Sejarah Kaleng, Pucang, Brangkal, Kabupaten Roma (Jatinegara), Kruwed, dan Kabupaten Karanganyar: Perspektif Kebangkitan Nasional 1825-1900

May 14th, 2012 | By | Category: Sejarah
Kantor Pos Gombong tahun 1920

Kantor Pos Gombong tahun 1920 (kitlv Belanda)

Embrio Kabupaten Roma
Kabupaten Roma merupakan hasil Blengketan (fusi) dari Kabupaten Pucang dan Kabupaten Kaleng (pesisir Selatan). Fusi ini merupakan keputusan Sultan Pajang pada tahun 1543. Kabupaten ini beribukota di Sidayu (Utara Gombong).

Sebelum difusikan, Bupati Pucang dijabat oleh Kyai Adipati Jannah yang sebelum menjabat bernama Kyai Bojogati (makam di Gunung Grenggeng; timur Panembahan Grenggeng). Sedangkan Bupati Kaleng dijabat oleh Kyai Adipati Banyakgumarang, keturunan Adipati Pasir (Purwokerto) yang bernama Raden Kamandaka/Lutung Kasarung, keturunan dari Raja Pajajaran.

Sebagai Bupati Roma pertama diangkatlah Kertiwicana I. Sedangkan putra dari Bupati Kaleng diberi jabatan Ngabei (setingkat Wedana) di Kaleng dengan gelar Kyai Ngabei Wirokerti. Kertiwicana I wafat (dimakamkan di Sampang) dan digantikan oleh putranya yang bergelar Kertiwicana II (makam di Sampang) yang setelah wafatnya digantikan oleh putranya yang bergelar Kertanegara I. Pada masa pemerintahan Kertanegara I inilah ibukota kabupaten Roma dipindah di Jatinegara.

 

Asal – Usul Nama Wagerglagah/Wagirglagah
Setelah Kabupaten Kaleng dan kabupaten Pucang difusikan oleh Sultan pajang, Kyai Banyakgumarang menekuni dunia kapanditan (mbegawan) dengan belajar dan memperdalam agama Islam kepada Panembahan Grenggeng. Setelah dirasa memiliki bekal yang cukup, Banyakgumarang bertapa di gunung Pletuk, desa Kedungwringin, utara Gombong. Bertahun – tahun ia bersila tanpa bergerak, sampai tempat bersila dan badannya ditumbuhi alang – alang dan rumput glagah. Utusan Kanjeng Panembahan Grenggeng yang diperintahkan untuk memanggil Banyakgumarang pun mengalami kesulitan saat menemukannya. Setelah membabati glagah dan ilalang, barulah Banyakgumarang ditemukan dalam kondisi hidup dan segar badannya. Sejak saat itulah Banyakgumarang disebut Kyai Wagerglagah. Setelah wafat, jenazahnya dimakamkan di bawah pertapaannya di desa kedungwaringin/Kedungwringin.

 

Kyai Muhammad Syafi’i Penasehat Diponegoro
Salah satu keturunan Kyai Wagerglagah adalah Kyai Muhammad Safi’i. Ia adalah putra darri Kyai Muhammad Jafar (makam di Brangkal) bin Kyai Nuryadin/Nur Muhammad (makam di Jungkemureb Alang – alang Amba Karanganyar) bin Kyai Jubari (makam di Kedungbulus, utara Gombong) bin Kyai Wirokerti Ngabehi Kaleng (makam di Kaleng) bin Kyai Wagerglagah.

Kyai Muhammad Syafi’i diambil menantu oleh Kyai Muhammad Ngisa Krandegan (Puring) (?). Ia kemudian menuntut ilmu di Dongkelan Yogyakarta mengikuti Kyai Syahabudin (kakeknya; ayah dari Ibunya).

Pada suatu ketika, Sultan Hamengku Buwana II (Sinuwun Banguntapa) memerintahkan Kyai Syahabudin untuk menulis Quran. Berhubung ia sudah tua, pekerjaan itu ia serahkan kepada Kyai Muhammad Syafi’i cucunya. Alhasil Sultan Hamengku Buwana II puas sekali dengan karyanya tersebut. Kyai Muhammad Syafi’i pun dipanggil menghadap dan ditanya berbagai macam hal. Selanjutnya, atas kepercayaan Sultan Hamengku Buwana II, Kyai Muhammad Syafi’i dinikahkan dengan salah satu cucu Sultan yang bernama BRA Maryam, (putri Sultan Hamengku Buwana III/ Sinuwun Raja), adik Pangeran Dipanegara. Dengan kata lain, Kyai Muhammad Syafi’i menjadi adik ipar Pangeran Dipanegara.

Kyai Muhammad Syafi’i  yang meminta izin untuk kembali tinggal di kabupaten Roma diberi tanah lungguh (bengkok) di desa Brangkal dan diberi jabatan Mufti oleh Sultan Hemengku Buwana II. Ia juga diberi wewenang menikahkan orang dari desa Brangkal, Setanakunci, Kedunglo, Pucang, Prapag, Klapagada, Pekuncen, Kedungbulus, Kedungwringin, Pejaten dan Pohkumbang.

Kyai Muhammad Safi’i mengajarkan agama Islam di Brangkal dan mendirikan Masjid pada 1813. Brangkal masuk dalam wilayah Kabupaten Roma yang pada saat itu telah beribukota di Jatinegara utara Gombong.

 

Transisi Kepemerintahan di Kabupaten Roma
Kyai Kertanegara I diangkat menjadi Patih Kartasura bergelar Kanjeng Raden Adipati Mangunpraja, sehingga jabatan Bupati Roma kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Raden Tumenggung Kertanegara II.

Setelah Adipati Mangunpraja wafat (dimakamkan di Pekuncen, utara Gombong), Tumenggung Kertanegara II ditarik ke Solo (pada saat itu kraton telah dipindahkan dari Kartasura ke Solo). Di sana Kertanegara II dijadikan Bupati Nayaka (makam di Laweyan Solo). Kedudukan Bupati Roma kemudian digantikan oleh adik Kertanegara II yang saat itu telah menjabat sebagai Bupati Anom di Ayah bergelar Raden Tumenggung Kertanegara III.

Setelah Kertanegara III wafat (makam di Pekuncen), Bupati Roma selanjutnya digantikan oleh cucu RT. Kertanegara II jalur laki – laki yang bernama Raden Panji Indrajit, kemudian bergelar Kertanegara IV.

 

Dukungan Kabupaten Roma terhadap Dipanegara
Pada saat terjadinya perang Dipanegara, Raden Tumenggung Kertanegara IV selaku bupati Roma saat itu bersama warganya mendukung Pangeran Dipanegara. Kertanegara IV kemudian diberi gelar Senopati Banyakwide oleh Pangeran Dipanegara.

Peristiwa Perang Dipanegara
Pada saat terjadinya perang Dipanegara, Kyai Muhammad Syafi’i Brangkal yang merupakan adik ipar Dipanegara juga ikut aktif membantu dalam peperangan bersama RM. Arya Mangunprawira (adik Pangeran Dipanegara) dan RM. Jayaprana (adik sepupu Pangeran Dipanegara; putra Pangeran Arya Murdaningrat). Kyai Muhammad Syafi’i menjadi penesehat Pangeran Dipanegara menggantikan Kyai Maja. Pangeran Dipanegara bersama pasukannya bermarkas di Brangkal ketika melakukan penyerangan terhadap Belanda di Wilayah Roma (sekarang masuk dukuh di desa Kalibeji Kec. Sempor).

 

Pertempuran Candi
Pada tanggal 18 April 1829 Tumenggung Banyakwide (Tumenggung Kartanegara IV) tertangkap oleh Mayor Buschkens di Kemit. Meskipun Bupati Roma IV ini tertangkap Belanda, perlawanan rakyat Roma terus berlangsung. Bahkan pasukan Belanda secara sekonyong-konyong diserang oleh pasukan rakyat di desa Candi. Penyerangan mendadak ini mengakibatkan jatuhnya korban dipihak Belanda, sehingga desa Candi pun kemudian dibumihanguskan Belanda sebagai wujud kemarahan mereka, sekaligus untuk memberi peringatan pada rakyat yang mendukung Dipanegara.

Pertemuan Pertama Pihak Belanda dengan Pangeran Dipanegara
Pada tanggal 16 Februari 1830, terjadilah petemuan yang pertama antara Pangeran Dipanegara dan wakil tentara Belanda yakni Kolonel Cleerens (mewakili Jenderal de Kock yang sedang berada di Batavia) di desa Roma Kamal, di sebelah utara Roma Jatinegara. Setelah pertemuan ini, diadakan pertemuan lanjutan di desa Kejawang dan kemudian di Magelang yang berakhir dengan penangkapan Pangeran Dipanegara.

Pasca Penangkapan Pangeran Dipanegara
Pasca penangkapan Pangeran Dipanegara, RM. Arya Mangunprawira dan RM. Arya Jayaprana juga tertangkap di desa Brangkal. Setelah dianggap tidak membahayakan lagi, RM. Arya Mangunprawira diangkat sebagai Pembantu Kolektur di Muntilan sedangkan RM Arya Jayaprana dijadikan pegawai pengadilan di Purworejo. Selanjutnya RM. Arya Mangunprawira diangkat menjadi Kolektur (setingkat Ka Dis Pemda) di Kebumen dan diawasi oleh Adipati Arungbinang IV Bupati kebumen, sedangkan RM. Arya Jayaprana diangkat menjadi Beskal (suatu jabatan di Pengadilan Belanda) di Purworejo.

 

Pemerintahan Kabupaten Roma Pasca Perang Dipanegara
Setelah perang Dipanegara berakhir, Bupati Roma dijabat oleh Raden Tumenggung Sindunegara, Bupati Nayaka dari kraton Yogyakarta. Bupati Roma ini diberi pangkat Mayor oleh Belanda dan bertempat tinggal di Gombong.

Warga Kabupaten Roma yang memihak Dipanegara dapat ditumpas Belanda dengan mengerahkan pasukan yang terbagi dalam empat kelompok besar yang dipusatkan di Kenteng Kemit, Petanahan, dan dua wilayah lainnya. Pasukan ini sengaja dikerahkan untuk membantu Tumenggung Mayor Sindunegara yang bekerjasama dengan Belanda. Benteng pertahanan Belanda saat itu bernama Fort General Cochius. Raden Tumenggung Kusumareja (Bupati Anom) didatangkan dari Yogyakarta untuk membantu Raden Tumenggung Mayor Sindunegara mengatur kembali desa – desa yang rusak akibat pertempuran serta mengatur masalah pajak.

Pada tahun 1838 warga kabupaten Roma dan Ambal berontak kembali melawan Kasultanan Yogyakarta yang pada saat itu pro kepada Belanda.  Pemberontakan dipimpin oleh para bekas pengikut Dipanegara. Pemberontakan tersebut mengakibatkan kedua bupati dari masing – masing kabupaten itu mengungsi.  Di kabupaten Roma, pemberontakan dipimpin oleh Kyai Kramaleksana dari Kuwaru (putra Pangeran Purwadiningrat yang ikut bergabung dengan Dipanegara). Pemberontakan itu berakhir dengan pejanjian bersyarat dari Kyai Kramaleksana dimana pemerintah Roma dikemudian hari tidak boleh memperlakukan anak cucu dan keturunannya dengan sewenang – wenang.

Setelah pemberontakan dapat diredakan, RM. Arya Mangunprawira diangkat menjadi wakil Bupati Ambal, sedangkan RM. Arya Jayaprana dijadikan wakil Bupati Roma dan bertempat tinggal di dusun Kruwed desa Jatinegara (sebelah barat pasar Gombong sekarang). Kedua Wakil Bupati tersebut kemudian diangkat menjadi Bupati di masing – masing kabupatennya. RM. Arya Mangunprawira memakai gelar Purbanegara sebagai Bupati Ambal dengan ibukota tetap di Ambal, sedangkan RM. Arya Jayaprana bergelar Jayadiningrat.

RM. Arya Jayaprana bersedia dijadikan Bupati Roma dengan syarat Belanda tidak boleh secara langsung memerintah rakyat, melainkan hanya sebagai penasehat. Semua perintah kepada rakyat harus atas persetujuan dan melalui RM Arya Jayaprana. Pangkat Bupati Jayaprana tidak di bawah Residen, melainkan sederajat. Syarat – syarat tersebut disetujui Belanda asal kabupaten Roma menjadi tenteram.

Jayaprana bergelar Adipati, payungnya berwarna kuning kemilauan (warna keseluruhan payung kuning, sama dengan payung Residen). Ia juga membuat ketentuan bahwa yang diperbolehkan naik kendaraan/kereta/andong sampai ke tratag rambat hanya Residen. Asisten Residen dan pejabat yang lebih rendah harus turun dari kendaraan di paseban di alun – alun dan untuk sampai di pendopo harus bejalan kaki. Jayaprana kemudian bergelar Kanjeng Raden Adipati Jayadiningrat.

Atas pertimbangan kurang strategis dan luasnya kompleks Kabupaten, maka pada tahun 1841 ibukota kabupaten Roma dipindahkan dari Gombong ke tempat yang baru dan kemudian dinamakan Karanganyar. Kabupaten Roma kemudian berubah menjadi Kabupaten Karanganyar.

Pada tahun 1868 Belanda telah berhasil menundukkan semua kabupaten di sekitar Karanganyar. Sikap Adipati Jayaningrat yang memegang teguh perjanjian Roma mengakibatkan orang – orang yang setia terhadap Adipati dipindah dan diganti dengan orang – orang yang setia kepada Belanda. Jayadiningrat dicari – cari kesalahannya. Orang – orang pedesaan dihasut dan dibujuk agar membenci Bupatinya. Taktik Belanda ini sampai berakibat adanya unjuk rasa yang diatur oleh para pejabat yang setia kepada Belanda.

 

Sumber Buku:

  1. M.D, Sagimun, Pahlawan Dipanegara Berjuang (Bara Api Kemerdekaan Nan Tak Kunjung Padam), 1956, Jogjakarta, Tjabang Bagian Bahasa, Djawatan Kebudajaan Kementerian P.P. dan K. Jogjakarta MCMLVII.
  2. Soenarto, HR, Sejarah Brangkal, Kabupaten Roma (Jatinegara/Kruwed) dan Kabupaten Karanganyar.

 

Tim Penggalian dan Penulisan Sejarah :

  1. Kapten Suko Wardoyo                    Kanminvetcad Kabupaten Kebumen
  2. Bambang Priyambodo, S. Sos      PPM Macab Kebumen
  3. Ravie Ananda, S. Pd                      Pemerhati Sejarah
  4. Serka Marjuki                                   KODIM 0709 Kebumen
  5. Pelda Sudarsin                                KODIM 0709 Kebumen

 

Harkitnas 20 Mei 2012
Kabupaten Kebumen

Ravie Ananda

"Fakta dan data sejarah akan datang seiring pudarnya sejarah itu sendiri, karena pada hakikatnya sejarah adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa dipungkiri sebagai pohon semesta yang kokoh berakar. Alam memiliki mekanisme ajaib dalam memunculkan kebenaran seperti juga masa depan yang menunjukkan jalannya sendiri" Ravie Ananda

Artikel Terkait:

Buku Pustaka Bangun Riwayat Mbah Ahmad Alim Bulus – Purworej...
BERBURU JEJAK SOEKARNO # 2: Gemblengan Sang Proklamator untu...
Heru Subagyo dan Mexolie - Penggalan Kisah Pejuang Sejati ya...
Peresmian "Monumen Perjuangan di Keboen Radja Panjer&qu...
Tags: , , , ,

33 Comments to “Sejarah Kaleng, Pucang, Brangkal, Kabupaten Roma (Jatinegara), Kruwed, dan Kabupaten Karanganyar: Perspektif Kebangkitan Nasional 1825-1900”

  1. [...] ada, tepatnya sejak masa Pra Islam. Satu hal yang sangat disayangkan adalah “ Nyaris hilangnya riwayat Panjer Kuno baik dalam masyarakat di wilayah tersebut maupun dalam pengetahuan masyarakat Kabupaten Kebumen [...]

  2. Menarik sekali Ki, inilah jati diri kita Kebumen-Panjer Tercinta, semoga rating blog makin meningkat jadi pembaca semakin banyak…amin

  3. ravieananda says:

    amin..semoga semua pihak bangkit untuk kebumen..dan lebih menjaga peninggalan sejarahnya. habib lutfi bin yahya ketika kemarin singgah di panjer kebumen pada tanggal 25 oktober 2012 (selama 3 jam) berkata ” peninggalan – peninggalan masa lalu jangan dirusak, agar generasi penerus tahu akan jati dirinya.

  4. Sofia Purbo says:

    Terima kasih atas penulisan sejarah Kebumen ini… Saya terharu, karena mungkin sebagian besar keluarga kami hanya menganggap Brangkal hanya pemakaman saja., yang setiap tahun kami ziarahi.

    • ravieananda says:

      sudah seharusnya kita merawat dan menjaga sejarah dan peninggalan para pendahulu karena itulah satu-satunya cara mengenal jati diri sebagai sebuah bangsa yang besar. malu menjadi keturunan leluhur kita sama saja malu menjadi bangsa Indonesia, MERDEKA !!

      • Sofia Purbo says:

        Para ulama yang dimakamkan di Brangkal ini meninggalkan banyak kitab yang mereka tulis sendiri dalam huruf Pegon yang berisi ilmu2 tasawuf karena mereka adalah para mursyid thorekot Syathoriah. Pada masa penjajahan Belanda kitab2 tsb disimpan di rumah Kyai Abdusysyakur di Kauman Karanganyar, dan dengan berkecamuknya perang, dimana pimpinan gerilya adalah Kyai Syirod (adik dr Kyai Abdusysyakur) dan rumah yg tepat disamping mesjid Kauman Karanganyar dihancurkan oleh Belanda, maka semua kitab dipindahkan ke KedungPuji. Dan saat ini tersimpan aman di Balak, Kabupaten Magelang.

  5. agus bangun says:

    tolong bila ada sertakan pula untuk silsilah raja roma (jatinegara)

  6. sodik says:

    tolong, kami lagi cari sejarah kaleng, diberi referensi, terimakasih

  7. ravieananda says:

    untuk silsilah kadipaten roma jatinegara (rajanya) belum kita temukan detail.yang ada cuma sejarah singkat kabupaten roma dari babad setempat yang hubungannya dengan fusinya kabupaten kaleng dan pucangan.kemudian menjadi Roma..kruwed dsb..coba besok kalo ada data lagi akan kita publikasikan trimakasih.

  8. ravieananda says:

    untuk tambahan data tentang peninggalan brangkal, trimakasih banyak mas..kalo bisa panjenengan tulis yang lengkap dan urut, nanti bisa kita publikasikan lewat web ini. agar semua masyarakat kebumen tau. web ini adalah ajang masyarakat kabupaten kebumen dimana sangat kita tunggu sumbangan sejarah babad lokal sari berbagai daerah di kabupaten kebumen untuk kita publikasikan kepada seluruh warga kebumen. trimakasih

  9. bambang wicaksono says:

    ingat gombong ingat mbah Giombong

  10. taufiq says:

    ingatanku tentang gombong adalah dengan simbah. namanya mbah brangkal (mbah mahfud bin KH. sirad). lokasinya pondoknya disamping sungai (lupa namanya) samping masjid. waktu kecil jika bulan puasa kami cucu2 tinggal disana. saat menyeberang sungai yang biasa banjir kami yang masih kecil selalu dipunji oleh pak Zimam (kalau tidak salah waktu itu beliau adalah Carik desa kelopogodo brangkal).

  11. sigit ...999 says:

    ada yang tahu gk,,,,,, nama2 keturunan dari Kh. sirad. brangkal?

  12. sigit ...999 says:

    ada yang tahu gk,,,,,, nama2 keturunan dari BRA maryam?

  13. Ravie Ananda says:

    Maaf kami sempat mencari silsilah lengkap BRA Maryam dan KH. Sirad Brangkal, mungkin jika panjenengan datang langsung ke Brangkal bisa langsung menanyakan ke warga setempat dan kemungkinan masih banyak trah dari kedua tokoh tersebut.
    Terima Kasih

    Salam Pancasila..!

  14. riri says:

    seneng sekali rasanya bisa tau sejarah eyang buyut
    kakek buyut saya R. soemangun juga dimakamkan di pekuncen disebelah kanan makam amangkurat
    menurut nenek saya ..kami sepantar saya dan sepupu adalah masih trah ke 7 dari beliau
    saya ingat setiap lebaran atau mau puasa semua keluarga dari garis trah kakek pasti nyekar ke pekuncen sampai sekarang..
    kalau silsilah keluarga kami punya buku silsilahnya dari prabu amangkurat sampe ke akar akar cucu buyutnya yang banyak tersebar..

  15. tato sidayu gombong says:

    sekilas saya baca tentang brangkal dan roma, jadi teringat ketika ayah saya memberikan buku catatan tentang silsilah keluarga dari jalur bapak saya. yang menyebut dari Raden Baribin Grenggeng, Adipati Kaleng, Kyai Wirakerti dll. Adalah garis lurus leluhur saya. Kakek saya adalah lurah perdikan/putihan desa wonosigro kec. gombong, sebelum pemerintah belanda menghapus keistimewaan wilayah tersebut. Nama Kakek saya adalah Kyai Muhammad Kusna adalah lurah perdikan Patalan Wonosigro. tks

    • ravie ananda says:

      buat panjenengan yang merupakan keturunan langsung, mungkin panjenengan bisa menulis silsilah keturunan mbrangkal yang ada dan di masukkan ke koment di artikel ini, sehingga para pembaca yang sedang mencari silsilah detailnya bisa terbantu dengan data yang panjenengan ada.terimakasih.

  16. sofia purbo says:

    Kalau kita ke makam Brangkal, akan mudah ditemukan makam keturunan BRA Maryam dan Kyai Mohammad Syafii. Secara silsilah, ada makam putra Kyai M. Syafii yaitu Kyai Hasan Mukmin, berputra Kyai Abdusysyakur, berputra RM Yusuf Purbohadiwijoyo, berputra RM Slamet Purbohadiwijoyo. Nah, di dekat makam RM Yusuf Purbohadiwijoyo ada makam Kyai Muslim yg merupakan putra dari Kyai Siraj. Adapun Kyai Siraj adalah putra dari Kyai Hasan Mukmin/adik dari Kyai Abdusysyakur. Sementara kyai Siraj sendiri tidak dimakamkan di Brangkal, tetapi dimakamkan di Gunung Tidar Magelang dan di sana dikenal sebagai makam Kyai Brangkal. Keturunan laki2 dari Kyai Hasan Mukmin hanya dua itu yang lain putri, antara lain Nyai Salimah yang menikah dengan Sayyid Muhammad Al Baabud, yang mendirikan ponpes Al Iman di Purworejo dan dikenal dengan pesantren Mbulus, sekarang sebagai pengasuhnya Sayyid Hasan Al Baabud.

    • mukhtar elhanoun says:

      Senang sekali bisa ikut m’baca artikel & komentar-komentar di atas. Sangat bermanfaat.
      Saya Mukhtar, tinggal di Lampung.
      Saya numpang tanya kpd mas Ravie dan temen lainnya, terkusus mbak/bu Sofia Purbo;
      1. Posisi desa Brangkal itu tepatnya dimana dan route utk menujunya bagaimana?
      2. Kyai Syafi’i & Kyai Hasan Mukmin masing-masing hidup antara tahun berapa s.d. tahun berapa?
      3. Apakah Kyai Siroj itu sama dengan orang yang bernama Kyai Suryadi?
      Trimakasih sebelumnya.

    • ravie ananda says:

      sdikit masukan.pondok mbulus didirikan oleh mbah ahmad alim bulus azmatkhan…setelah beliau meninggal karena kosong…bupati cokronegoro purworejo memerintahkan syarif ali baabud untuk meneruskan di bulus.setelah syarif ali meninggal diganti oleh anaknya syarif muhammad. setelah meninggal diganti oleh anaknya syarif muhammad yang bernama syarif dahlan baabud. karena imam masjid agung purworejo kosong..oleh bupati purworejo wan dahlan dijadikan imammasjid agung.maka bulus kosong lagi.kemudian diteruskan oleh adiknya wan dahlan bernama wan aqil baabud.setelah meninggal diganti oleh anak wan aqil yakni wan hasan baabud. makam mbah ahmad alim ada di belakang masjid bersama makam wan muhammad. sedangkan makam wan dahlan di belakang masjid kauman purworejo.untuk lebih jelasnya silahkan baca dalam artikel pustaka bangun dalam web site ini.trimakasih.

  17. agus haryono says:

    BRA Maryam adalah istri dari Kiyai Muhammad yg menjadi Mufti di brangkal (yg bertugas menikahkan orang-orang dr Brangkal,setan putri dakunci,kedunglo,pucang,prapag,klopogodo,pekuncen kedungbulus,kedungwringin,pejaten dan pohkumbang.
    BRA Maryam sendiri merupakan adik dari Pangeran Diponegoro,putra dari Srisultan hamengkubuwono ke 3. wallahu’alam bishowwab…..

  18. agus haryono says:

    mohon maaf,maksudnya setanakunci…..bukan setan putri dakunci (salah ketik)

  19. sofia purbo says:

    Mas Muchtar, Dusun Brangkal berada di Desa Kelapa Gada. Sesudah jembatan Kemit, yang berada di jalur Kebumen ke arah Gombong , memasuki desa KedungPuji. Dari Kedungpuji ini lah ada pertigaan menuju Desa Kelapa Gada. Kyai Siroj, putra Kyai Hasan Mukmin setahu saya tidak punya nama Kyai Suradi, dan Kyai Siraj pernah tinggal di Kebarongan, Banyumas dan saat ini ada keturunan beliau ygmemiliki pesantren di Kebarongan.. Kyai Muhammad Syafii yg notabene adik ipar P. Diponegoro, hidup pada masa Perang Diponegoro, Jadi pada tahun 1800 an. Yg saya tau Kyai Abdusysyakur putra Kyai Hasan Mukmin wafat sekitar tahun 1920 an dalam usia 63 tahun.

    • mukhtar elhanoun says:

      Trimakasih banyak atas jawaban & keterangannya, bu Sofia Purbo….
      Oh iya bu, kalau boleh tau, apakah sebagian keturunan Kyai Hasan Mukmin ada yang berdomisili di daerah Panggel – Panjer?
      Sekali lagi trimakasih.

  20. kombes h.k.budiman says:

    Ass wr wb. Mas Ravie sy asli klopogodo. Yg sy ingat Brangkal adalah pusat ngangsu ilmu agama dr sel penjuru masyarakat gombong dan sekitarnya. Tmsuk ayah sy sering manggul sy ketika nyebrang kali yg airnya sdg meluap bserta jamaah lain. Gurunya a.l. kyai muslim kebarongan dan kyai bakri kedungbulus. Update terus mas sejarah Brangkal supaya lebih menyemangati adik2 kita memajukan daerahnya. Sy salut sama panjenengan selaku generasi muda yg CARE dg tanah kelahiran. Nuwun. Wass

  21. kombes h.k.budiman. S.IP says:

    Ass wr wb. Mas Ravie sy asli klopogodo. Yg sy ingat Brangkal adalah pusat ngangsu ilmu agama dr sel penjuru masyarakat gombong dan sekitarnya. Tmsuk ayah sy sering manggul sy ketika nyebrang kali yg airnya sdg meluap bserta jamaah lain. Gurunya a.l. kyai muslim kebarongan dan kyai bakri kedungbulus. Update terus mas sejarah Brangkal supaya lebih menyemangati adik2 kita memajukan daerahnya. Sy salut sama panjenengan selaku generasi muda yg CARE dg tanah kelahiran. Nuwun. Wass

  22. ravie ananda says:

    waalaikum salam wr.wb. nggeh mas.mohon masukan data jika panjenengan kagungan mengenai riwayat brangkal dan tokoh2 nya agar semakin lengkap masy.kebumen mengenal brangkal.nuwun

  23. Banu Fikri says:

    Ssalamu’alaikum wrwb

    Yth. Mas Ravie Ananda

    Menurut ortu saya, saya adalah cucu dari mbah brangkal (kyai Mahfudz bin Kyai Siraj), orang tua saya bernama Kyai Kadhim Sahifuddin (saya dan Bapak tinggal di Jakarta). Bapak saya pernah bilang akan memberikan nasab kluarga saya untuk tawasulan leluhur saya, krn beliau sudah sepuh sampai skrng garis nasab keturunan saya hilang entah kemana. Insya Allah akhir bulan Mei 2014 nanti sy akan cuti selama kurang lebih 8 hari skalian mencari garis keturunan saya (Napak Tilas), mohon petunjuk Mas Ravie kemana tempat pertama yang saya harus kunjungi. terima kasih

    • ravie ananda says:

      menurut saya, panjenengan langsung ke brangkal dahulu. untuk ziarah ke leluhur di sana. baik yang menurunkan anda maupun yang trukah mbrangkal. mohon ijin dan pangestu dalam hati..insyaalloh melalui beliau beliau yang telah hambadan suksma tersebut Allah Swt memberi petunjuk dan mempertemukan panjenengan dengan silsilah maupun orang yang masih menyimpan silsilah tersebut. karena di brangkal masih banyak sekali keturunan yang terkumpul. nuwun.

      • Banu Fikri says:

        Matur suwun Mas, Insya Allah akhir bulan Mei saya akan kesana (Mbrangkal), mudahan bisa menemukan silsilah keluarga saya. tk

  24. ana says:

    mas ravie, saya kebetulan masih keturunan eyang Purbanegara(bupati ambal).tapi saya ga punya fotonya..kalo ada tolong share photo eyang ya mas..trims

Leave a Comment