Sadang/ Sadeng Kebumen Kunci Pembuka Persemayaman Terakhir Gajah Mada

Aug 4th, 2012 | By | Category: Sejarah
Disinyalir peninggalan Megalitik letak seperti sengaja disusun

Disinyalir peninggalan Megalitik letak seperti sengaja disusun (Sadang- Kebumen)

Nama daerah Sadeng tersebut dalam kitab Nagarakertagama dan Pararaton. Di dalam Nagarakertagama disebutkan bahwa Raja Tribuwana memerintah, didampingi suaminya Kertawardana menumpas pemberontakan di daerah Sadeng dan Keta. Sedangkan dalam Pararaton disebutkan bahwa terjadi pesaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima penumpasan Sadeng. Tribuwana akhirnya berangkat sendiri menyerang Sadeng. Dalam riwayat lain disebutkan pula bahwa setelah Gajah Mada berhasil meredakan pemberontakan Sadeng, dia kemudian dilantik menjadi Patih Amangkubumi. Dia juga mengucapkan Sumpah Palapa pada pelantikannya itu.Riwayat ini telah lekat dan mendarah daging dalam ingatan para pecinta sejarah kejayaan Majapahit.  Begitu juga berbagai macam versi tentang sosok Gajah Mada baik dalam riwayat Jawa Timuran, Bali, maupun Jawa Barat.

Satu hal yang terlupa adalah penelusuran tentang daerah Sadeng itu sendiri. Hal ini sangat wajar, terlebih sosok Gajah Mada merupakan tokoh yang sangat misterius. Para sejarawan pun berlomba – lomba untuk menemukan kelengkapan riwayat biografinya daripada riwayat pelengkapnya seperti lokasi daerahnya dan lain – lain yang sesungguhnya bisa sedikit membantu dalam mengurai kegelapan sejarahnya itu.

Berangkat dari hal tersebut, penulis tergugah untuk menelusuri daerah Sadeng yang sesungguhnya mempunyai peran besar dalam perjalanan karir sang Maha Patih kerajaan Majapahit ini.

 

Beberapa Nama Sadeng

Nama Sadeng terdapat di beberapa daerah antara lain:

  1. Sadeng di wilayah Bogor Jawa Barat
  2. Sadeng di wilayah Gunung Pati di Semarang
  3. Sadengrejo di daerah Pasuruan
  4. Sadang di daerah Kebumen

 

Analisis kelayakan

  1. Sadeng di wilayah Bogor; menurut penulis, daerah ini sangat tidak sesuai dengan Sadeng yang dimaksud dalam riwayat Gajah Mada. Hal ini didasarkan pada logika bahwa hingga masa terakhir Gajah Mada menjabat sebagai Maha Patih, daerah Jawa Barat belum sempat ditaklukan Majapahit. Hal ini disebabkan karena diberhentikan dengan segeranya Gajah Mada sebagai Maha Patih akibat peristiwa perang Bubat. Sadeng Bogor kemungkinan merupakan wilayah dari kerajaan Sunda Pajajaran dengan rajanya Linggabuwana pada saat itu.
  2. Sadeng di wilayah Gunung Pati Semarang; menurut penulis, daerah ini juga bukan daerah yang dimaksud dalam riwayat, sebab hingga kini belum ada riwayat penemuan bekas bekas kejayaan pemerintahan kerajaan di daerah tersebut.
  3. Sadengrejo di wilayah Pasuruan; daerah ini juga sangat kecil kemungkinannya sebagai daerah  yang dimaksudkan dalam riwayat Gajah Mada. Jika di wilayah tersebut merupakan tempat terjadinya pemberontakan, tentunya sudah sejak dahulu ditelitioleh para pakar sejarah. Apalagi daerah tersebut sangat dekat dengan pusat pemerintahan Majapahit.
  4. Sadang di wilayah Kebumen; menurut penulis, Sadang di daerah inilah yang mempunyai kelayakan sebagai tempat yang dimaksud dalam riwayat Gajah Mada itu. Analisis objektif penulis didasarkan pada:
    1. Kata Sadeng berubah menjadi Sadang sebagai akibat proses kebahasaan, seperti juga yang terjadi pada kata Bre Wijaya yang kini berubah menjadi Bra Wijaya.
    2. Adanya situs Punden Majapahit yang lokasinya berada di tengah sawah Majapahit.
    3. Banyaknya tokoh – tokoh Majapahit yang menghabiskan waktu hidupnya di daerah Kebumen, bahkan berlanjut hingga masa kerajaan Mataram. Beberapa tokoh tersebut antara lain; Senopati Majapahit Gajah Oling (makam di Gombong), Syekh Baribin/Panembahan Grenggeng (salah satu putra dari Brawijaya terakhir, makam di Grenggeng Gombong). Gajah Mada (Moksha di Panjer, kini berada dalam kompleks eks pabrik Mexolie/ Sarinabati Panjer kebumen), Petilasan Danang Sutawijaya/Panembahan Senopati (di Kaligending), Lumbung padi terbesar Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma (di Panjer), Pertabatan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Sultan Amangkurat I dan Dipanegara (di Panjer), Pamokshan Singapatra di Kebumen, Petilasan Untung Surapati (di Karanggayam), Makam Pangeran Bumidirjo (di Kutowinangun), dan masih banyak lagi lainnya.
    4. Peristiwa perjalanan ke barat dalam rangka pelamaran putri Raja Pajajaran oleh Kerajaan Majapahit tentunya melalui jalur Urut Sewu Kebumen yang sejak dahulu kala telah dikenal sebagai jalur utama penghubung berbagai daerah di pulau Jawa khususnya di wilayah selatan. Artinya wilayah Kebumen yang pada waktu itu kemungkinan memiliki nama lain seperti misal Panjer, Sadeng, Galuh/Sigaluh dan lain – lain telah dikenal oleh Majapahit.
    5. Adanya bekas Asistenan jaman Belanda di wilayah Sadang Wetan yang membuktikan bahwa di daerah tersebut pasti memiliki keistimewaan tersendiri, sebab telah menjadi pola dari Belanda dalam tiap mendirikan tempat pemerintahan dan tempat – tempat pentingnya pasti selalu menempati wilayah yang merupakan bekas kejayaan masa lalu nusantara.
    6. Kata Pemberontakan dalam konteks Pemberontakan Sadeng, bisa diartikan sebagai subjektifitas kedaerahan mengingat kitab tersebut adalah kitab yang ditulis oleh wangsa atau penguasa yang dominan pada waktu itu. Artinya ada kemungkinan juga bahwa Sadeng sebetulnya merupakan wilayah mancanegara dari Majapahit atau kerajaan tersendiri yang berusaha ditaklukan oleh Majapahit. Karena melakukan penolakan atau perlawanan, maka Sadeng kemudian dianggap sebagai pemberontak. Sebuah wilayah atau pemerintahan berani melakukan pemberontakan pastinya telah memperhitungkan kekuatan pihak yang akan diberontak, artinya Sadeng telah memperhitungkan kekuatan Majapahit yang saat itu telah menjadi kerajaan yang besar, dapat diartikan juga bahwa Sadeng bukanlah wilayah dengan kekuatan yang kecil.

Penelusuran penulis bersama tim independent terhadap artefak – artefak atau prasasti yang mulai membuahkan hasil semoga makin menemukan titik terang, sehingga bisa menambah kuat anak kunci dalam membuka gerbang kokoh misteriusnya Gajah Mada, seorang Maha Patih yang mempunyai cita – cita luhur melebihi sang raja. Semoga Sang Gajah Mada alias Sabda Palon, merestui dan segera menuntun kita semua dalam menemukan anak kunci tersebut, sebab telah saatnya wahyu Pancasila mendunia kembali bersemayam di bumi Nusantara untuk mendamaikan dan meredam Perang Dunia Ketiga atau Perang Agama. Wahyu Pancasila inilah reinkarnasi Sumpah Palapa Gajah Mada 700 tahun yang lalu, sesuai dengan Jangka para Leluhur Pandita Ratu masa lalu, bahwa Gantining Urubing Pemimpin Negara ing Wahyu iku saben 700 tahun. Rahayu. (Oleh: Ravie Ananda – Kebumen, Jumat Wage 03 Agustus 2012)

Ravie Ananda

"Fakta dan data sejarah akan datang seiring pudarnya sejarah itu sendiri, karena pada hakikatnya sejarah adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa dipungkiri sebagai pohon semesta yang kokoh berakar. Alam memiliki mekanisme ajaib dalam memunculkan kebenaran seperti juga masa depan yang menunjukkan jalannya sendiri" Ravie Ananda

Artikel Terkait:

Pabrik Garam Belanda di Desa Sadang Kulon, Sadang - Kebumen,...
Teatrikal Hari Pahlawan 10 November 2012
Tradisi BARITAN Festival Selamatan Kemakmuran Ternak Asli Mi...
Jembatan Renville Panjer - Kebumen dan Pelurusan Prasastinya
Tags: , , ,

9 Comments to “Sadang/ Sadeng Kebumen Kunci Pembuka Persemayaman Terakhir Gajah Mada”

  1. jadi says:

    sabda palon = gajah mada ??? oww…?????? nngg…piye jal..??

  2. Sadeng yang dimaksud dalam Negarakretagama, terletak di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
    Kerajaan Sadeng, Awal Kehidupan Politik di Kabupaten Jember
    Oleh : Indra G Mertowijoyo
    Dalam Kakawin Negarakretagama, disebutkan, jauh sebelum pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (Kerajaan Majapahit), di daerah Jember atau tepatnya di kawasan Kecamatan Puger, pernah berdiri kerajaan kecil. Kerajaan yang menurut Negarakretama terletak di sekitar muara Sungai Bedadung ini, oleh Mpu Prapanca, disebut Sadeng.
    Kerajaan Sadeng ini akhirnya hancur dan musnah setelah pasukan Majapahit, pada masa pemerintahan Prabu Tribuwana Tunggadewi (1328-1350), menumpas habis. Penyerbuan tentara Majapahit ke Kerajaan Sadeng, yang dikenal dengan nama ekspedisi Pasadeng ini dipimpin oleh Patih Gajah Mada pada tahun 1331 AD (Anno Domini).
    Dari penjelasan Kitab Negarakretagama, yang selesai digubah oleh Mpu Prapanca, pada bulan Aswina1287 Saka (September Oktober 1365, hal. 299), setidaknya ada gambaran, bahwa di wilayah Kabupaten Jember pada masa itu telah terjadi peristiwa heroik, dimana masyarakat Sadeng (baca: Kabupaten Jember) melakukan perlawanan atas agresi Majapahit.
    Penjelasan Negarakretagama ini juga menunjukkan, meski pada saat itu Kota Jember sendiri belum menjadi pusat kegiatan budaya dan politik, namun untuk beberapa daerahnya yang saat ini menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Jember, pernah menjadi pusat kegiatan politik atau pemerintahan. Bukti adanya kegiatan budaya dan politik di wilayah Kabupaten Jember ini, bisa dilihat dari serangan Majahapit atas Sadeng, negara kecil yang terletak di kawasan pantai selatan, Kecamatan Puger.
    Majapahit sebagai negara besar, agaknya tidak ingin melihat Sadeng menjadi penghalang bagi cita-citanya dalam memperluas wilayah kekuasaannya. Lebih dari itu, Majapahit juga tidak ingin melihat Sadeng, yang letaknya tidak jauh dari ibukota Majapahit, tetap menjadi negara berdaulat, karena akan mengurangi kebesarannya.
    Karena itu dengan segenap kekuatannya, Tribuwana Tunggadewi berusaha menurunkan pasukannya dalam jumlah besar untuk menghancurkan Sadeng. Hebatnya lagi, pada penaklukan Sadeng yang dikenal dengan nama Pasadeng tersebut, pasukan Majapahit di bawah komando langsung seorang panglima terkenal, bernama Patih Gajah Mada.
    Kitab Negarakretagama, pada pupuh XLIX, mencatat peristiwa Sadeng dengan candrasengkala api memanah hari (1253), atau 1331 AD, Sirna musuh di Sadeng. Sedang dalam Serat Pararaton, mencatat peristiwa Sadeng dengan candrasengkala kaya bhuta non daging (Tindakan Unsur Melihat Daging), 1256 Saka. Baik Negarakretagama maupun Pararaton menyebut peristiwa Sadeng bersamaan dengan penundukan Keta di Panarukan, Situbondo.

  3. Kebumen2013.com says:

    Ditinjau dari sisi Geologis, Kebumen merupakan daerah tertua dalam proses pembentukannya. Daerah ini merupakan daerah Subduksi yang awalnya merupakan dasar samudra yang kemudian muncul sebagai akibat terjadinya tumbukan dua lempeng bumi pada 117 juta tahun – 60 juta tahun yang lalu, yakni lempeng benua Eurasia dan lempeng samudra Hindia. ….

    selanjutnya… http://batumulialukula.com/

  4. saefullah says:

    sekedar sumbang aspirasi : dengan mempertimbangkan letak geografis Kerajaan Blambangan, situs Dawarwulan di Sempol Kabupaten Jember, Situs Pangeran Puger,tepian Sungai Bedadung, dekat dan masih lemahnya kendali Majapahit Timur (Lumajang dan sekitarnya) di bawah Wiraraja(Lunajang), berbagai temuan kuno kerajaan (keris, mata tombak, guji, patung sapi di kawasan Ledokombo-Jember serta perkiraan usianya) di hampir seluruh kawasan Jember, Kawasan SADENG dimaksud lebih mendekati/ BERLOKASI DI KECAMATAN PUGER.

  5. ravieananda says:

    terimakasih atas sumbang aspirasinya. melihat data peta kuno belanda, nama – nama wilayah di timur juga ada di barat. termsuk perpindahan mataram kuno yang awalnya di jawa tengah kemudian baru ke jawa timur dan kemudian mengembangkan kerajaan kerajaan…termasuk juga candi candi. penelitian memang harus bersumber dari berbagai macam, sehingga bisa terbaca faktor2 istana sentris dan faktor lainnya. perihal situs, selama ini di mana mana masih standar yakni pola empiris yang kemudian di bakukan.

  6. Setyo Wardoyo says:

    Ada yang tahu nama Adipati Sadeng pada saat peristiwa itu? Mohon bantuan. Trm ksh.

    • ravie ananda says:

      Dalam ranah telaah sejarah baik Nagarakertagama maupun Pararaton ternyata merupakan kaya baru, yang lahir jauh setelah kurun kejadian objek cerita, sehingga keduanya pun menempati kedudukan sebagai data sekunder ditinjjau dari validitas.

      Bahkan epos kerajaan-kerajaan besar di wilayah timur yang juga sepakat bahwa cikal bakalnya merupakan perpindahan Mataram kuno yang awalnya dari Jawa Tengah hingga kini belum ada yang mampu menguak cikal bakal kelahiran Mataram kuno Jawa Tengah sebagai pendahulunya.

      Jadi ketika ada hal baru baik temuan situs maupun alur sejarah yang minim kesamaannya dengan kisah yang telah umum disepakati itu merupakan hal yang sangat wajar dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi kuat seperti sejarah yang telah ada terkait dengan tempat-tempat yang disebutkan di Kebumen didukung oleh data geologi yang telah diakui dunia tentang ketuaan wilayah tersebut yang jika dikembangkan penalarannya dimana daerah yang telah ada menjadi daratan terlebih dahulu disitu pasti muncul bibit-bibit cikal bakal kehidupan, hal ini dibuktikan dengan penemuan purbakala yang umur nya jauh lebih tua dibanding dengan peradaban candi-candi.

      Konsep ini sejalan dengan teori SANGKAN ANTARA LAN PARANING DUMADHi serta teori evolusi bumi dan kehidupan.

    • Andre Joelz says:

      saya mohon bantuan juga,,,siapa nama bojone senopati sadeng,,,,

  7. fadly says:

    “yang utama..tak baik ribut mempermasalahkan kisah moksa gajah mada.”………….
    “aku..diam.”

Leave a Comment