Makam/Pesarehan Ki Badranala berada di desa Karangkembang, kecamatan Alian, kabupaten Kebumen.
Makam/Pesarehan Ki Badranala berada di desa Karangkembang, kecamatan Alian, kabupaten Kebumen.

Makam/Pesarehan Ki Badranala berada di desa Karangkembang, kecamatan Alian, kabupaten Kebumen. Makam ini berada di atas perbukitan yang dikenal dengan nama gunung Kenap, dibawah sebuah pohon besar. Dari makam Ki Badranala kita bisa melihat wilayah kota Kebumen hingga pesisir Urut Sewu dan laut selatan Kebumen.

 

Silsilah Badranala

Dikisahkan dalam sebuah babad bahwa Ki Badranala adalah putra dari Ki Madusena. Ia besar di Karang Lo Panjer Gunung (kini masuk daerah Karanggayam).

 

Silsilah lengkap Ki Badranala sebagai berikut:

  1. Alur Mataram ; Ki Badranala; putra dari Ki Madusena; putra dari Kanjeng Putri Pembayun; putri dari Panembahan Senopati; putra dari Ki Ageng Pemanahan; putra dari Ki Ageng Nis; putra dari Ki Ageng Sela; putra dari Ki Ageng Getas Pandawa; putra dari Bondan Gejawan (Ki Ageng Tarub III); putra dari Lembu Peteng; putra dari Brawijaya V (Raja Terakhir Majapahit).
  2. Alur Mangir/Kemangiran ;Ki Badranala; putra dari Ki Madusena; putra dari Ki Ageng Mangir Wanabaya IV; putra dari Ki Ageng mangir III; putra dari Ki Ageng Mangir II (Jaka Wanabaya); putra dari Prabu Anom Bondan Surati/Panembahan Brawijaya; putra dari Prabu Brawijaya V.
  3. Awal  Karir Ki Badranala; Setelah berusia 12 tahun, Ki Badanala mengembara dan bertemu dengan dengan Ki Ageng Geseng. Ki badranala pun kemudian berguru kepada Ki Ageng Geseng. Ki Badranala kemudian menikah dengan Endang Patrasari, anak dari Ki Nayapatra/Singapatra/Patramenggala (pembuka desa Trukahan/Kebumen) pada tahun 1622 dan dikaruniai anak pertama bernama Kertasuta (Raden Bagus Kertasuta).

 

Pada tahun 1623 utusan dari Mataram yang bernama Ki Soewarno datang ke Panjer yang merupakan “Tanah Putihan” (bebas pajak/belum menjadi wilayah Mataram) untuk mencari tempat yang akan digunakan sebagai lumbung padi dan pangan Mataram dalam rangka peyerbuan terhadap VOC Batavia. Ki Badranala ditugaskan membantu Ki Soewarno dengan cara membeli bahan pangan dari penduduk setempat (Panjer).

Pada tahun 1624 Ki Badranala dianugahi putra kedua bernama Hastrasuta (Raden Bagus Hastrasuta). Pada saat itu bahan pangan mulai terkumpul dan lumbung padi Mataram di Panjer menjadi lumbung terbesar (lumbung dan kadipaten Panjer kemudian diubah Belanda menjadi pabrik Mexolie/Sarinabati Panjer Kebumen). Pasukan Mataram pun berdatang ke Panjer dalam rangka penyerbuan VOC ke Batavia. Kotaraja Panjer yang tadinya hanya menjadi lumbung padi Mataram kemudian menjadi basis militer Mataram. Bahkan Sultan Agung Hanyakrakusuma pun seringkali beradi di Panjer.

 

Pada tahun 1627 Ki Badanala menjadi pengawal bahan pangan Mataram yang dikirim ke Batavia. Ia juga ikut berperang di daerah Rawa Bangke (Jakata Timur). Atas jasanya, Ki Badanala kemudian diangkat menjadi senopati perang pada pertempuran melawan VOC di sayap Hutan Kayu (Jakarta Timur) dan berhasil menggempur benteng Solitude/benteng pendem (kini menjadi masjid Istiqlal jakarta Pusat). Dalam peperangan itu VOC mengalami kekalahan. Banyaknya korban dalam peperangan tersebut menimbulkan wabah penyakit muntaber yang juga menyerang para prajurit Mataram. Akhirnya pasukan Mataram kembali lagi menuju Panjer untuk menyusun kekuatan. Sementara itu, Ki Soewarno yang tidak ikut ke medan perang diangkat menjadi Adipati urusan bahan pangan (logistik) di Panjer.

 

Pada tahun 1628 Ki Badaranala yang akan berangkat lagi ke Batavia mengangkut bahan pangan dari Panjer disusul oleh Pangeran Nrangkusuma yang memerintahkan agar keberangkatan ke Batavia ditangguhkan dan bahan pangan tetap disimpan di lumbung Panjer karena pasukan Mataram mundur memasuki Ajibarang.

 

Pada tahun 1635, Adipati Ki Soewarno menikah dengan gadis Klegen (Klirong) sedangkan isterinya dari Mataram diceraikan. Meskipun beristeri dua kali, Ki Soewarno tidak memiliki keturunan hingga akhir hidupnya.

 

Pada tahun 1638 Ki Kertasuta (putra pertama Ki Badranala) bertugas di Panjer. Dalam usianya yang muda, ia dipaksa menikah dengan ipar Adipati Ki Soewarno. Ki Kertasuta kemudian diangkat menjadi Patih. Sementara Ki Hastrasuta (adik Ki Kertasuta) berguru pada Ki Ageng Kajoran.

 

Pada tahun 1642 Panjer resmi dijadikan Kabupaten dan Ki Badranala diangkat menjadi Bupati pertama kabupaten Panjer, sedangkan Ki Soewarno tetap dijadikan Adipati bidang pangan (logistik). Pada saat itulah Panjer diubah menjadi Panjer Roma dan secara resmi menjadi daerah di bawah kerajaan Mataram.

 

Usaha Pembumihangusan Lumbung Panjer I

Pada tahun 1643 pasukan VOC mencoba mendarat di Urut Sewu (pantai Petanahan) untuk menghancukan lumbung padi dan pangan terbesar Mataram di Panjer/Panjer Roma. Aksi ini berhasil digagalkan oleh pasukan Panjer yang dipimpin langsung oleh Ki Badranala dan Ki Singapatra (Nayapatra alias Patramenggala; metua dari Ki Badranala). Tentara VOC pun lari kembali menuju ke kapal dan meninggalkan pantai Petanahan. Atas keberhasilannya tersebut, Ki Badranala diangkat menjadi Ki Gedhe Panjer Roma I oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Keberadaan Lumbung padi dan pangan terbesar Mataram di Panjer terdokumentasi dalam catatan perjalanan seorang Belanda yang bernama Rijklof Van Goens. Menurut catatan perjalanan Rijklof Van Goens (Ia mengunjungi Mataram lima kali pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma) disebutkan bahwa:

“Mataram di bawah Sultan Agung bagaikan sebuah Imperium Jawa yang besar dengan rajanya yang berwibawa. Istana kerajaan yang besar dijaga prajurit yang kuat, kereta sudah ramai, rumah penduduk jumlahnya banyak dan teratur rapi, pasarnya hidup, penduduknya hidup makmur dan tenteram. Kraton juga punya penjara, tempat orangorang jahat pelanggar hukum dan tawanan untuk orang Belanda yang kalah perang di Jepara. Pada masa Sultan Agung inilah dikenal secara resmi adanya sebuah daerah lumbung pangan (padi) di Panjer dengan bupatinya bernama Ki Suwarno“.

Dibakarnya Lumbung Padi Panjer
Sejarah nasional menyebutkan bahwa kekalahan Sultan Agung Hanyakrakusuma disebabkan oleh dibakarnya lumbung – lumbung padi Mataram oleh Belanda, dimana lumbung terbesar pada saat itu adalah lumbung yang berada di Panjer (lokasi tersebut berada di dalam kompleks daerah yang kini menjadi Pabrik Mexolie/Minyak Kelapa Sarinabati yang mempunyai luas sekitar 4 Ha). Peristiwa ini terjadi pada penyerangan Mataram yang ke tiga dan sekaligus menjadi peperangan terakhir Sultan Agung Hanyakrakusuma. Beliau wafat pada awal tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri.

Pada tahun 1658 setelah lanjut usia, Ki Badranala (Ki Gedhe Panjer Roma I) menyerahkan pemerintahan kepada anaknya yang bernama Ki Hastrasuta dengan gelar Ki Gedhe Panjer Roma II. Ki Badranala bersama istrinya kemudian hidup mandhita (menekuni dunia spitirual) di gunung Kenap Karangkembang hingga akhir hayatnya. Kelak pada masa pemerintahan Ki Gedhe Panjer Roma III (putra kedua dari Ki Curiga; Ki Curiga putra dari Ki Kertasuta) inilah Sultan Amangkurat I (pengganti Sultan Agung Hanyakrakusuma) mengungsi ke Panjer saat terjadi pemberontakan Trunajaya dan menganugrahi gelar Tumenggung Kalapaking (I) kepada Ki Gedhe Panjer Roma III sehingga sejak saat itu penguasa Panjer berganti gelar dari Ki Gedhe Panjer menjadi Tumenggung Kalapaking.

Artikel Tumenggung Kalapaking pada judul tersendiri.

Oleh: R. Ravie Ananda, S. Pd

http://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2012/09/badranala.jpghttp://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2012/09/badranala-140x140.jpgAnanda. RSejarahcatatan sejarah kebumen,Ki Badranala Panjer,Perang Dipanegara,Perang Dipanegara di Kabupaten Kebumen,Situs Sarinabati Panjer Kebumen,tempat-tempat bersejarah di kebumenMakam/Pesarehan Ki Badranala berada di desa Karangkembang, kecamatan Alian, kabupaten Kebumen. Makam ini berada di atas perbukitan yang dikenal dengan nama gunung Kenap, dibawah sebuah pohon besar. Dari makam Ki Badranala kita bisa melihat wilayah kota Kebumen hingga pesisir Urut Sewu dan laut selatan Kebumen.   Silsilah Badranala Dikisahkan dalam sebuah babad...Kembalinya jati diri Bangsa Indonesia yang berpancasila