Masjid Istiqlal merupakan masjid nasional dan menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Soekarno. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Beliau pada tanggal 24 Agustus 1951. Masjid Istiqlal dibangun sebagai masjid monumental negara yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia di lokasi bekas benteng Belanda yang dikenal sebagai Citadel Prins Frederick.

 

Masjid Istiqlal Jakarta
Masjid Istiqlal Jakarta, foto: blog-lakupon
Citadel Prins Frederik di dekat Weltevreden Batavia, 1880
Citadel Prins Frederik di dekat Weltevreden Batavia, 1880

 

Sejarah Citadel (Benteng) Prins Frederik

Sebuah literatur menyebutkan bahwa Citadel (benteng) Prins Frederik dibangun pada tahun 1837 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal van den Bosch. Arsitek benteng adalah Insinyur Kolonel Carel van der Wyck sedangkan Kapten Lucius Gerhard Johan George Schonermarck bertindak sebagai penanggung jawab konstruksi. Peletakan batu pertama dan peresmian benteng (setelah jadi) dilakukan oleh Pangeran Willem Frederik, salah satu putra Raja William II dari Belanda yang namanya kemudian dijadikan sebagai nama benteng tersebut.

 

Sebelum dibangun menjadi Citadel (benteng) Prins Frederik, situs ini pernah menjadi lokasi kedai/kantin yang dibangun sebelum 1669. Akan tetapi jika kita melihat peta tahun 1860 lokasi kantin bukan berada di Citadel (benteng).

Peta Batavia tahun 1860
Peta Batavia tahun 1860
Keterangan: (1)Citadel Prins Frederik, (2)Militaire Cantine

 

Pada tahun 1723 sersan mayor Herman van Baijen merenovasinya sebagai rumah besar Negara. Kemudian pada tahun 1743-1820 gedung ini digunakan sebagai rumah sakit yang dinamakan Rumah Sakit Outer karena lokasinya di luar tembok kota. Lokasi tersebut dianggap sehat karena berada di perbukitan rendah di pedalaman Batavia sehingga risiko malaria lebih rendah. Daerah ini dikenal sangat subur karena kaya akan humus. Jika melihat peta tahun 1860 kita dapati pula lokasi rumah sakit (hospital) bukan berada di lokasi yang kemudian menjadi benteng.

Peta Batavia tahun 1860
Peta Batavia tahun 1860
Keterangan: (1)Citadel Prins Frederik, (2)Nieuw Hospitaal

Hal ini didukung pula oleh literatur yang lebih tua (tahun 1662) yang telah menyebutkan adanya benteng yang dikenal sebagai Noordwyck Fort di lokasi yang kini menjadi masjid Istiqlal jauh sebelum adanya benteng Prins Frederik. Dilihat dari kurun tahun tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa benteng itu telah ada pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen yang memerintah Hindia Belanda selama dua periode yakni 1619-1623 dan 1627-1629.

Peta Batavia 1662, Benteng Noordwyck Fort
Peta Batavia 1662, Benteng Noordwyck Fort
Peta Batavia 1762, Benteng Noordwyck Fort
Peta Batavia 1762, Benteng Noordwyck Fort

Adanya benteng kuno itu disebutkan pula dalam cerita turun-temurun rakyat Bagelen yang kemudian dibukukan dalam “Sejarah Dinasti Kanjeng Raden Adipati Tumenggung Kalapaking 1677-1832” karya R. Tirto Wenang Kolopaking (cetakan pertama 1997) halaman 28 :

“Pada tahun 1624 bahan pangan mulai terkumpul, lumbung-lumbung mulai berdiri dan prajurit Mataram mulai berdatangan di Panjer dalam rangka penyerbuan ke Jayakarta. Pada tahun 1627 Ki Bagus Badranala menjadi pengawal bahan pangan yang dikirim dari Panjer ke Jayakarta dan ikut berperang di wilayah Rawa Bangke. Ia diangkat sebagai Senopati Ngalaga mempimpin perang di sayap Utan Kayu. Kompeni menderita kekalahan dan masuk ke dalam benteng yang kini menjadi Masjid Istiqlal. Banyak korban berjatuhan. Prajurit Mataram banyak yang menderita muntaber dan akhirnya mundur kembali ke Panjer untuk menyusun kekuatan. Ki Soewarno yang tidak ikut ke medan perang diangkat menjadi adipati urusan bahan pangan di Panjer. Pengiriman bahan pangan dari Panjer ke Jayakarta selanjutnya ditangguhkan karena prajurit Mataram telah mundur dan masuk ke Ajibarang.”

Peristiwa tersebut sesuai dengan data tentang kematian Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen (JP. Coen) yang meninggal di Batavia pada tanggal 21 September 1629, dimana terdapat dua versi penyebabnya. Pertama versi Belanda yang menyebutkan bahwa JP. Coen meninggal karena kolera yang kini lebih dikenal dengan muntaber. Sedangkan versi kedua meyebutkan bahwa kematian JP. Coen akibat serangan bala tentara Sultan Agung dari Mataram. Dari kedua versi ini kemudian diyakini bahwa JP. Coen meninggal karena terjangkit wabah kolera yang sengaja disebarkan oleh pasukan Mataram di Sungai Ciliwung setelah peristiwa Serangan Besar di Batavia tahun 1628.

Peta Batavia tahun 1860
Peta Batavia tahun 1860
Keterangan (1)Citadel Prins Frederik, (2)Sungai Ciliwung, (3)Pemakaman.

Penyerangan pasukan Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma Panjer ke Batavia di bawah pimpinan Ki Badranala diabadikan pula dalam gerakan Sendratari Yudha Cakrakusuman Panjer (Ebleg Singa Mataram) yang menggambarkan perjalanan pasukan Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma dalam penyerangan ke Batavia dimulai dari Kraton Mataram – Panjer – Batavia.

Anggota TNI Kodim 0709/Kebumen memperagakan Sendratari Yudha Cakrakusuman Ebleg Singa Mataram Panjer, dalam peringatan HUT TNI ke 67 pada tanggal 5 Oktober 2012 di alun-alun Kebumen
Anggota TNI Kodim 0709/Kebumen memperagakan Sendratari Yudha Cakrakusuman/ Ebleg Singa Mataram Panjer, dalam peringatan HUT TNI ke 67 pada tanggal 5 Oktober 2012 di alun-alun Kebumen

 

Mengungkap Misteri Makam Jan Pieterszoon Coen (JP. Coen)

Peta Batavia tahun 1890
Peta Batavia tahun 1890
Keterangan: (1)Daerah Noordwijk, (2)Citadel Prins Frederik, (3)Standb JP.Coen, (4)Europe Kerkhof

Makam JP. Coen yang kini disebut-sebut berada di dalam museum wayang Jakarta ternyata masih disangsikan. Ada yang menyebutkan bahwa yang ada di lokasi tersebut hanyalah bagian penutup makamnya saja. Jika melihat peta tahun 1890 sangat dimungkinkan keberadaan makam JP. Coen yang sesungguhnya ada di kompleks pemakaman Eropa/Europe Kerkhof yang terletak di sebelah barat Konings Plein (sekarang Monas) sebab lokasi ini berdekatan pula dengan Citadel/benteng dan Standb JP. Coen (kediaman JP. Coen).

Jan Pieterszoon Coen (JP. Coen) Gubernur-Jenderal Hindia Belanda (1619 – 1623 & 1627 – 1629)
Jan Pieterszoon Coen (JP. Coen) Gubernur-Jenderal Hindia Belanda (1619 – 1623 & 1627 – 1629) – wikipedia
Keterangan: (1) Peta tahun 1890, (2)Peta Jakarta – Google
Perbandingan Lokasi Citadel Prins Frederik antara peta Batavia 1890 dengan peta sekarang Keterangan: (1) Peta tahun 1890, (2)Peta Jakarta – Google

Anak panah pada peta di atas merupakan penanda kesamaan lokasi antara bangunan Masjid Istiqlal dengan Citadel (benteng) Prins Frederik. Begitu pula aliran sungai Ciliwung dan posisi Lapangan Monumen Nasional yang sebelumnya bernama Konings Plein.

 

Candrasengkalan Bumi Panjer

Peristiwa penyerangan pasukan mataram Sultan Agung yang dimulai dari panjer menuju Batavia mempunyai arti tersendiri bagi keberadaan Panjer (Kebumen saat ini). Dari beberapa literatur di atas dapat diketahui bahwa persiapan penyerangan dimulai pada tahun 1624 dimana pasukan Mataram mulai berdatangan di lumbung logistik Panjer untuk selanjutnya menyusun kekuatan dan taktik.

Peristiwa tersebut dilanjutkan dengan keberangkatan pasukan elit Mataram termasuk di dalamnya Ki Badranala dan Ki Marga Ewuh dari Panjer menuju Batavia pada tahun 1627. Puncak penyerangan terjadi pada tahun 1628 yang mengakibatkan kematian Jan Pieterszoon Coen (JP. Coen). Dapat dikatakan bahwa tahun 1624 merupakan tahun penting bagi bumi Panjer terkait perannya dalam peristiwa nasional di masa itu. Selanjutnya tahun 1624 diabadikan dalam dua Candrasengkalan yakni 1545 Jawa dan 1033 Hijriyah. Dipilihnya dua candrasengkalan ini tidak terlepas dari sejarah penting adanya penggabungan sistem kalender/penanggalan Jawa dan Hijriyah (Islam) oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma sebagai raja Mataram Islam ke 3.

Candrasengkalan bumi Panjer berbunyi sebagai berikut:

1545 Jawa : “CAKRA WENING HANATA BUDHI” yang berarti Senjata Ketenangan Menata Budi.

1033 Hijriyah : “AGNI RANANGGANA HAMBRASTA SATRU” yang berarti Api Peperangan Menghancurkan Musuh.

 

 

Oleh: Ananda. R
Kebumen, Rabu Kliwon 31 Maret 2015

http://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2015/04/masjid-istiqlal-jakarta.jpghttp://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2015/04/masjid-istiqlal-jakarta-140x140.jpgAnanda. RSejarahcatatan sejarah kebumen,Citadel Prins Frederik,Jan Pieterszoon Coen (JP. Coen),Sejarah Masjid Istiqlal Jakarta,Sisi Gelap Sejarah KebumenMasjid Istiqlal merupakan masjid nasional dan menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Soekarno. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Beliau pada tanggal 24 Agustus 1951. Masjid Istiqlal dibangun sebagai masjid monumental negara yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia di lokasi bekas benteng Belanda yang...Kembalinya jati diri Bangsa Indonesia yang berpancasila