oleh Ravie Ananda
Panjer Nagari, Senen Paing 10 Mei 2020

Ilustrasi Renik (soniakneepkens@flickr)
Ilustrasi Renik ([email protected])

Banyak masyarakat saat ini menganggap bahwa beberapa tradisi, budaya, prilaku ataupun keyakinan Jawa terhadap sesuatu hal sebagai suatu yang klenik. Klenik dalam perspektif mereka adalah sesuatu yang dianggap tidak ilmiah, irasional dengan standar rasional dan ilmiah keilmuan barat yang mendunia saat ini. Sayangnya klaim klenik tersebut tidak melalui penelusuran terlebih dahulu dari sudut pandang Jawa sementara kata klenik itu sendiri merupakan kata dalam bahasa Jawa yang tentunya mempunyai arti dan makna. Untuk itu tulisan singkat kali ini akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan Klenik dalam masyarakat Jawa Kuna.

Klenik adalah kata (sifat) dalam bahasa Jawa yang artinya bersifat Nik/Enik. “Nik/enik” dalam bahasa jawa mempunyai arti sebuah keadaan terkecil, terdetail yang sudah mampu diurai oleh ilmu pengetahuan masyarakat Jawa. Ibarat sebuah benda yang sudah terurai menjadi inti atom dan inti atom tersebut terurai menjadi proton, neutron dan elektron. Proton, neutron dan elektron inilah yang disebut Nik/enik adapun sifat terkait keadaan tersebut dinamakan Klenik yang artinya bersifat Nik/Enik.

Budaya Jawa masa lalu yang sangat halus dan lembut selalu mengemas segala sesuatu dengan simbol baik dalam kisah maupun kebendaan sehingga tidak jarang membuat masyarakat saat ini yang jauh dari karwuh – kawruh Jawa sangat sulit memahami dan mengerti arti dan isi yang sesungguhnya dari hal – hal yang dibungkus tersebut.

Nik/enik yang merupakan hasil sebuah proses panjang penelitian ilmu/kawruh Jawa masa lalu yang dalam bahasa Jawa disebut dengan “titi/teliti” di mana kegiatan tersebut berlangsung lama dan kontinyu serta dilakukan dengan ‘telaten’ selanjutnya disebut sebagai ‘TITEN’ yang memiliki makna teliti dan telaten. Sayangnya titen ini pun oleh masyarakat sekarang tidak dipahami sebagai sebuah proses ilmu penelitian ilmiah layaknya metodologi barat dengan hasil ‘rumus pasti’ nya, melainkan titen sebagai suatu hasil kesimpulan berdasarkan melihat atau mengamati (niteni) kebiasaan kejadian yang ada. Tentunya pemahaman ini sangat jauh berbeda dengan makna titen yang sesungguhnya yang sangat dan bahkan supra ilmiah dalam metodologi ilmu/kawruh pengetahuan Jawa kuna.

Nik/Enik sebagai hasil titen – penelitian supra ilmiah ilmu/kawruh Jawa Kuna diwariskan oleh pendahulu dengan cara dikemas dalam sebuah rumus baku layaknya rumus – rumus ilmu pasti barat. Bedanya kemasan Nik/Enik berupa simbol baik dalam tutur cerita maupun benda yang menjadi ruh atau inti dari laku,keyakinan,kepercayaan,tradisi, adat, budaya Jawa yang dalam bahasa Jawa disebut “Gugon Tuhon”. Gugon Tuhon ini secara turun – temurun ditularkan baik melalui lisan maupun prilaku dalam ritual tradisi, adat dan budaya yang dalam perkembangannya saat ini karena standar yang digunakan berupa metodologi barat dianggap sebagai hal yang irasional.

“GUGON TUHON” itu sendiri berasal dari bahasa Jawa akronim kata “digugu” dan “dituhoni”. Digugu (kata dasar Gugu) artinya dipercaya/diyakini; Dituhoni (kata dasar Tuhu) artinya dipatuhi.

Warisan Leluhur berupa Enik yang menjadi KLENIK tersebut digugoni dan dituhoni sebab sudah teruji dengan penelitian yang panjang, terus menerus dan telaten hingga bisa diungkap sampai pada partikel terkecil oleh metodologi ilmu/Kawruh Jawa kuna dimana partikel tersebut dinamakan “sak enik”; enik (pletik atau percik) yang lazimnya disebut KLENIK. Namun lagi – lagi masyarakat Jawa saat ini memahami Gugon Tuhon sebagai suatu yang bersifat tahayul/khayalan tanpa dasar ilmiah yang kuat.

Enik dalam perkembangannya juga dipakai dlm bahasa Indonesia menjadi kata pernik/pernak – pernik artinya berbagai macam hal yang terkait dengan suatu keadaan. Enik juga menjadi dasar kata “renik” yang dalam bahasa Indonesia berarti sangat kecil atau lembut. Sebagai contoh penyebutan pada Jasad Renik yang berarti mahluk hidup yang sangat kecil atau lembut yang tidak kasat mata. Dalam bahasa Jawa sendiri segala sesuatu yang sangat halus dan lembut disebut dengan Lelembut atau Badan alus karena memang sifat dan wujudnya yang tak kasat mata. Namun lagi – lagi Lelembut dan Badan Alus ini pun dimaknai negatif oleh masyarakat jawa saat ini sebagai setan, jin dan lain lain tanpa dasar pemahaman ilmu/kawruh.

Kesimpulannya ketika Wong Jawa wis ilang Jawane, maka KLENIK sebagai hasil ilmu Jawa yang supra ilmiah di mana metodologinya merupakan hasil pakarti dari cipta, rasa dan karsa; sukma, jiwa lan raga para leluhur Jawa yang sudah mampu mensinergikan makrokosmos dan mikrokosmos, vertikal dan horizontal, fisik, batin dan kasukman (spiritual) dianggap irasional dan tahayul oleh generasi penerusnya sendiri yang terjebak dalam metodologi barat yang dasarnya hanya menitikberatkan pada pakarti cipta/pikir/logika di mana metodologi tersebut grade nya di bawah metodologi Jawa masa lalu yang telah lengkap.

Adanya pandemi dunia covid-19 dalam persepktif ilmu/kawruh Jawa disebut sebagai Pageblug. Pageblug ini disebabkan oleh badan alus/lelembut golongan krumi (jasad renik) yang tentunya juga menjalankan takdir dan tugasnya sebagai salah satu mahluk ciptaan Tuhan di bumi. Banyak hal – hal klenik warisan Jawa kuna terkait penanggulangan/agar terhindar dari pageblug yang masih sangat relevan dilakukan pada masa kini.

Kawruh (bahasa jawa) kata dasarnya “weruh” yang bermakna melihat, mengetahui, dan memahami sehingga kemudian menjadi Kawruh yang bermakna ilmu. Segala sesuatu yang telah dilihat, diketahui dan dipahami oleh manusia Jawa masa lalu dan dibakukan dalam sebuah metode pengetahuan yang diyakini dan dijalankan dalam kehidupan sehari – hari. Tentunya Kawruh ini belum tentu diketahui oleh manusia lain apalagi bangsa lain.

“Sura Dhira Jayaningrat lebur dhening Pangastuti – Rahayu Budhi Ayu”.

 

 

https://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2020/05/renik.jpghttps://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2020/05/renik-140x140.jpgAnanda. RRuang KejawenCorona Virus,Covid-19,Kawruh Jawa,Klenikoleh Ravie Ananda Panjer Nagari, Senen Paing 10 Mei 2020 Banyak masyarakat saat ini menganggap bahwa beberapa tradisi, budaya, prilaku ataupun keyakinan Jawa terhadap sesuatu hal sebagai suatu yang klenik. Klenik dalam perspektif mereka adalah sesuatu yang dianggap tidak ilmiah, irasional dengan standar rasional dan ilmiah keilmuan barat yang mendunia saat...Kembalinya jati diri Bangsa Indonesia yang berpancasila