Kompleks Ruko Pasar Tumenggungan Kebumen, kini areal parkir timur, adalah kantor Polisi pada awal kemerdekaan, Tempat pembentukan BKR Kebumen
Kompleks Ruko Pasar Tumenggungan Kebumen, kini areal parkir timur, adalah kantor Polisi pada awal kemerdekaan, Tempat pembentukan BKR Kebumen

Dalam suasana siaga menghadapi berbagai kemungkinan sebagai konsekuensi dari Proklamasi 17 Agustus 1945, maka pada tanggal 23 Agustus 1945 keluarlah Seruan Presiden RI sebagai berikut:

Saya berharap kepada kamu sekalian, hai prajurit – prajurit bekas PETA, Heiho, dan Pelaut serta pemuda-pemuda lain, untuk sementara waktu, masuklah dan bekerjalah pada Badan Keamanan Rakyat. Percayalah nanti akan datang saatnya kamu dipanggil untuk menjadi prajurit dalam Tentara Kebangsaan Indonesia…

Berdasarkan seruan Presiden tersebut, segenap jajaran pemerintahan di daerah segera mengadakan pertemuan untuk membahas dan mengambil langkah – langkah lanjutan dengan berpedoman dan memperhatikan petunjuk yang telah digariskan dari tingkat atasnya, antara lain:

  • Badan Keamanan Rakyat (BKR) ditempatkan dalam wadah Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKP) yang dibina oleh Komite Nasional Indonesia (KNI) di daerah – daerah.
  • Tugas BKR adalah menjaga keamanan rakyat setempat.

 

Rakyat terutama pemuda para bekas prajurit PETA, Heiho, KNIL, Pelaut serta pemuda lain menanggapi dan menyambut baik Seruan Presiden dengan perasan lega, karena wadah untuk berjuang telah jelas tersedia. Pembentukan BKR di Kedu Selatan khususnya di Kebumen tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di daerah – daerah lain. Pembentukan melalui berbagai proses dan melalui sejumlah tahapan. Di daerah tingkat kabupaten diadakan musyawarah koordinasi antara bekas Opsir Peta yang tertinggi pangkatnya dengan Bupati dan Kepala Polisi Negara Kabupaten untuk memecahkan berbagai masalah guna melaksanakan Seruan Presiden tersebut, dimana hasilnya sebagai berikut:

  1. Segera diadakannya pemanggilan kepada para bekas prajurit PETA, Heiho, Pelaut, KNIL, dan pemuda lain di kampung – kampung atau desa – desa, agar berkumpul pada tanggal dan tempat yang telah ditentukan.
  2. Pemanggilan dilakukan oleh Camat ditujukan kepada Kepala Desa/Lurah setempat melalui Kurir Khusus yang pada tiap hari membawa surat-surat dari kecamatan ke desa/kelurahan. Yang dimaksud dengan Kurir Khusus adalah pamong desa yang secara bergiliran dari desanya, tiap hari berdinas jaga (piket) di Kantor Kecamatan, yang sekaligus menjadi Rumah Dinas Camat. Dengan cara ini, berita panggilan cepat sampai pada alamat yang dituju, meski di pelosok dan gunung – gunung sekali pun. Cara pemanggilan itu ditempuh berhubung keterbatasan jumlah radio saat itu.
  3. Mengenai konsumsi BKR di tingkat Kabupaten menjadi tanggung jawab Bupati selaku Ketua BPKKP Kabupaten, Wedana untuk tingkat Kawedanan, dan Camat untuk tingkat Kecamatan.
  4. Mengenai persenjataan, berasal dari pinjaman Kepala Polisi setempat.
  5. Mengenai akomodasi, sejumlah gedung yang ada milik siapa pun sementara waktu boleh digunakan oleh BKR.

 

A.   BKR Prembun

Pembentukan dan markas BKR di Prembun mengambil tempat di rumah Ibu Bantar, seorang penduduk setempat (hingga BKR menjadi TKR). Setelah TKR Ki IV Batalyon III Resimen 14/ Moekahar resmi terbentuk, markas pindah di gedung bekas Pabrik Gula Prembun (sekarang menjadi Polsek Prembun). Pembentukan BKR Prembun dipimpin oleh eks Sersan KNIL Soedirman dan eks Sersan Heiho Soegiarto. Para pemuda bekas prajurit PETA, Heiho, KNIL, Pelaut, dan pemuda lainnya yang bertempat tinggal di sekitar Prembun mulai dari Kecamatan Prembun hingga Kecamatan Mirit diminta untuk mejadi BKR.

Pembentukan BKR Prembun dihadiri oleh:

  1. Eks Bundancho Saterdjan
  2. Eks Bundancho Soeprapto
  3. Eks Bundancho Ponirin
  4. Eks KNIL Soehardjo
  5. Eks KNIL Soekandari

 

Jumlah pemuda yang mendaftar BKR Prembun lebih banyak pada hari berikutnya dibandingkan pada hari pertama, hingga  mencapai lebih kurang 1 Kompi dengan kekuatan 100 orang anggota. Eks Heiho Soegiarto terpilih menjadi Komandan Pasukan (sejak kepulangannya dari Butai ke kampung halamannya, Soegiharto langsung menghimpun pemuda-pemuda baik bekas prajurit maupun bukan untuk diajak menjadi pasukan di bawah pimpinannya).

Bekal anggota BKR Prembun diselenggarakan oleh Wedana Prembun dengan bantuan Ibu-ibu Perwari dan dari organisasi wanita lainnya. Mereka menyelenggarakn dapur umum guna menyediakan “Nuk” (nasi bungkus) bagi pasukan BKR. Senjata BKR Prembun lumayan banyak. Senjata-senjata tersebut berasal dari hasil melucuti tentara Jepang yang ada di gedung bekas Pabrik Gula dan pinjaman Polisi Prembun. Senjata tajam berupa keris, tombak dan bambu runcing juga dimiliki oleh BKR Prembun.

Tempat pendaftaran BKR Prembun kebanyakan menggunakan tempat-tempat yang pada masa Jepang dihuni oleh prajurit-prajurit PETA. Pakaian BKR Prembun sebagian berseragam PETA, sebagian kecil berseragam Heiho dan sebagian lagi berpakaian campuran milik sendiri. Pada BKR Prembun berlaku Komandan Tunggal, artinya langsung atas komando dari Pimpinan BKR. Hal ini berlaku hingga seksi-seksi (peleton) terbentuk.

 

B.   BKR Kutowinangun

Pembentukan BKR Kutowinangun bertempat di Kawedanan Kutowinangun dipimpin oleh eks Shodancho Eri Soepardjan. Pada waktu itu hadir pula:

  1. Eks Shodancho Goenoeng
  2. Eks Bundancho Marsoem
  3. Eks Bundancho Aboe Soejak
  4. Eks Heiho Bawoek
  5. Eks Heiho Saimin

 

Satu Kompi BKR Kutowinangun berhasil dibentuk dan dipusatkan di Sekolah Muhammadiyah, serta sebagian lain di SDN Kutowinangun (menjadi asrama BKR, asrama TKR, asrama TRI Ki. III Batalyon III Resimen 14/ Moekahar Div. V, dan asrama TNI Ki. I Batalyon 64 Resimen 20 Div. III/ Diponegoro). Eks Shodancho Goenoeng dipilih sebagai pemimpin, sedangkan eks Shodancho Eri Soepardjan dapat panggilan masuk BKR di Magelang.

Pada waktu itu eks Shodancho Chanafie datang terlambat karena beberapa hari ditahan oleh Jepang di Bogor. Sementara itu, eks Shodancho Soepardiyo yang baru saja dari Bogor langsung menuju ke kampungnya di Tanjung Meru dan sempat menjemur kedelai hasil panen. Namun setelah mendengar berita tentang adanya pembentukan BKR Kutowinangun, dia segera ke Markas BKR Kutowinangun. Dengan pertimbangan sendiri bahwa dirinya kemungkinan akan lebih bermanfaat dan lebih tepat bila ke BKR di ibukota Kabupaten, maka eks Shodancho Chanafie dan eks Shodancho Soepardiyo kemudian pindah dan masuk ke BKR di Kebumen.

Pembentukan BKR Kutowinangun didukung oleh Wedana Kutowinangun sedangkan dapur umum diselenggarakn oleh Ibu-ibu Perwari yang menyediakan “Nuk”.

Pakaian BKR Kutowinangun ada tiga macam yaitu Hijau PETA, Khaki Heiho, dan campuran. Persenjataan BKR Kutowinangun masih sangat minim, namun semangat mereka tetap tinggi.

 

C.   BKR Kebumen

Kepala Polisi Kebumen Ajun Komisaris Soedjono sejak menerima berita radio tentang panggilan masuk BKR, bersama Wedana Kota Kebumen Soembono, terjun langsung dalam menghubungi bekas Opsir PETA yang berkedudukan di kota Kebumen agar secepatnya membentuk BKR Kebumen. Hanya dalam waktu singkat, eks Shodancho Dimyati (terakhir menjabat sebagai Lurah Kebumen), eks Chudancho Soedradjat dan eks Chudancho M. Sarbini dapat dihubungi.

 

Pada tanggal 23 Agustus 1945 diadakan pembentukan BKR Kebumen bertempat di Kantor Polisi Kebumen (kini menjadi kompleks Ruko sebelah Timur Pasar Tumenggungan) dipimpin oleh eks Chudancho Soedradjat dan mendapat pengarahan dari eks Chudancho M. Sarbini. Hadir pula pada saat itu:

  1. Eks Shodancho Soediyono
  2. Eks Shodancho Soegondo
  3. Eks Shodancho Dimyati
  4. Eks Bundancho Pratedjo
  5. Eks Bundancho Koesni
  6. Eks Bundancho Kliwon
  7. Eks Bundancho Soepadi
  8. Eks Bundancho Soerodjo
  9. Eks Bundancho Soemarsono
  10. Eks Bundancho D.S. Iskandar
  11. Eks Bundancho Soekardi
  12. Eks Bundancho Karsadi
  13. Eks Bundancho Karsidi
  14. Eks Bundancho Soepyan
  15. Eks Bundancho Soerip
  16. Eks Bundancho Soemari
  17. Eks Bundancho Soediro
  18. Eks Bundancho Soepardi
  19. Eks Bundancho Marikin
  20. Eks Bundancho Nasikun
  21. Eks Bundancho Soeparman
  22. Eks Bundancho Djoefri
  23. Eks Gyuhei Badroen Asmara
  24. Pemuda Satiyo
  25. Brigadir Polisi Soepodo dan lain-lain hingga terhimpun 1 Kompi

 

Eks Shodancho Soepardiyo, eks Shodancho Chanafie dan eks Shodancho Soemrahadi (Mayor Jenderal (Purn.) Soemrahadi) datang menyusul setelah tiba kembali dari Bogor dan sempat beberapa hari singgah di Kutowinangun.

Bupati Kebumen Said Prawirosastro yang juga berasal dari Kebumen menyerahkan satu koper uang Jepang yang masih berlaku saat itu kepada Perwira Logistik BKR eks Shodancho Chanafie untuk membiayai BKR Kebumen.

Dapur umum diadakan oleh Ibu-ibu Perwari Kebumen  di bawah pimpinan Ibu Goelarso dan Ibu Mangkoe Soemitro yang dipusatkan di Gedung Sekolah Cina HCS (Holland Chinese School) yang terletak di jalan Ahmad Yani (dahulu termasuk jalan Kutoarjo; dekat Tugu Lawet/sekarang SMA Masehi/Politeknik Darma Patria).

Kepala polisi Kebumen, Ajun Komisaris Soedjono memberikan pinjaman senjata kepada BKR Kebumen berupa:

  • 5 pucuk pistol Buldok
  • 3 pucuk pistol Colt Kuda
  • 1 pucuk pistol Mauser
  • 24 pucuk senapan panjang polisi

 

Senjata tersebut merupakan kekuatan BKR Kebumen dalam menghadapi tugas dan berbagai kemungkinan yang akan terjadi, antara lain perlucutan senjata tentara Jepang di Kebumen dan di Sumpyuh.

Pakaian BKR Kebumen ada tiga macam yaitu sebagian besar Hijau PETA, sebagian kecil Khaki Heiho, dan campuran milik masing-masing.

 

D.   BKR Pejagoan

Atas pertimbangan terhadap Kawedanan Pejagoan yang letaknya berada di sebelah Kali Luk Ula, maka Pejagoan ditunjuk menjadi tempat pendaftaran anggota BKR bagi pemuda bekas PETA, Heiho, Pelaut, dan pemuda lain yang tinggal di sekitar Pejagoan.

Pembentukan BKR Pejagoan dihadiri pula oleh:

  1. Eks Shodancho Soeprapto
  2. Eks Heiho Soegito
  3. Eks Bundancho Tambeng
  4. Eks Bundancho Aifin

 

Para pemuda berdatangan mendaftar sehingga terhimpunlah pasukan sebesar kompi. Kegiatan pembentukan, pendaftaran, dan kesiagaan pasukan BKR dilakukan di pabrik Genteng Soka di Kebulusan.

Seperti halnya didaerah lainnya, bekal pasukan BKR Pejagoan diselenggarakan oleh Wedana Pejagoan. Pelaksanaannya dilakukan oleh Camat Pejagoan Daroesman dengan dibantu oleh Ibu-ibu Perwari Pejagoan.

Seragam BKR Pejagoan seperti halnya di BKR lainnya, sebagian Hijau PETA, sebagian kecil Khaki Heiho, dan sebagian besar lainnya campuran milik masing-masing.

BKR Pejagoan pada awalnya tidak memiliki senjata sama sekali. Mereka memiliki semangat yang tinggi untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan meski hanya bersenjatakan keris, tombak, pedang dan bambu runcing.

 

E.    BKR di Karanganyar

Pembentukan BKR di Karanganyar dilakukan melalui proses rapat terlebih dahulu di rumah eks Bundancho Bambang Widjonarko. Turut hadir dalam rapat tersebut:

  1. Wedana Karanganyar Hardjo Kartoatmodjo
  2. Eks Shodancho Moeryoeni
  3. Eks Shodancho Saparin Soeprayitno
  4. Eks Bundancho Soeprihatin Soendoro
  5. Eks Bundancho O. Wagiman
  6. Eks Bundancho Koedoes

 

Rapat memutuskan tentang waktu dan tempat pendaftaran masuk BKR untuk para pemuda baik bekas pajurit maupun bukan, yang tinggal di sekitar Karanganyar. Pada hari dan waktu yang telah ditentukan, berkumpullah para pemuda bekas prajurit PETA, Heiho, KNIL, dan lain-lain di kawedanan Karanganyar hingga mencapai satu kompi.

Bekal pasukan BKR Karanganyar dan dapur umum diselenggarakan oleh Wedana Karanganyar dibantu Ibu-ibu Perwari.

Senjata yang dimiliki BKR Karanganyar adalah bambu runcing dan berbagai jenis senjata tajam serta 5 pucuk senjata hasil dari pelucutan tentara Jepang yang berada di Karanganyar.

Seragam BKR Karanganyar seperti halnya di BKR lainnya, sebagian Hijau PETA, sebagian kecil Khaki Heiho, dan sebagian besar lainnya campuran milik masing-masing pemuda non prajurit.

 

F.    BKR di Gombong

Pembentukan BKR di Gombong dilakukan oleh para bekas PETA yang sejak dibubarkannya PETA pada 19 Agustus 1945 mereka tetap berkumpul dan siaga di kesatrian menempati kantin yang terletak di depan kesatrian. Mereka adalah:

  1. Eks Shodancho Soedarsono Bismo
  2. Eks Shodancho Slamet Soebyakto (Brindil)
  3. Eks Shodancho Soetjipto
  4. Eks Bundancho A.A. Djoerdjani
  5. Eks Bundancho Bagyoto
  6. Eks Heiho Soemarto Atmaji.

 

Gombong yang memiliki fasilitas militer lebih lengkap berhasil membentuk pasukan sebesar kekuatan 2 kompi. Anggota-anggota kompi tersebut antara lain:

  1. Eks Chuyak Bundancho Soembogo
  2. Eks Bundancho Soetrisno
  3. Eks Bundancho Soemardjo
  4. Eks Bundancho Soeparman
  5. Eks bundancho Soetiyono
  6. Eks Bundancho Soewarso
  7. Eks Gyuhei Soemarno
  8. Eks Gyuhei Sarmin
  9. Eks Gyuhei Soekarno
  10. Eks Gyuhei Soedarmin
  11. Eks Gyuhei Marsoem
  12. Eks Gyuhei Lawoek
  13. Eks Gyuhei Ponimin
  14. Eks Heiho Kasmin
  15. Eks Heiho Sombol
  16. Eks Heiho Solichin
  17. Eks heiho Soeyono

 

Pengarahan kepada Pasukan BKR Gombong disampaikan oleh Eks Chudancho M. Sarbini. Sedangkan eks Chudancho Kaslan Hoedyono Soekamto ditunjuk sebagai Pimpinan BKR Gombong.

Atas permintaan Wedana Gombong Sosroboesono, Ibu-ibu Perwari Gombong menyelenggarakan dapur umum untuk menyediakan Nuk bagi pasukan BKR Gombong.

Persenjataan BKR Gombong meminjam dari Kepala Polisi Gombong. Sebanyak 40 pucuk senjata pun dipinjamkan kepada Komandan Pasukan BKR Gombong.

 

Kebumen, Rabu Wage 14 Januari 2014
Oleh: Ananda. R

http://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2014/01/kompleks-ruko-pasar-tumenggungan-kebumen.jpghttp://kebumen2013.com/wp-content/uploads/2014/01/kompleks-ruko-pasar-tumenggungan-kebumen-140x140.jpgAnanda. RSejarahBadan Keamanan Rakyat Kebumen,catatan sejarah kebumen,Pertempuran di Kebumen,Saksi Sejarah Kemerdekaan Indonesia,tempat-tempat bersejarah di kebumenDalam suasana siaga menghadapi berbagai kemungkinan sebagai konsekuensi dari Proklamasi 17 Agustus 1945, maka pada tanggal 23 Agustus 1945 keluarlah Seruan Presiden RI sebagai berikut: Saya berharap kepada kamu sekalian, hai prajurit - prajurit bekas PETA, Heiho, dan Pelaut serta pemuda-pemuda lain, untuk sementara waktu, masuklah dan bekerjalah pada Badan...Kembalinya jati diri Bangsa Indonesia yang berpancasila