Soedarman alias Darmansyah Pemuda istimewa dari Kebumen
Soedarman alias Darmansyah Pemuda istimewa dari Kebumen

Masa kependudukan Jepang di Indonesia di satu sisi memberi arti penting dalam aspek pelatihan militer bagi pemuda Indonesia, termasuk di Kebumen. Seleksi PETA di Kebumen berlangsung di Gedung Gembira (dahulu Pabrik Gula Panjer yang pada masa Perang Dunia I menjadi markas tentara Australia). Para pemuda yang terpilih dalam seleksi masuk menjadi anggota PETA tetapi terlalu muda usianya, kemudian dipisahkan dan dikumpulkan di Magelang (di sebelah Selatan alun – alun Magelang menempati gedung bekas MOSVIA/Sekolah Bupati) untuk dididik khusus dalam kesatuan Tokobetshu Sinentai (Pemuda Istimewa). Dari kabupaten Kebumen hanya terpilih satu orang yang masuk dalam Tokobetshu Sinentai yaitu Darmansyah (terakhir menjabat sebagai Camat Pejagoan).

 

Satu pasukan Tokobetshu Sinentai terdiri dari 40 orang. Pendidikan dilakukan selama tiga bulan dengan materi Ilmu Kemiliteran Tanpa Senjata. Pelatih Militer sekaligus Pemeriksa/Pengawas yang terkenal saat itu adalah Obata Sang, seorang ahli Sumo Jepang. Fungsi dari Tokobetshu Sinentai adalah untuk cadangan pasukan Zibakutai (Barisan Berani Mati) yang bermarkas di Candi Mendut.

 

Setelah dididik selama 3 bulan, para pemuda Tokobetshu Sinentai gagal dikirim dan dipulangkan ke kabupaten masing – masing karena alasan utama mereka membantu orang tua untuk menggarap sawah yang terbengkalai selama mereka dilatih, sedangkan hasil panennya untuk kepentingan Jepang.

 

Tidak lama setelah para pemuda Tokobetshu Sinentai dipulangkan ke kabupaten masing – masing, Jepang mengadakan pelatihan lagi dengan nama Nomin Senentai (Pemuda Pertanian). Pendidikan berlangsung selama 3 bulan di tempat yang sama (di Magelang). Materi yang diajarkan selain Kemiliteran adalah Pertanian. Pelatih Kemiliteran adalah Obata Sang, sedangkan pelatih – pelatih pertanian berasal dari Indonesia. Dari kabupaten Kebumen terpilihlah dua orang pemuda yaitu Darmansyah (bekas Tokobetshu Sinentai) dan Darsu (Terakhir menjabat sebagai Kepala Administrasi Sekolah Teknik Kebumen).

 

Seinendan Di Kebumen

Tidak seperti Romusha (tenaga kerja paksa) pada umumnya, Seinendan kabupaten Kebumen terpilih menjadi Seinendan Romusha Teladan untuk percontohan yang kemudian diikutkan dalam program Romusha di Banten selama tiga bulan. Jika Romusha biasa tidak dipulangkan oleh Jepang dan cenderung diperlakukan secara kejam, Seinendan Romusha Kebumen diperlakukan sangat istimewa dan dipulangkan setelah tiga bulan menjadi Seinendan Romusha Percontohan.

 

Di setiap desa di seluruh wilayah kabupaten Kebumen dipilih sepuluh pemuda yang sehat dan kuat untuk dijadikan Seinendan. Pelatihan Seinendan diadakan seminggu sekali di desa masing – masing. Pemimpin Seinendan Kecamatan dinamakan Sonsidoin. Terdapat 300 Seinendan di Kecamatan Kebumen (30 desa) di bawah pimpinan dan kepelatihan Sonsidoin Darmasyah. Kensidoin (pimpinan Seinendan tingkat kabupaten) Kebumen dijabat oleh Marsum. Dalam setiap bulan diadakan latihan bersama Seinendan tingkat kabupaten yang diadakan di alun – alun Kebumen. Latihan baris – berbaris dipimpin oleh Sonsidoin Darmansyah yang juga diperbantukan pada Seinendan tingkat Kabupaten. Selain materi baris – berbaris, Seinendan juga dibekali materi Pertanian.

 

Pada masa Perang Kemerdekaan I, selain bekerja sebagai Pamong Praja Kawedanan Kota Kebumen, Darmansyah ikut aktif dalam Perjuangan Badan Keamanan Rakyat (BKR) kota Kebumen. Ia juga ikut dalam pertempuran di Magelang, pertempuran front Semarang Timur ngablaksari dan Genuk, serta di daerah sekitar Candi Karanganyar Kebumen. Selain bertempur langsung menghadapi musuh, Darmansyah juga bertugas sebagai pencari informasi. Dari BKR, Darmansyah kemudian pindah ke Badan Perjuangan Barisan Banteng 45 cabang Kebumen dengan Pimpinan Pusat Dr. Mawardi dan Markas Besar komando di Surakarta. Ia diangkat menjadi Komandan Kompi II, pimpinan R. Moh Syafi’ie. Teman seperjuangan Darmansyah antara lain; Ramelan Darsomarto (Pensiunan Guru SD Ngaran Kutowinangun), Wagiman Alias Pringgo (Pensiuan P.U. Bruno), Peltu Sukirman (Purn, ABRI – AD), dan Krigo (Sekdes Sumberadi).

 

Pada masa Agresi Militer Belanda II, Darmansyah menggabungkan diri pada O.D.M. (Onder Distrik Militer) Kota Kebumen yang pada waktu itu dikomandani oleh Lettu DS. Tjokrowardoyo hingga penyerahan kembali kedaulatan RI pada Desember 1949 (KMB). Darmansyah menjadi anggota staf O.D.M. dan bertugas memberikan suplai makanan pada tentara  RI setelah selesai bertempur. Akhirnya ia ditarik kembali sebagai pegawai Pamong Praja kantor Kawedanan Kebumen pada tanggal 7 desember 1949 serta SK. O.D.M. Kebumen Kota Pada tanggal 4 Desember 1949 no. 275/4 dengan SK. Pemberhentian O.D.M. No. 1176/org/45-psl pada pukul 12.00 wib.

 

Soedarman alias Darmansyah, Pria kelahiran Kebumen 7 November 1926 ini terakhir menjabat sebagai Camat Pejagoan Dati II Kab. Kebumen dan pensiun dengan SK. Mendagri tanggal 30 April 1983. Nomor SK. 813.382.3-1410 Penmud.Tata Praja (III/a). Ia tutup usia pada tahun 2012 dengan usia 86 tahun.

Oleh: Ananda. R – Kebumen, Sabtu Pahing 9 Maret 2013

http://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2013/03/Soedarman-alias-Darmansyah-Pemuda-istimewa-dari-Kebumen-826x1024.jpghttp://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2013/03/Soedarman-alias-Darmansyah-Pemuda-istimewa-dari-Kebumen-140x140.jpgAnanda. RSejarahbuku sejarah kebumen,catatan sejarah kebumen,Darmansyah Kebumen Saksi Sejarah,saksi sejarah,Saksi Sejarah Kemerdekaan Indonesia,tempat-tempat bersejarah di kebumenMasa kependudukan Jepang di Indonesia di satu sisi memberi arti penting dalam aspek pelatihan militer bagi pemuda Indonesia, termasuk di Kebumen. Seleksi PETA di Kebumen berlangsung di Gedung Gembira (dahulu Pabrik Gula Panjer yang pada masa Perang Dunia I menjadi markas tentara Australia). Para pemuda yang terpilih dalam seleksi...Kembalinya jati diri Bangsa Indonesia yang berpancasila