Sejarah Singkat Panjer – Kebumen

Sep 6th, 2012 | By | Category: Sejarah
Alun Kerajaan Kadipaten Panjer (Situs Kebun Raja, kini Taman Manunggal Kodim 0709 Kebumen) pasca pembumihangusan Pendopo Agung Panjer oleh Belanda tahun 1831

Alun Kerajaan Kadipaten Panjer (Situs Kebun Raja, kini Taman Manunggal Kodim 0709 Kebumen) pasca pembumihangusan Pendopo Agung Panjer oleh Belanda tahun 1831

Pendahuluan
Panjer adalah sebuah Kerajaan/Kadipaten Kuno yang kemudian berubah nama menjadi Kabupaten Kebumen pada tahun 1936. Pada saat Kadipaten masih bernama Panjer, kotarajanya berada di Panjer (kini menjadi kompleks Mexolie/Sarinabati; dibangun oleh Belanda pasca pembumihangusan Pendopo Agung Panjer pada tahun 1831 dan mulai beroperasi dalam skala besar pada tahun 1851. Mexolie Kebumen kapasitasnya sama dengan Mexolie di Amsterdam, Kediri dan Blitar).
Keberadaan Kadipaten Panjer
Keberadaan Kadipaten Panjer telah diketahui sejak lama.
1.      Babad Kadiri
Di dalam Babad Kadhiri disebutkan adanya Kadipaten Panjer sebagai sebuah wilayah yang ramai serta dikenal pula adanya Sendang Kalasan yang pada masa itu terkenal khasiatnya untuk media pengobatan serta sebagai tempat ritual mandi/pembersihan diri para Raja Jawa.
2.      Panjer Zaman Majapahit
Pamokshan Maha Patih Gajah Mada/Eyang Sabda Palon di Panjer (berada di dalam kompleks mexolie Panjer) menguatkan bahwa kabupaten Panjer sejak dahulu telah memiliki fungsi penting dalam ranah Kenusantaraan. Salah satu penguat keberadaannya adalah situs Punden Majapahit (tempat dimurcakannya pusaka – pusaka penting Majapahit) di sawah Majapahit yang berada di desa Sadang Wetan. Nama daerah Sadeng tersebut dalam kitab Nagarakertagama dan Pararaton. Di dalam Nagarakertagama disebutkan bahwa Raja Tribuwana memerintah, didampingi suaminya Kertawardana menumpas pemberontakan di daerah Sadeng dan Keta. Sedangkan dalam Pararaton disebutkan bahwa terjadi pesaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima penumpasan Sadeng. Tribuwana akhirnya berangkat sendiri menyerang Sadeng. Dalam riwayat lain disebutkan pula bahwa setelah Gajah Mada berhasil meredakan pemberontakan Sadeng, dia kemudian dilantik menjadi Patih Amangkubumi. Dia juga mengucapkan Sumpah Palapa pada pelantikannya itu.
 

Beberapa Nama Sadeng

Nama Sadeng terdapat di beberapa daerah antara lain:

  1. Sadeng di wilayah Bogor Jawa Barat
  2. Sadeng di wilayah Gunung Pati di Semarang
  3. Sadengrejo di daerah Pasuruan
  4. Sadang di daerah Kebumen

 

Analisis kelayakan

  1. Sadeng di wilayah Bogor; menurut penulis, daerah ini sangat tidak sesuai dengan Sadeng yang dimaksud dalam riwayat Gajah Mada. Hal ini didasarkan pada logika bahwa hingga masa terakhir Gajah Mada menjabat sebagai Maha Patih, daerah Jawa Barat belum sempat ditaklukan Majapahit. Hal ini disebabkan karena diberhentikan dengan segeranya Gajah Mada sebagai Maha Patih akibat peristiwa perang Bubat. Sadeng Bogor kemungkinan merupakan wilayah dari kerajaan Sunda Pajajaran dengan rajanya Linggabuwana pada saat itu.
  2. Sadeng di wilayah Gunung Pati Semarang; daerah ini juga bukan daerah yang dimaksud dalam riwayat, sebab hingga kini belum ada riwayat penemuan bekas bekas kejayaan pemerintahan kerajaan di daerah tersebut.
  3. Sadengrejo di wilayah Pasuruan; daerah ini juga sangat kecil kemungkinannya sebagai daerah yang dimaksudkan dalam riwayat Gajah Mada. Jika di wilayah tersebut merupakan tempat terjadinya pemberontakan, tentunya sudah sejak dahulu diteliti oleh para pakar sejarah. Apalagi daerah tersebut sangat dekat dengan pusat pemerintahan Majapahit.
  4. Sadang di wilayah Kebumen;Sadang di daerah ini lebih yang mempunyai kelayakan sebagai tempat yang dimaksud dalam riwayat Gajah Mada itu. Analisis objektif didasarkan pada:Kata Sadang berubah menjadi Sadeng sebagai akibat proses kebahasaan, seperti juga yang terjadi pada kata Bra Wijaya yang berubah menjadi Bre Wijaya, Mataram menjadi Metaram, Dhi Hyang menjadi Di Hyeng/Dieng, dan lain – lain.
  • Adanya situs Punden Majapahit yang lokasinya berada di tengah sawah Majapahit.
  • Banyaknya tokoh – tokoh Majapahit yang menghabiskan waktu hidupnya di daerah Kebumen, bahkan berlanjut hingga masa kerajaan Mataram. Beberapa tokoh tersebut antara lain; Senopati Majapahit Gajah Oling (makam di Gombong), Syekh Baribin/Panembahan Grenggeng (salah satu putra dari Brawijaya terakhir, makam di Grenggeng). Gajah Mada (Moksha di Panjer, kini berada dalam kompleks eks pabrik Mexolie/ Sarinabati Panjer Kebumen), Petilasan Danang Sutawijaya/Panembahan Senopati (di Kaligending), Lumbung padi terbesar dan pertahanan militer Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma (di Panjer), Pertahanan dan kekuatan terbesar Dipanegara di Panjer, Pertabatan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Sultan Amangkurat I dan Dipanegara (di Panjer), Pamokshan Singapatra di Kebumen, Petilasan Untung Surapati (di Karanggayam), Makam Pangeran Bumidirjo (di Kutowinangun), dan masih banyak lagi lainnya.
  • Peristiwa perjalanan ke barat dalam rangka pelamaran putri Raja Pajajaran oleh Kerajaan Majapahit tentunya melalui jalur Urut Sewu Kebumen yang sejak dahulu kala telah dikenal sebagai jalur utama penghubung berbagai daerah di pulau Jawa khususnya di wilayah selatan. Artinya wilayah Kebumen yang pada waktu itu kemungkinan memiliki nama lain seperti misal Panjer, Sadang, Galuh/Sigaluh dan lain – lain telah dikenal oleh Majapahit.
  • Adanya bekas Asistenan jaman Belanda di wilayah Sadang Wetan membuktikan bahwa di daerah tersebut pasti memiliki keistimewaan tersendiri, sebab telah menjadi pola dari Belanda dalam tiap mendirikan tempat pemerintahan dan tempat – tempat pentingnya pasti selalu menempati wilayah yang merupakan bekas kejayaan masa lalu nusantara.
  • Kata Pemberontakan dalam konteks Pemberontakan Sadeng, bisa diartikan sebagai subjektifitas kedaerahan mengingat kitab tersebut ditulis oleh wangsa atau penguasa yang dominan pada waktu itu. Artinya ada kemungkinan juga bahwa Sadeng sebetulnya merupakan wilayah mancanegara dari Majapahit atau kerajaan tersendiri yang berusaha ditaklukan oleh Majapahit. Karena melakukan penolakan atau perlawanan, maka Sadeng kemudian dianggap sebagai pemberontak. Sebuah wilayah atau pemerintahan berani melakukan pemberontakan pastinya telah memperhitungkan kekuatan pihak yang akan diberontak, artinya Sadeng telah memperhitungkan kekuatan Majapahit yang saat itu telah menjadi kerajaan yang besar, dapat diartikan juga bahwa Sadeng bukanlah wilayah dengan kekuatan yang kecil.

3.      Panjer Zaman Demak dan Pajang
Keberadaan Panjer secara implisit juga disebutkan dalam babad Kejayaan Kataram. Dalam babad tersebut disebutkan bahwa Ki Ageng Pemanahan sebelum mendirikan desa Mataram yang kemudian berubah menjadi Kerajaan Mataram, meminta pertimbangan terlebih dahulu kepada Ki Gedhe Karang Lo (salah satu tokoh penting dari Karang Lo/Karanggayam waktu itu). Ini berarti bahwa Panjer telah memiliki tata pemerintahan dan menduduki fungsi penting dalam ranah pemerintahan berskala luas pada masa itu (Demak dan Pajang).
4.      Panjer Zaman Mataram Sultan Agung
Catatan Rijklof Van Goens, seorang sejarawan Belanda yang lima kali mengunjungi Mataram mencatat bahwa Mataram mengalami jaman keemasan di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ketika itu memiliki lumbung padi terbesar di Panjer dengan bupatinya yang bernama Ki Soewarno. Usaha penyerangan Belanda terhadap lumbung terbesar Mataram Sultan Agung yang berada di Panjer melalui Urut Sewu (Petanahan) berhasil digagalkan oleh Ki Badranala bersama Ki Singapatra (mertua Ki Badranala) dimana Ki Badranala kemudian dijadikan Senopati pada ekspedisi penyerangan Mataram ke Batavia dan berhasil memporak-porandakan pertahanan Belanda di benteng Solitude (kini menjadi Masjid Istiqlal). Penyerangan Pasukan Panjer berikutnya tertunda karena Batavia dilanda wabah penyakit, sehingga pasukan Panjer gelombang kedua berhenti di Ajibarang.
5.      Panjer Zaman Amangkurat Agung (I)
Peristiwa perginya Pangeran Bumidirjo dari Kraton Mataram ke Panjer (akibat berselisih dengan Amangkurat I) diterima baik oleh Ki Gedhe Panjer. Selanjutnya Pangeran Bumidirdjo diberi tanah di tepian sungai Luk Ula untuk bermukim. Pemberontakan Trunojoyo pada tanggal 2 Juli 1677 berhasil merebut kraton Mataram dari Amangkurat I dan mengakibatkan Raja Mataram ini mengungsi ke Panjer hingga kesehatannya membaik.
6.      Panjer Zaman Dipanegara
Pertahanan terbesar Pangeran Dipanegara di Kabupaten Panjer hingga masa perundingan pertama di Roma Kamal Jatinegara (Sempor) dan perundingan kedua di Kejawang sebagai masa akhir peperangan Pangeran Dipanegara melawan Belanda pun melibatkan pasukan Panjer di bawah kepemimpinan Kolopaking IV (Penguasa Panjer saat itu) sebagai kekuatan utamanya (baik pasukan, logistik, maupun persenjataan) yang mengakibatkan peristiwa penyerangan besar – besaran kotaraja Panjer sebagai pusat pemerintahan hingga pembumihangusan Pendopo Agung Panjer oleh Belanda saat itu. Selanjutnya pemerintahan transisi Panjer pun didirikan di desa Baniara Karangsambung. Perlawanan sengit pasukan Panjer menyebabkan Belanda mendatangkan bala bantuan yang cukup banyak dari Batavia dan luar Jawa yang kemudian dalam perjalannya terbentuklah sebuah Benteng di Gombong sebagai pertahanannya. Pada awal terbentuknya kabupaten Banjarnegara, Belanda mengambil tokoh Panjer sebagai bupati di sana hingga beberapa keturunan (Jayanegara I/Atmadipura, Jayanegara II/Jayaamisena, dan Soemitro Kolopaking Purbanegara).
7.      Panjer Menjelang Kemerdekaan
-          Tentara Australia menggunakan Pabrik Tebu/Gedung Gembira Panjer sebagai markas saat Perang dunia I.
-          Kempetai Jepang Kebumen menggunakan perumahan Mexolie Panjer sebagai markasnya (kini Kodim 0709 Kebumen).

8.      Panjer Setelah Kemerdekaan
-          Peristiwa Perang Kemerdekaan juga menjadikan Panjer sebagai tempat yang sangat berarti. Batalyon III Resimen Moekahar yang kemudian menjadi Batalyon 64 Kebumen bermarkas di Mexolie/Sarinabati Panjer.
-          Satu-satunya akses dari Gombong menuju Yogyakarta pada masa Agresi Militer Belanda II (19 Desember 1948) adalah jembatan kereta api Panjer/Jembatan Renville. Jembatan ini gagal di trekboom oleh Letnan II DS. Iskandar sehingga Belanda pun segera masuk ke Panjer dan menggagalkan aksi bumihangus Mexolie sebagai pertahanan terluar TNI. 4 pejuang RI pelaksana aksi bumi hangus ditembak mati di lapangan tenis Panjer. Selanjutnya Belanda menguasai ibukota Indonesia di Yogyakarta pada sore harinya.
-          meletusnya pertempuran AOI melawan TNI bermula di areal Mexolie Panjer (utara stasiun kereta api Kebumen),

-          dll

data – data tersebut di atas membuktikan betapa pentingnya Kadipaten Panjer/Kebumen yang beribukota di Panjer dari masa ke masa.

Kadipaten – kadipaten, kademangan – kademangan dan Katumenggungan – katumenggungan yang memiliki otoritas pemerintahan tersendiri dan berada di luar wilayah sebuah kerajaan sesungguhnya merupakan kerajaan dan digolongkan dalam kategori Mancanegara. Sebagai contoh adalah desa Mataram yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Mataram dikarenakan mempunyai pemerintahan tersendiri. Adapun Kadipaten Panjer yang sejak jaman Kediri telah dikenal ramai sesungguhnya merupakan Kerajaan Panjer (sayang riwayatnya telah dihilangkan dan diganti dengan Babad-babad baru yang bersifat menumpuk sejarah asli). Hal ini didukung oleh fakta-fakta bahwa secara Genetika Historis, Panjer dari masa ke masa selalu mempunyai peranan penting. Bahkan para Raja dan tokoh-tokoh besar Jawa saat itu memilih Panjer sebagai tempat untuk mengungsi, bertahan ataupun moksha.

Bekas Kerajaan Kediri yang hilang setelah Belanda mengubahnya menjadi Pabrik Mexolie dan beralih fungsi menjadi pabrik Gula Mamenang Kediri kiranya memiliki persamaan nasib dengan Kerajaan Panjer Kuno yang kemudian diubah menjadi Pabrik Mexolie/Minyak Kelapa Sarinabati Panjer. Satu hal yang sangat disayangkan adalah “Nyaris hilangnya riwayat Panjer Kuno baik dalam masyarakat di wilayah tersebut maupun dalam pengetahuan masyarakat Kabupaten Kebumen pada umumnya”. Kurangnya perhatian dan pemeliharaan serta perusakan terhadap situs bangunan peninggalan bersejarah dan budaya masa lampau yang terdapat di daerah Panjer tentunya sangat memprihatinkan, mengingat Panjer adalah cikal bakal berdirinya Kabupaten Kebumen yang telah dikenal sejak 1000 tahun yang lalu sebagai salah satu wilayah yang diperhitungkan dalam ranah nasional.  Meskipun kotaraja Panjer kini telah berubah menjadi desa/kelurahan, Panjer tetap khas dengan rasa dan suasana masa lampaunya.

Dilatarbelakangi sejarah tersebut di atas, maka sudah seharusnya sebagai warga Panjer khususnya dan warga Kebumen pada umumnya untuk menjaga riwayat besar Panjer yang kini beralih nama menjadi Kabupaten Kebumen agar tidak hilang baik karena sengaja ditumpuk sejarahnya oleh para pendatang maupun karena ketidakperdulian pemerintah dan masyarakatnya akan hal sejarah, adat-istiadat, dan  budaya yang mungkin kurang menguntungkan secara finansial.

Salah satu cara untuk mempertahankan riwayat tersebut (meski tinggal sebatas riwayat dikarenakan situs Mexolie/Sari Nabati rencananya segera diubah total menjadi kawasan wisata dan perhotelan) adalah dengan diadakannya “Kirab Budaya Ruwat Bumi Situs Kerajaan Panjer Kuno dan Kirab Pusaka/Tosan Aji Kebumen di desa Panjer setiap tahun yang jatuh pada Bulan Sura/Muharram pada hari yang telah ditentukan (Selasa Kliwon, Rabu Kliwon, atau Jumat Kliwon), dimana tujuan dari kirab tersebut adalah:

  1. Untuk meningkatkan kecintaan dan semangat nasionalisme generasi muda, warga dan seluruh keturunan Panjer khususnya serta warga Kebumen pada umumnya.
  2. Mengenang Panjer dan fungsi pentingnya di masa lalu dalam ranah perjuangan (meski situs Panjer mungkin telah berubah menjadi kawasan Wisata dan Perhotelan).

Menyelaraskan energi spiritual makrokosmos dan mikrokosmos untuk menguatkan jiwa dan nafas kepribadian Nusantara (Pancasila) generasi muda dan warga Kebumen.

Oleh : R. Ravie Ananda, S. Pd

Ravie Ananda

"Fakta dan data sejarah akan datang seiring pudarnya sejarah itu sendiri, karena pada hakikatnya sejarah adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa dipungkiri sebagai pohon semesta yang kokoh berakar. Alam memiliki mekanisme ajaib dalam memunculkan kebenaran seperti juga masa depan yang menunjukkan jalannya sendiri" Ravie Ananda

Artikel Terkait:

Asal Mula Nama Desa Lerepkebumen (Kec. Poncowarno, Kebumen)
Teatrikal Hari Pahlawan 10 November 2012
Buku Gratis : Bedhahing Pustaka Raja Purwa
Benteng Van Der Wijck / Fort Generaal Cochius Gombong - Kebu...
Tags: , , ,

16 Comments to “Sejarah Singkat Panjer – Kebumen”

  1. [...] Kadipaten Panjer sendiri telah diketahui sejak lama. Di dalam Babad Kadhiri disebutkan bahwa pada masa itu telah [...]

  2. Kholid bin Sahilan says:

    Nembe ngerti padahal uripe suwe nang Panjer kit jaman cilik liwat pabrik, numpak lori, nyolongi kopra, ngacung nang tenesan, adus nang jero pabrik sing banyune anget. Kelingan dadi nelangsa, apamaning kongsen wis rata….
    Jal sapa sing isih kelingan?

    • Ferry bin Sutrisno says:

      Aku ya kelingan banget lah wong tukang dus dusan nang jero,dolanan lori karo mangani kopra termasuk sekolah TK ne ya nang pabrik apa maneh bapaku kerja nang kono tapi sayange panggonane tukang go pemujaan meng setan alias kegiatan syirik, na’udzubillahi mindzalik.

      • Ravie Ananda says:

        “ALIF LAAM MIIM, DZAALIKALKITAABULAAROIBAFIIHI, HUDZALLILMUTTAQIN, ALLADZINAYUKMINUUNA BIL GHOIBI WAYUKIIMUUNASSOLAATA” – AL AYAT.
        Artinya : inilah kitab yang didalamnya tidak ada keraguan bagi orang-orang bertaqwa. yakni orang yang percaya adanya yg gaib, dan menjalankan sholat dst…maksudnya orang yang bertaqwa adalah orang yang percaya kepada gaib
        TAPI TIDAK MENYEMBAHNYA…MENYEMBAH YA KE PADA ALLOH DENGAN SHOLAT. ALANGKAH BODOHNYA ORANG YANG MEMUJA SETAN, ZIARAH NYEKAR ADALAH WUJUD BAKTI TERHADAP LELUHUR. JIKA ITU DI ANGGAP MEMUJA SETAN JUGA TERMASUK PEMUJAAN MUSRIK. SUBHANALLOH, DIMANA AHLAQUL KARIMAH SEKARANG..

        pemahaman Ilmu Tauhid,tasawuf,mantiq sangat penting.jika tidak maka hati kita akan rusak dipenuhi prasangka2 buruk mengkafirkan atau memusyrikkan orang lain, tanpa sadar tentang hati kita sendiri.kita lupa bahwa hanya Alloh yg menguasai dan menuntun hati manusia.sehingga menghakimi tindakan orang lain yang tdk sama dgn kita dgn kata musryik bisa jadi sebuah fitnah.subhanalloh.

        perlu diingat juga..hukum kekekalan energi mengatakan..bahwa energi bersifat kekal,materi yang brubah2.jasad adalah materi dan pasti brubah bntuk sesuai anasir pnyusunnya ktika tlah dikubur,tetapi Ruh adl energi dan sifatnya tdk mati,tapi kembali keasalnya Kelak.mendoakan ruh leluhur sama saja mendoakan orang tua,kakek,nenek kita yg hanya berganti materi.terimakasih

  3. Ravie Ananda says:

    Yg paling bahaya dan bisa membuat fasik iman kita adl prasangka trhadap kmusrikan seseorang.menganggap kbenaran hakiki mutlaq adl kbenaran yg kita yakini.
    smentara jika orang lain brbeda sikap pmikiran dan paham,kita anggap itu musryik dsb. smg Allah menjauhkan nya dari kita yg dlm bhasa arab disebut Na’udubillahi mindzaalika.

    Yang paling bahaya justru ketika kita mrasa bhwa kitalah yg paling benar.smua orang yg lain pmahaman dgn kita dianggap musryik.sikap itulah yg sbnrnya menjadikan fasik hati dan tauhid kita,krn kita lupa Hanya Alloh swt lah kbenaran sejati..bukan manusia.

    sikap mrasa paling bnar,paling lurus itulah yg sharusnya kita minta kpada Alloh untuk dijauhkan yg dlm bhasa arab Na’udzubillahi mindzaalika..artine smoga Alloh menjauhkan dari itu.salam Pancasila.

    sebahaya bahayanya setan adl jika ia masuk kedalam hati manusia,karena ktika hati rusak fasik dgn dipenuhi rasa kebenaran mutlaq..maka kita akan merasa paling suci paling lurus dsb..sdangkan Tuhan spertinya tdk akan mengutus khidir kembali untuk mengingatkan manusia,apalagi kita,manusia biasa yg berbau internet.

    • Desy, Syaiful -jkt says:

      Dari Pertama kali menginjakkan kaki d Kebumen, sepanjang perjalanan bertanya2, kebumen ini masuk kota mna, ini dimana sih……mengingat2 pelajaran di sekolah duluu…sepertinya Kebumen tidak pernah disebut. Ternyata dibalik ketentraman Kebumen menyimpan sejarah yg sangat mengesankan buat kami. Lain waktu insyaallah kami akan berkunjung kembali untuk mengetahui lebih banyak “kebumen” terutama tempat wisata.
      #diketik diatas bus perjalanan pulang Jkt.

  4. Teguh Hindarto says:

    Sejak awal saya masuk Kebumen (1997) dan menetap di Kebumen (2001) saya tertarik untuk mencari sejarah Kebumen. Sebelum tahun 2012, semua data bertebaran dan tidak memuaskan. Sampai saya membaca website ini, saya merasa banyak informasi dan sejarah besar mengenai kota ini dan pengaruhya di masa silam. Kekayaan sejarah ini hendaknya tidak dimaknai secara mistis belaka melainkan menjadi pemicu dan motifasi terhadap penduduk Kebumen khususnya generasi mudanya agar mereka membangun Kebumen lebih baik lagi dan menjadi sumber-sumber daya manusia Kebumen yang handal dan berpengaruh di negeri ini.

  5. MEMISAHKAN FAKTA DAN FIKSI SEPUTAR SEJARAH KEBUMEN

    http://teguhhi*****.com/

  6. rizki ansah rivai says:

    Ternyata desa panjer kita luar biasa’ B-) bangga deh dari keturunan panjer asli meski asal usul kluarga besar ny dah pda kocar kacir :’( wkwkwkw ,yaa panjaacasila jejer lah suatu saat nanti tinggal nunggu waktuny he he. Yg penting tinggal kita peraktekan saja bukan hanya di angaan” seperti penjajah yg cepat bergerak kita pun harus cepat membrontak, seperti kobaran api yg di siram bensin seperti seperti sifat setan yg tak lazim,heh,,,muda beda dan melegenda ,ngomong opo to ǞǨǕǖ jane iki? Hehe, salaam pancasila salam raja raja nusantara (´̯_`̯ )
    By Rivi

  7. a.rianto says:

    sebagai wilayah yang berada tepat di atas pergerakan 3 lempengan bumi yang saling bertubrukan , aku yakin daerah kebumen akan terus naik dan meninggi di saat daerah – daerah lain di hadapkan dengan permasalahan serius karena tenggelamnya tanah secara perlahan – lahan , batu – mulia nan indah juga akan terus muncul , dengan di iringi munculnya sumber mata air abadi nan jernih , spt contoh daerah penelitian geologi karang sambung , yang seharusnya berada di kilometer bawah laut dan sekarang sudah meninggi menjadi pegunungan , walupun sejauh ini belum ada yang berani memastikan dan menjelaskan di mana letak negri ATLANTIS yang hilang , tapi dalam tulisan ini aku meyakini dan mempercayai bila PANJER dan wilayah KEBUMEN adalah PUSER dari semuanya,,dan mungkin nantinya bisa menjadi jawaban mengapa orang – orang hebat di masa majapahit , kediri ataupun mataram banyak yang datang , bahkan menghabiskan waktunya di PANJER yang sekarang beralih nama KEBUMEN,,
    semangat terus MAS REVIE ANANDA di dalam menelusuri sejarah , .dan semoga para ahli – ahli geologi bisa lekas turun tangan sehingga cepat bisa membuka tabir kesuraman tentang lempengan bumi kebumen dan juga negeri ATLANTIS yang hilang…” salam cinta untuk raja – raja nusantara …”

    • Kebumen2013.com says:

      Apa yang Panjenengan katakan sejalan dengan analisa belanda yang kami temukan di Buku mereka. Dimana disebutkan bahwa Bagelen (wilayahnya meliputi Kebumen Purworejo Banjarnegara Wonosobo) khususnya Panjer(nama kab. Kebumen masa lalu sebelum diubah oleh Belanda) memiliki karakteristik yang unik dan tanah yang sangat subur dibanding dengan wilayah lainnya, bahkan mereka juga mempunyai opini bahwa RAMA adalah seorang kesatriya yang terusir dari daerahnya sedangkan HANOMAN adalah simbolis dari manusia pribumi “Urut Sewu” dimana daerah Alengka berada di Karang Bolong Kebumen.

      Mereka lebih yakin bahwa India sesungguhnya adalah Tanah Dhawa yang kemudian berubah sebutan Tanah Jawa, sehingga arsip-arsip mereka dahulu selalu menyebutkan Jawa sebagai TAAL LAND, dan mereka kemudian menyebut nusantara ini sebagai Hindia Belanda.

      Mengenai Kediri juga disebutkan sebuah nama di wilayah Jawa Tengah sayang riwayatnya hilang dan mulai ada riwayat lagi di Jawa setelah suku hindustan datang ke Jawa. Kebumenn juga punya Gunung Api purba yang kini telah hilang (Karang Sambung).

  8. Joko Tripamardi says:

    Sekedar bertanya :
    1. Seingat saya dahulu pernah ibukotanya di daerah Ambal.
    2. Pada jaman Hamengkubuwono II banyak sentana keraton (termasuk putra wayah) HB II yang pindah ke daerah Ambal, Petanahan, Mirit. dll. hal tersebut berhubungan dengan tidak setujunya pihak2 keturunan HBII karena HB III bersekutu dengan belanda.
    3. Bila ia untuk item 1. bila/kapan perpindahan dari Ambal ke Kebumen,….yang disini disebut Panjer.
    Terima kasih.

    • ravieananda says:

      tentang ambal….sesuai dengan data sejarah yang ada..bupati ambal pertama adalah kolektur mangunprawira..salah seorang adik dari pangeran dipanegara yang tertangkap. setelah tidak terlalu beringas (saat itu dipenjarakan di magelang) kemudian beliau di jadikan kolektur daerah purworejo…dan setelah surutnya pertempuran sisa sisa dipanegara di panjer dia diangkat menjadi bupati ambal pertama dan terakhir.
      menurut data pembagian wilayah yang tertera dalam peta kuno belanda tahun 1830 – 1857 (peta karisidenan bagelen) terdapat 6 kabupaten di bagelen dan kebumen tetap terpisah dengan ambal. sebagai berikut:
      kabupaten purworejo membawahi kecamatan : purworejo , loano, cangkrep dan jenar
      kabupaten kuto redjo (kini kutoardjo) membawahi kecamatan : kuto redjo (nama lama dari kutoarjo), kemiri dan pituruh.
      kabupaten ambal membawahi kecamatan : wonoroto, ambal, puring, petanahan, karangbolong
      kabupaten kebumen membawahi kecamatan : kebumen, kedungtawon, prembun
      kabupaten ledok membawahi kecamatan : wonosobo, kali alang, leksono, kaliwiro dan sapuran
      kabupaten karanganyar membawahi kecamatan : gombong, karanganyar dan sokka
      nah nama nama kecamatan itu malah sekarang ada yang berubah jangkauan wilayahnya menjadi lebih sempit, begitu juga nama kabupaten2 diatas.
      untuk keterangan lebih lanjut tentang peta bisa dilihat ditempat saya
      Salam pancasila.

  9. ravieananda says:

    dan perlu diketahui bahwa nama ambal sudah ada sejak lama tapi bukan kabupaten. sedangkan mulai ada kabupaten ambal itu setelah perang dipanegara. sedangkan nama kadipaten panjer, awalnya menurut babad banyumas adalah negara panjer..yang berubah menjadi kadipaten saat munculnya kerajaan demak. jabatan raja dengan gelar kuwu/yang mulia (bukan kuwu lurah)..panjer berubah menjadi adipati panjer. kadipaten ini kemudian berubah menjadi kebumen pasca perang dipanegara tepatnya tahun 1832, dan terpisah dengan ambal karena pada mas itu ambal dijadikan kabupaten/kadipaten tersendiri.

  10. […] Raya Selatan yang membentang dari Kebumen hingga Brosot (Provinsi Yogyakarta) juga dikenal masyarakat dengan nama Jalan Daendels. Namun […]

  11. […] Jamenggala, tempat ini dijadikan markas berunding dan penyusunan strategi perang gerilya semasa Kadipaten Panjer telah dikuasai Belanda […]

Leave a Comment