Situs Pertabatan Brawijaya V (Ratu Kembar) di desa Suratrunan - Alian, Kebumen
Situs Pertabatan Brawijaya V (Ratu Kembar) di desa Suratrunan – Alian, Kebumen

Situs Pertabatan Brawijaya V (Ratu Kembar) adalah tempat bertapabratanya Brawijaya V (Ratu Kembar). Situs ini terletak di Gunung Koembang yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Gunung Puyuh desa Suratrunan kecamatan Alian kabupaten Kebumen (nama baru dari Panjer yang sebelumnya merupakan sebuah Nagara pada masa Majapahit).

 

  • Silsilah Raden Suputra/Raden Putra/ Harya Baribin

Sesuai dengan Serat Sarasilah Mataram dan Buku Ringkasan Babad Tanah Jawi diketahui bahwa Raden Suputra/Raden Putra/Harya Baribin adalah putra ke 5 dari Prabu Brawijaya IV (Bra Tanjung) dengan isteri Putri Pajang.

 

  • Perjalanan Brawijaya V (Ratu Kembar) ke Negara Panjer
Peta Wilayah Panjer Kini Menjadi Kebumen (lingkaran merah); Peta Raffles 1817
Peta Panjer Kini Menjadi Kebumen (lingkaran merah); Peta Raffles 1817

Kisah perjalanan Brawijaya V (Ratu Kembar) ke Negara Panjer dituliskan dalam “Tijdschrift Voor Indishche Taal – Land – En Volkenkunde

Inti terjemahannya sebagai berikut :

Dikarenakan tidak diperbolehkan adanya tahta kembar (setelah wafatnya Brawijaya IV/ Bra Tanjung) Raden Putra yang merupakan adik dari Raden Alit/ Angkawijaya/ Brawijaya V) akhirnya meninggalkan kerajaan Majapahit dengan ikhlas. Mengikuti saran dari Gajahmada, Raden Putra pun pergi ke arah barat di Negara Panjer untuk menjalani takdir besarnya. Dalam perjalanan, ia bertapa di beberapa tempat guna memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Salah satu tempat pertapaannya adalah di Gunung Koembang yang oleh masyarakat setempat kini lebih dikenal dengan nama Gunung Puyuh di desa Suratrunan Kecamatan Alian Kabupaten Kebumen. Dalam pertapaannya di Gunung Koembang (tempat tersebut merupakan situs kuno yang telah ada jauh sebelum kedatangan Raden Putra “dimungkinkan dahulunya merupakan Punden Berundak”) Raden Putra mendapat petunjuk untuk meneruskan perjalanan menuju ke Kaleng (kini masuk wilayah Kecamatan Puring).

 

Gunung Pager Dandang - Wagir Geong (Gunung Kenap Karangkembang) dan Gunung Koembang, 1857
Gunung Pager Dandang – Wagir Geong (Gunung Kenap Karangkembang) dan Gunung Koembang, 1857

 

Perjalanan dari Gunung Koembang akhirnya sampai ke daerah Kaleng. Dikisahkan bahwa Raden Putra kemudian beristirahat di bawah pohon Gendayakan. Tubuh Raja Pandita yang tengah keletihan ini ternyata memancarkan sinar yang amat terang dan terlihat oleh Ki Ageng Kaleng. Tokoh pemimpin dari wilayah Kaleng itu pun segera tahu bahwa orang yang berada di bawah pohon Gendayakan tersebut adalah seorang yang linuwih. Ia segera menghampiri dan setelah menanyakan nama dan asal usulnya, Raden Putra pun diajak ke rumahnya. Setelah beristirahat di Kaleng, Raden Putra diajak Ki Ageng Kaleng ke rumah Kyai Ayah yang pada saat itu sedang mengadakan sebuah pesta.

 

Dari Ayah, Raden Putra diantar oleh Kyai Ayah menuju kediaman Buyut Kejawar di Kejawar, sedangkan Ki Ageng Kaleng kembali ke kediamannya. Dari Kejawar Raden Putra diantar oleh Ki Buyut Kejawar menuju ke Pasir Luhur. Setelah menetap selama lima bulan di Pasir Luhur, Raden Putra meneruskan perjalanan menuju Pajajaran.

 

Di Pajajaran, Ia kemudian menikah dengan salah satu cucu Raja Pajajaran dan dianugerahi empat orang anak yakni:

  1. Raden Kaduhu (Adipati Margautama)
  2. Raden Banyak Sasra/Catra (Pasir Luhur)
  3. Raden Banyak Kumara (Adipati Kaleng)
  4. Rara Ngaisah (Nyai Mranggi Kejawar)

 

Singkat cerita, dari Pajajaran Raden Putra kemudian kembali ke timur dan menghabiskan masa hidupnya menjadi seorang Pandita di Gunung Grenggeng yang hingga kini dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Syekh Baribin.

Gunung Grenggeng - Karanganyar Kebumen, 1857
Gunung Grenggeng – Karanganyar Kebumen, 1857

 

  • Perubahan Negara Panjer menjadi Kadipaten

Masih dalam buku yang sama “Tijdschrift Voor Indishche Taal – Land – En Volkenkunde disebutkan bahwa :

Ketika Majapahit digantikan oleh Sultan dari Demak yang didukung oleh para Wali, Adipati Margahutama dan Ki Boewara pergi ke Demak untuk menganut Islam. Ki Boewara belajar Islam di Masjid Demak hingga waktu yang lama, sedangkan Adipati Margahutama pulang kembali ke Wirasaba. Kuwu (Yang Mulia) Panjer berubah gelarnya menjadi Adipati Panjer di bawah kekuasaan Demak setelah ia menyetujui Islam masuk di Negara Panjer. Sejak saat itu paham Islam pun dipeluk oleh semua rakyat, baik tua – muda, laki – laki – perempuan di kedua negara, yakni Panjer dan Wirasaba. Negara Panjer kemudian berubah menjadi Kadipaten Panjer.

 

Makam Kuwu Panjer bersebelahan dengan Pamoksan Gajahmada berada dalam kompleks bekas NV. Oliefabrieken Insulinde Keboemen/ Mexolie/ Sarinabati Panjer – Kebumen (dibangun tahun 1851). Tempat tersebut merupakan Kraton dari Negara/ Kadipaten Panjer yang pada tahun 1832 berhasil dibumihangus oleh Belanda.

 

  • Perjalanan Raden Jaka Lancing di Negara Panjer

Sesuai dengan Serat Sarasilah Mataram R. Jaka Lancing/ R. Banyakpatra/ Arya Surengbala/ Panembahan Maduretna adalah putra ke 50 dari Brawijaya V (R. Angkawijaya/ R. Alit; kakak dari Raden Putra). Oleh ayahnya (Brawijaya V/ Raja Majapahit VII) Jaka Lancing diserahkan kepada Kyai Aden Gesikan Tanah Panjer untuk dididik ilmu ruhani. Setelah dirasa cukup menimba ilmu Kyai Aden, Jaka Lancing kemudian bertapa di Gunung Pager Dandang – Wagir Geong tanah Panjer (kini disebut oleh masyarakat setempat sebagai Gunung Kenap Karangkembang: tempat tersebut merupakan situs kuno yang telah ada jauh sebelum kedatangan Jaka Lancing “dimungkinkan dahulunya merupakan situs candi dari batuan gamping dimana memiliki kesamaan struktur dengan lokasi situs Sigedong yang berada di desa Candi kecamatan Karanganyar kabupaten Kebumen”). Dari Gunung Kenap, sesuai dengan petunjuk yang diperoleh dalam pertapaannya maka Jaka Lancing meneruskan perjalanannya ke Mirit dan menjadi Pandita hingga wafatnya. Kini Jaka Lancing lebih dikenal sebagai Mbah Lancing.

SILSILAH BRAWIJAYA V (RATU KEMBAR)

 

RADEN SUSURUH (PRABU BRAWANA)
RAJA MAJAPAHIT I
!
!
RADEN JAKA MANGURI (PRABU BRAKUMARA)
RAJA MAJAPAHIT II
!
!
RADEN ADANINGKUNG/ARYA ADIWIJAYA
(RAJA MAJAPAHIT III / BRAWIJAYA I)
!
!
RADEN HAYAM WURUK / ARYA PARTAWIJAYA
RAJA MAJAPAHIT IV / BRAWIJAYA II
!
!
RADEN PUTRA / ARYA MARTAWIJAYA / LEMBU AMISANI
RAJA MAJAPAHIT V / BRAWIJAYA III
!
!
RADEN SEWAYA / MERTAWIJAYA / BRA TANJUNG
RAJA MAJAPAHIT VI / BRAWIJAYA IV

 

ISTERI :

  • DEWI TAMPEN             1) RADEN ALIT / ARYA ANGKAWIJAYA/RAJA MAJAPAHIT VII / BRAWIJAYA V
  • DEWI MANDHAKINI   2) RETNA BUKASRI
  • DEWI TAMPEN              3) RETNA MUNDRI
  • PANGREMBE/SELIR   4) RETNA PALUPI
  • PUTERI PAJANG          5) RADEN SUPUTRA/PUTRA/HARYA BARIBIN/RAJA BRAWIJAYA V/RATU PANDITA
  • PANGREMBE/SELIR    6) RADEN PAMEKAS/NARAWANGSA/PANGERAN KANDHURUWAN

 

Acara Peletakan batu pertama Pemugaran Situs Pertabatan Brawijaya V di Suratrunan, Alian – Kebumen, Selasa Pahing 6 Mei 2014

 

 Kebumen, Selasa Legi 21 April 2014
Oleh: Ananda. R

http://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2014/04/situs-pertabatan-raden-putra-di-suratrunan-alian-kebumen.jpghttp://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2014/04/situs-pertabatan-raden-putra-di-suratrunan-alian-kebumen-140x140.jpgAnanda. RSejarahbuku sejarah kebumen,catatan sejarah kebumen,Pertabatan Brawijaya di Kebumen,Sisi Gelap Sejarah Kebumen,tempat-tempat bersejarah di kebumenSitus Pertabatan Brawijaya V (Ratu Kembar) adalah tempat bertapabratanya Brawijaya V (Ratu Kembar). Situs ini terletak di Gunung Koembang yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Gunung Puyuh desa Suratrunan kecamatan Alian kabupaten Kebumen (nama baru dari Panjer yang sebelumnya merupakan sebuah Nagara pada masa Majapahit).   Silsilah Raden Suputra/Raden Putra/ Harya...Kembalinya jati diri Bangsa Indonesia yang berpancasila