musuh.

Belanda memang sering menembakkan meriamnya ke daerah – daerah RI yang dianggap rawan dan sangat dicurigai. Adapun maksud dari canonade tersebut adalah untuk membuyarkan pemusatan pertahanan Pasukan TNI. Sebelum melakukan penembakan, Belanda mengadakan pengintaian terlebih dahulu melalui udara dengan pesawat Capung (sekarang pesawat sejenis masih ada dan dijadikan koleksi Museum Satria Mandala Jakarta). Pada tanggal 19 Oktober 1947, hari Minggu Wage, sekitar pukul 06.00 Wib dalam cuaca mendung (karena sejak malam hari hujan turun dengan lebat) terdengar dentuman meriam dari Gombong. Sebagai tembakan pendahuluan Belanda adalah ke arah Selatan Sugihwaras, kemudian tampak pesawat capung berputar – putar di atas desa Candi memberikan sinar kode serta menjatuhkan beberapa bom sebagai pemandu arah sasaran pelaksanaan canonade yang dilakukan dari dua lokasi yakni Kenteng dan Ragadana.

Pasar Candi Karanganyar berada di dua lokasi yakni di sebelah timur dan barat kali. Lokasi pasar berada hingga di belakang gedung kantor Kawedanan (yang ketika itu tinggal puing-puing karena telah dibumihanguskan; sekarang gedung tersebut telah dibangun kembali). Keadaan pasar tersebut tidak terlalu baik tetapi karena pasar tersebut merupakan pindahan maka pasar Candi tetap ramai dikunjungi dan orang mulai melaksankan jual beli. Sekitar pukul 08.00 Wib aktivitas keramaian pasar pagi itu sekonyong-konyong dikejutkan oleh datangnya pesawat Capung musuh yang melakukan pengintain sambil memberikan sinar kode dan menjatuhkan beberapa bom kemudian disusul dentuman peluru meriam pertama yang jatuh di dekat pasar Candi. Pesawat juga dipandu oleh mata-mata Belanda yang berada di dukuh Legok dengan memantulkan cermin ke atas sebagai kode lokasi keberadaan Candi. Mata-mata itu akhirnya tewas pula terkena canonade dengan kondisi kepala yang terpisah, mayatnya dihanyutkan warga di sungai yang sedang banjir setelah keadaan kembali aman.

Tembakan meriam dari Gombong semakin gencar bagai hujan peluru. Lebih – kurang pukul 10.00 Wib tembakan mereda. Penduduk Candi dan sekitarnya bergegas untuk mengungsi, namun tidak lama kemudian peluru Kanon kembali berjatuhan di desa Candi yang meliputi dukuh Pasar Candi, Cengkoreh, Sigedong, Serang, Kandangan, Legok, Gemiwang, Kepel, Plarangan dan Pucung. Kanonade Candi baru berhenti sekitar pukul 13.00 Wib. Jumlah peluru yang ditembakkan lebih – kurang 600 butir.  Hal ini bisa dihitung dari jumlah lubang di tanah bekas jatuhnya ledakan peluru canon. Setelah reda, warga selamat baik yang tadinya telah berlindung di gua Sigedong maupun yang berada di rumah masing – masing mengungsi ke daerah daerah yang aman di Somawangsa Karanggayam, Pandansari Sruweng dll. Adapun korban luka mengungsi ke rumah sakit kebumen untuk meminta pertolongan. Semua berjalan kaki menyelamatkan diri. Korban parah setelah sampai di rumah sakit Kebumen dilarikan ke rumah sakit Yogyakarta menggunakan kereta api.

Korban tewas pun banyak sekali. Korban terdiri penduduk setempat (10 pedukuhan) dan penduduk desa lain yang sedang berada di pasar serta para pengungsi yang juga banyak tersebar di 10 pedukuhan di desa Candi. Ada juga anggota TNI, TP dan pasukan perjuangan yang sedang berada di Candi. Mayat – mayat bergelimpangan di mana-mana, terutama di pasar Candi sampai rel kereta api sebelah Timur. Ada yang kepala, tangan, dan kakinya terpisah dari badannya. Banyak bagian tubuh yang terpisah tersangkut di pepohonan. Jumlah korban meninggal yang bisa didata ada 786 orang, termasuk di dalamnya 70 orang lebih di pinggir rel kereta api, 13 orang anggota TP antara lain cucu Bupati Arung Binang (Mantan Bupati Kebumen). Sangat dimungkinkan terdapat jenazah yang hanyut terbawa arus kali yang waktu itu sedang banjir.

Peti – peti jenazah disiapkan oleh Djawatan Kesehatan Tentara (DKT) dan rumah Sakit Tentara (RST) di Kebumen. Di antara petugas DKT yang mengurus jenazah – jenazah tersebut terdapat Letnan Satiyo yang bertugas di DKT Resimen XX/ Kedu Selatan. Mayat korban canonade yang jumlahnya sangat banyak itu dikuburkan di pekarangan – pekarangan dalam lubang yang tidak terlalu dalam untuk mengurangi bau sehingga keesokan harinya banyak didapati galian yang telah terbuka kembali oleh binatang – binatang seperti anjing dsb. Banyak pula bagian – bagian tubuh yang perpisah yang tidak sempat terkubur akhirnya habis dimakan binatang. Bagi mereka yang identitasnya jelas seperti anggota TP kemudian dikumpulkan untuk dirawat oleh kesatuannya dan diangkut ke Kebumen. Pada keesokan harinya dengan menggunakan kereta api mereka diangkut ke Purworejo (bagi yang induknya di Purworejo) atau ke Yogyakarta (bagi yang induknya di Yogyakarta). Korban lain dari Canonade Candi ialah banyaknya rumah yang rusak bahkan hancur dan matinya hewan – hewan peliharaan seperti kerbau, sapi, dan kambing. Belum lagi barang – barang milik masyarakat yang tidak dapat di data.

Candi termasuk dalam daerah sektor Tengah di bawah Komando Kapten Toegiran yang bermarkas di Karanganyar. Dalam Canonade Candi, Kapten Toegiran selamat, akan tetapi Komandan Seksinya yakni Letnan Muda Soehari terkena pecahan meriam di bagian muka dan pundaknya meski telah berlindung di bawah kolong jembatan kereta api di dekat stasiun kereta api Karanganyar. Selain itu, Letnan Muda Pratejo (Komandan Seksi) terkena pecahan meriam di kaki (betis) kanan sedangkan Sersan Zarkoni (Komandan Regu Seksi Pratedjo) terkena di bagian perut. Pasca peristiwa canonade patroli tentara Belanda sering masuk di daerah Candi dan merampas berbagai bahan makanan serta hewan ternak warga karena keberadaan dapur umum di Candi sebagai logistik pejuang RI tetap berlangsung.

Tugu monumen Canonade lama buatan warga, dipindahkan didepan balai desa Candi setelah renovasi

Tugu monumen Canonade lama buatan warga, dipindahkan didepan balai desa Candi setelah renovasi

Setelah keadaan kembali aman (1949) korban selamat yang cacat seumur hidup diberi santunan oleh pihak kecamatan sebesar 15 rupiah (saat itu senilai dengan harga seekor cempe/anak kambing). Adapun rumah – rumah penduduk yang rusak terkena canon dibangun kembali sendiri tanpa bantuan dari pihak pemerintah. Hingga tahun 2013 hanya beberapa korban cacat yang masih bisa ditemui antara lain Ahmad Sufyan (98 th), Ahmad Suwito (88 th) dan Baniah (80 th). Kebanyakan korban cacat dan anak – anak korban meninggal karena peristiwa canonade candi telah meninggal karena faktor usia.


Untuk memperingati peristiwa Canonade Candi dibangun tugu peringatan sederhana dari batu padas di tengah pasar oleh warga Candi yang kemudian dipugar oleh TP seksi 332, 333, 335, 336. Tugu pertama buatan warga kemudian dipindahkan kedepan Balai Desa Candi.

Video hasil Reportase NCRV TV Belanda bisa anda lihat di tautan berikut:

http://altijdwat.incontxt.nl/seizoenen/2013/afleveringen/19-11-2013/fragmenten/de-reportage-indonesie/

 

Salam Pancasila

Oleh: Ravie Ananda
Kebumen, Minggu Pon, 19 Mei 2013

Sumber:
–          Gelegar di Bagelen
–          Wawancara dengan saksi dan korban selamat; Mad Supyan (98 th), Ahmad Suwito (88 th), Baniah (80 th), Wasiyah (77 th), Sabtu Paing 18 Mei 2013.

Ravie Ananda

"Fakta dan data sejarah akan datang seiring pudarnya sejarah itu sendiri, karena pada hakikatnya sejarah adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa dipungkiri sebagai pohon semesta yang kokoh berakar. Alam memiliki mekanisme ajaib dalam memunculkan kebenaran seperti juga masa depan yang menunjukkan jalannya sendiri" Ravie Ananda

Artikel Terkait:

Gending Lukonoto, Pengantar Berdirinya Kaligending (Karangsa...
Mengenal Sosok Darmansyah, Pemuda Istimewa Kebumen
BERBURU JEJAK SOEKARNO #1: TK Trisula dan Bustanul Atfal Keb...
Pertempuran Pager Kodok - Kebumen
Tags: , , , , , ,

8 Comments to “Mengenang Peristiwa CANONADE Candi Karanganyar Kebumen, Minggu Wage 19 Oktober 1947”

  1. […] kereta api oleh Belanda, lalu diturunkan di stasiun Gombong. Selanjutnya mereka berjalan kaki ke Karanganyar dan diangkut menggunakan kereta api RI menuju Yogyakarta. Untuk memperlancar pelaksanan hijrah, […]

  2. […] yang bermarkas di Sugihwaras adalah Supardjo Rustam (mantan Gubernur Jawa Tengah). Selanjutnya pada peristiwa Canonade Candi 19 Oktober 1947 Belanda juga mengawali serangan pendahuluannya ke desa […]

  3. pi_ta_19@yahoo.co.id says:

    keren2

  4. pamungkas says:

    i like it….*****
    q bae tjah candi tpi sejaraeh malah urre ngerti

  5. […] tersebut di atas Petisi ini di terbitkan oleh Yayasan KUKB dan didukung oleh para anggota keluarga korban kejahatan perang Belanda dan Komunitas Wahyu […]

  6. Mahmur says:

    epic luar biasa yang tidak banyak diketahui bangsa ini. menyesal sekali dua hari lalu dari desa candi tempat tempat kampung halaman istri saya tapi hanya melintas tugu sejarah itu. lain waktu saya akan minta anak-anak saya berdoa secara khusus bagi arwah pejuang yang gugur. terima kasih atas sharing ini.

  7. Edi s says:

    peperangan ngeri… merdeka ngeri… tinggal ngisi kemerdekaan, jangan lupakan jasa pejuang. isi dengan ibadah yg terbaik.

  8. wahyu tri says:

    menurut crita alm.mbah nya saya jg kaya kue..crita nya emg bgtu…
    gonku manggon nang candi kepel.

Leave a Comment