Artefak dalam berbagai bahan dan ukuran, Kebumen
Artefak dalam berbagai bahan dan ukuran, Kebumen

Minimnya data mengenai adanya peradaban prasejarah di Kebumen menimbulkan kesangsian bagi sekelompok masyarakat dan kalangan tertentu yang terlanjur berkiblat pada buku – buku ulasan yang lazimnya beredar di kalangan akademisi. Hal itu terus terjadi meskipun kini telah banyak bukti bermunculan baik berupa data penelitian lama maupun bukti artefak – artefak yang ditemukan di sepanjang sungai Lukula dan beberapa wilayah lain yang tersebar di Kebumen. Adanya Menhir, Lingga dan Yoni yang tersebar di beberapa tempat di Kebumen, struktur bangunan candi, kapak – kapak batu dengan berbagai ukuran, jenis, bentuk dan bahannya, fosil – fosil binatang purba dan lain sebagainya, tetap saja belum membuka kesadaran sekelompok masyarakat yang kemungkinan antipati atau masa bodoh dengan perkembangan sejarah dan peradaban di tanah kelahirannya. Tentunya fenomena ini sangat memperihatinkan sementara di daerah lain sisi sejarah dan peradaban digali dengan sungguh – sungguh karena terbukti sangat penting bagi pembentukan dan penguatan karakter masyarakatnya dan berdampak sangat nyata dalam semangat keikutsertaan mereka membangun daerah di bidang masing – masing dilandasi rasa kebanggaan daerah yang kemudian menjadi sikap nasionalisme yang kuat. Kecerdasan emosional pun tumbuh kuat untuk menjaga dan mengembangkan tempat – tempat purbakala sebagai suatu kawasan yang lebih bernilai edukatif, rekreatif, spirit, dan ekonomis dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

 

Tinjauan Geologi Kemunculan Kebumen

Kebumen adalah salah satu kabupaten yang masuk dalam wilayah propinsi Jawa Tengah di wilayah paling Selatan pulau Jawa dan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Dengan kata lain, tidak ada lagi daratan di Selatan Kebumen, hanya ada Samudra Hindia dan Kutub Selatan. Nama Kebumen yang memiliki arti Kebumian merupakan nama baru dari kabupaten Panjer yang berarti tonggak awal.

Ditinjau dari sisi Geologis, Kebumen merupakan daerah tertua dalam proses pembentukannya. Daerah ini merupakan daerah Subduksi yang awalnya merupakan dasar samudra yang kemudian muncul sebagai akibat terjadinya tumbukan dua lempeng bumi pada 117 juta tahun – 60 juta tahun yang lalu, yakni lempeng benua Eurasia dan lempeng samudra Hindia.  Salah satu bukti dari peristiwa alam tersebut adalah daerah Luk Ula (nama sungai di Kabupaten Kebumen yang dimulai dari kecamatan Sadang (dahulu masuk dalam wilayah kecamatan Karangsambung sebelum adanya pemekaran wilayah) menuju ke Selatan hingga bermuara di samudra Hindia). Sungai Luk Ula pada awalnya merupakan sungai bawah laut, terbentuk pada masa Pratersier tertua diperkirakan telah berumur sekitar 117 juta tahun. Nama Luk Ula sendiri didasarkan pada pola alur sungai yang berkelok – kelok seperti jejak ular yang berjalan, sehingga dinamakan Luk (Alur) Ula (Ular). Di beberapa bagian sungai ini dimungkinkan sebagai bekas palung laut yang hingga kini dikenal sebagai “kedung” yang memanjang. Penelitian tentang Kebumen pertama kali dilakukan oleh Verbeek, seorang geolog Belanda pada tahun 1891. Ia melakukan penelitian di wilayah Karangsambung. Hasil penelitian ini baru dipetakan secara geologi oleh Harlof pada tahun 1933. Penelitian dilanjutkan oleh Sukendar Asikin, geolog Indonesia pertama yang mengulas geologi daerah Karangsambung berdasarkan teori Tektonik Lempeng. Bukti – bukti geologis berupa batuan – batuan kuno di Karangsambung sebagai hasil evolusi bumi antara lain batuan Rijang dan batuan Lempung Merah Gamping. Secara teori, kedua batuan tersebut hanya bisa di temui di dasar lautan dalam. Terdapat pula batuan Basalt Karangsambung yang merupakan batuan beku yang berasal dari letusan gunung berapi dasar laut. Karangsambung yang hingga kini terkenal sebagai daerah penambangan pasir dahulunya merupakan gunung api purba dasar laut sebelum masa pratersier. Ada juga batuan Sepentinite yang merupakan batuan malihan dari perut bumi di bawah lantai samudra. Selain batuan – batuan tadi, tedapat juga batuan Sekismika, fosil hasil evolusi biota laut seperti ikan, bintang laut, kerang laut, kepiting, terumbu karang dan lain – lain. Fosil biota darat yang dimungkinkan ada setelah Karangsambung menjadi daratan pun banyak dijumpai antara lain fosil: bambu, berbagai tanaman keras seperti jati, kelapa, buah kelapa dan tanaman pohon – pohon purba lainnya yang usianya sangat tua dan bahkan memiliki tingkat kekerasan jauh di atas rata – rata kekerasan batuan umumnya. Para geolog dari berbagai negara pun banyak yang mengunjungi Karangsambung dimana lokasi tersebut telah dijadikan laboratorium geologi nasional LIPI dan telah diakui dunia sebagai lapangan geologi terlengkap di dunia. Lokasi situs geologi ini sangat luas, mencapai 3 kecamatan yakni kecamatan Karangsambung, Sadang, dan Karanggayam.

 

Teori Peradaban

Peradaban manusia muncul dan berkembang pada suatu wilayah daratan. Berdasarkan tinjauan geologi mengenai terbentuknya wilayah Kebumen, maka secara logika peradaban manusia telah ada di Kebumen sejak dahulu kala setelah daratan tersebut muncul, dimana pada masa itu banyak daerah lain yang belum terbentuk. Kebumen yang merupakan jajaran pegunungan Serayu Selatan (juga dikenal dengan Kendeng Selatan) berdekatan dengan Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo yang hingga kini diketahui sebagai daerah peradaban tua dengan situs – situs purbakala seperti Megalitikum, candi – candi kuno dan lain sebagainya.

 

Penelitian dan Penemuan Benda – Benda Purbakala di Kebumen

Penelitian purbakala di Kebumen pertama dilakukan oleh J.H. Houbolt pada tahun 1939 kemudian dibukukan pada tahun 1940 dan H.L. Movius Jr pada tahun 1948. Houbolt mengadakan penyelidikan di daerah Kedung Bulus Gombong dan menemukan alat – alat yang sangat mirip dengan alat – alat yang ditemukan di daerah Pacitan. Dilihat dari bentuknya yang meruncing, sebuah di antaranya memperlihatkan sebelah sisi yang rata, dapat disimpulkan bahwa alat – alat tersebut tergolong dalam jenis kapak genggam awal. Penelitian dilanjutkan pada tahun 1959 dan dibukukan oleh H.R. van Heekeren dalam judul “The Stone age Of Indonesia”. Dalam penelitian pada tahun 1959 itu telah dipungut sejumlah alat dari dasar kali Kenteng, khususnya di antara desa Kenteng dan Kedung Bulus. Daerah aliran kali Kenteng terletak di bagian selatan barisan pegunungan Serayu Selatan yang mempunyai susunan geoantiklin sebagai bekas dari sebuah kubah yang memanjang dan membentang ke arah timur laut. Susunan sisa – sisa kubah ini terdiri atas lapisan – lapisan zaman Pratersier dan Tersier yang mengandung batuan vulkanik, sedimenter, dan metamorfik yang telah digunakan sebagai bahan pembuatan alat – alat batu seperti batuan kuarsa, rijang, kalsedon, hornblenda, dan batu lempung. Alat – alat temuan Gombong ini tampak terkikis dan meliputi beberapa jenis. Ada kapak penetak dengan tempat berpegang yang cekung, batu martil berbentuk bundar, dan batu inti yang beberapa di antaranya digunakan sebagai perkakas dan alat – alat serpih. Sebagian alat – alat serpih memperlihatkan kerucut pukul yang jelasdan sebuah di antaranya berukuran besar (panjang 9,9 cm). Penelitian dilanjutkan oleh Basoeki pada tahun 1977 menghasilkan beberapa buah alat paleolitik lagi dari tipe kapak perimbas dan kapak penetak. Daerah temuan terletak di desa Semali, di utara daerah temuan tahun 1959.

 

Lanjutan Penelitian Lokal

Berdasar data tersebut di atas, dilakukan penelitian oleh tim www.Kebumen2013.com yang dipimpin Oleh: Ananda. R pada tahun 2012 dan 2013 di daerah aliran sungai Luk Ula tepatnya di wilayah Peniron, Seling, Pucangan dan Sadang Loning. Tim berhasil menemukan beberapa alat batu yang merupakan perkakas dan beliung persegi dengan beberapa jenis bahan batuan dan ukuran serta sebuah cincin batu. Selain artefak tersebut, tim juga berhasil menemukan gugusan batu Menhir di daerah Sadang Wetan dan situs purbakala berupa batu – batu berlubang yang sengaja dibuat dengan maksud tertentu (kemungkinan lebih kepada pemahaman astronomi dan ritual) yang berada di tebing sungai yang dahulunya disinyalir sebagai palung laut (wilayah Kedung Pingit). Dalam penelitian tersebut ditemukan pula fosil – fosil biota laut dan fosil tulang dimana diantaranya telah diteliti oleh Dr. Erick Setiyabudi (Paleontolog Vertebrata) dan dinyatakan sebagai gigi gajah purba.

Penelitian akan terus berlanjut dengan harapan “dapat ditemukannya tengkorak atau kerangka manusia purba Kebumen sebagai subjek peradaban dari artefak – artefak dan situs purbakala yang telah ditemukan” dimana hal itu akan membuka khasanah baru bagi sejarah peradaban Kebumen umumnya dan dunia pada khususnya.

 

Salam Pancasila!

Kebumen, Jumat Kliwon 18 Oktober 2013
Oleh: Ananda. R

http://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2013/10/f-beliung-persegi-di-kebumen-6.jpghttp://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2013/10/f-beliung-persegi-di-kebumen-6-140x140.jpgAnanda. RSejarahAsal Usul berbagai tempat di Kebumen,atlantis yang hilang,catatan sejarah kebumen,Peradaban Kuno Kebumen,Tempat berwisata di KebumenMinimnya data mengenai adanya peradaban prasejarah di Kebumen menimbulkan kesangsian bagi sekelompok masyarakat dan kalangan tertentu yang terlanjur berkiblat pada buku – buku ulasan yang lazimnya beredar di kalangan akademisi. Hal itu terus terjadi meskipun kini telah banyak bukti bermunculan baik berupa data penelitian lama maupun bukti artefak –...Kembalinya jati diri Bangsa Indonesia yang berpancasila