Setapak Menuju Sufi

Jul 14th, 2012 | By | Category: Spiritual
Setapak Menuju Sufi oleh Ravie Ananda

Setapak Menuju Sufi oleh Ravie Ananda

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah peristiwa spiritual terbesar yang hingga kini menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan umat Islam dan para alim ulamanya. Ada pun hal yang menjadi perbedaan adalah mengenai “kesertaan Jasad” Beliau ketika Isra’ Mi’raj itu berlangsung. Sebagian Ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW ber Isra’ Mi’raj dengan jasadnya, sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa Nabi hanya ber Isra’ Mi’raj dengan Ruhnya saja. Kedua pendapat ini tentunya mempunyai dasar dalil masing – masing.

Tergugah akan fenomena tersebut, saya ingin memaparkan pendapat pribadi tentang Isra’ Mi’raj berdasarkan Al Quran. Mengapa saya menggunakan Al Quran? jawabnya sangat jelas, “karena Al Quran adalah sumber dari segala sumber hukum Islam dan satu-satunya Mu’jizat Nabi Muhammad SAW yang membedakannya dengan mujizat para nabi sebelumnya”.

Hemat saya, apa pun dasar hukumnya dan sesahih apa pun hukum tersebut, jika ternyata bertentangan dengan hukum (ayat) Al Quran, maka sudah seharusnyalah kewajiban kita untuk menggugurkan hukum selain Al Quran tersebut, dan bukan malah sebaliknya, mengkondisikan Al Quran agar sesuai dan tidak bertentangan dengan Hukum selain Al Quran (hal itu dimungkinkan terjadi karena keterlanjuran mendarah dagingnya fanatisme ke Imaman (kemazhaban) dan kitab-kitab acuan karya para imam tersebut).
Kajian Etimologi Isra’ Mi’raj
Secara etimologi (bahasa) Isra’ Mi’raj berasal dari dua kata yaitu :
Isra’ yang berarti berjalan (pada malam hari), dan
Mi’raj yang berarti naik

 

Dalam konteks khusus, Isra’ Mi’raj berarti Perjalanan Nabi Muhammad SAW di malam hari (mulai dari Masjidil Haram di Mekah menuju ke Masjid yang jauh (Masjidil Aqsha di Palestina dan kemudian naik ke langit tertinggi (Sidratul Muntaha)).
Ulama yang berpendapat bahwa bahwa Nabi ber Isra’ Mi’raj dengan Jasadnya berpedoman pada penafsiran kata “HambaNya” pada ayat pertama surat Al Isra’.

Ulama tersebut mengartikan bahwa yang dimaksud dengan hambaNya adalah wujud utuh Jasadi dan Ruhaninya dengan alasan keistimewaan Nabi yang bersifat istimewa di segala hal, sehingga apa pun itu, sampai hal-hal yang tidak masuk akal sekali pun akan mungkin terjadi jika hal tersebut mengenai pribadi Nabi Muhammad SAW. selanjutnya…. download dalam format pdf (752KB)

Kebumen2013.com

Artikel Terkait:

Kesambet, Keselong, Paranormal dan Makhluk Halus
Situs Spiritual Kali Pancur, Peniron - Pejagoan
Sendang Arum Kutowinangun, Airnya Dipercaya Berkhasiat sebag...
LINTANG PANJER WENGI, Renungan Filosofis Damardjati Supadjar...
Tags: , , ,

Leave a Comment